-Quasimodo-


Author : Salsabila Acha (@salsabilaaacha)
 
Genre : Sad, Angst, One Point of View
 
Length : One Shot
 
Cast : -Kim Seunghee (OC)
  – SHINee Kim Jonghyun
 
Disclaim : This story is mine 
 
Note : FF ini pernah di publish di blog pribadi saya. FF ini terinspirasi dari lagu SHINee Quasimodo. Enjoy reading 😀
 
 
Aku bukanlah seorang gadis yang spesial, menarik, ataupun gadis yang berharga.
Aku malah terlanjur dikucilkan oleh lingkunganku.
Dari kecil aku memang sangat sulit bergaul dengan orang lain.
Bahkan orang orang dekatku menganggapku sebagai anak yang memiliki keterbelakangan mental.
Aku tidak pernah bicara, atau menampakkan ekspresi kesenangan atau kesedihanku di depan orang lain.
Singkatnya, aku tidak seperti gadis remaja lainnya.
Aku tidak mempunyai teman, apalagi sahabat.
Aku tidak pernah mengerti apa itu rasa kasih sayang.
Aku juga tidak pernah mengerti apa itu jatuh cinta.
Yang aku tahu itu hanyalah suatu benda abstrak yang tidak dapat kita lihat, dengar, atau sentuh.
Itu tidak penting buatku.
Untuk apa aku penasaran dengan hal yang tidak nyata?
Sesuatu yang tidak dapat digambarkan dengan logika,
Menurutku hanyalah hal yang bodoh.
Setidaknya itulah yang kupikirkan dulu.
Berkali-kali aku dibawa ke psikiater.
Semua psikiater itu bilang kalau aku memiliki keterbelakangan mental.
Seluruh keluargaku putus asa.
Pada akhirnya mereka hanya pasrah dan menerima semua perkataan itu.
Dan menyerah untuk menyembuhkanku.
Tapi, tiba-tiba seseorang datang ke rumahku.
Menawarkan diri untuk merawatku. 
Seorang mahasiswa psikologi. 
Awalnya keluargaku ragu untuk menyerahkanku padanya.
Mereka tidak percaya dengan seorang mahasiswa yang masih sangat belia itu.
Tapi pada akhirnya, mereka menyerahkan kepercayaan mereka untuk merawatku.
Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa.
Yang jelas aku selalu melihat raut keputus-asaan dalam wajah mereka tiap melihatku.
Pertama kali aku melihatnya, ia biasa saja, tidak ada yang spesial dari dirinya.
Ia menyapaku ramah, “Annyeong Seung Hee-ssi. Jeoneun Kim Jonghyun imnida. Aku yang akan merawatmu. Kau tidak keberatan kan?”
Aku hanya menoleh singkat lalu menatap ke depan lagi.
Ia lalu tersenyum lembut, “Aku anggap itu sebagai jawaban iya.”
Aku tidak peduli. Terserah saja dia mau menganggap jawabanku iya atau tidak.
Setiap hari ia selalu datang menemuiku.
Ia membacakan cerita untukku, menyuapiku makan, sampai bernyanyi untukku.
Ia selalu menungguiku sampai aku tertidur pulas, barulah ia pulang.
Aku merasa aneh dengan diriku.
Biasanya aku tidak pernah tersenyum, menangis, marah, atau tertawa.
Tapi, tiap aku bersama dirinya aku bisa tersenyum, bahkan tertawa.
Dan kemarin, ia datang seperti biasa.
Menemuiku di balkon kamarku.
Aku tersenyum saat ia masuk.
Tapi ia membawa seorang gadis kali ini.
Senyumku hilang seketika.
Siapa dia?
“Annyeong Seung Hee-ssi. Jeoneun Park Eun Hye imnida,” ia menyodorkan tangannya.
Aku menoleh singkat lalu kembali menatap ke depan.
Ia menatap Jonghyun bertanya-tanya.
Jonghyun hanya tersenyum lembut padanya.
Lalu mulai bicara, “Seung Hee-ya dia ini yeojachingu-ku. Mulai sekarang, ia akan merawatmu bersamaku.”
Aku tersentak.
Aku menoleh dan menatapnya marah.
Aku lalu berdiri dan mendorong gadis itu kasar.
Ia terlihat terjatuh keras.
Jonghyun membantunya berdiri dan menatapku keheranan.
Aku lalu berlari keluar kamar.
Aku mengurung diriku di kamar ibuku.
Entah kenapa aku menangis.
Mungkin aku sekarang mengerti apa yang dinamakan jatuh cinta.
Rasanya sangat sakit.
Dan aku tidak pernah mau merasakan itu lagi.
Tadi, ibu bicara pada Jonghyun.
Ia menjelaskan kalau aku mungkin sedang jatuh cinta dengannya.
Dan aku mendengar sesuatu yang membuat dadaku terasa sangat sakit.
“Aku tidak mencintainya eomonim. Aku hanya menganggapnya sebagai pasienku. Lagipula aku hanya menyayanginya layaknya seorang dokter yang ingin menyembuhkan pasiennya,” ia berucap.
Ia lalu melanjutkan, “Aku takut semua ini bisa berjalan terlalu jauh eomonim. Jadi aku akan mengakhiri pekerjaanku setelah pertemuanku dengan Seung Hee hari ini. Jadi bisa dibilang ini adalah pertemuan penyembuhannya yang terakhir. Ia sudah banyak perkembangan, ia sudah bisa tersenyum, tertawa, bahkan marah padaku kemarin.”
“Jadi mungkin, aku hanya bisa merawatnya sampai sini.”
Ibuku hanya mengangguk pasrah.
Ia tidak bisa memaksa Jonghyun.
Tapi aku berharap ibu memaksa Jonghyun.
Aku tidak mau ia pergi.
Ia lalu berjalan menemuiku di balkon kamarku seperti biasa.
“Seung Hee-ya mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Kau ingin aku melakukan apa?”
Aku menunjuk gitar yang terletak di sudut kamarku.
“Ini? Kau ingin aku menyanyi?”
Aku hanya mengangguk lalu menundukkan kepalaku menahan tangis.
Aku tidak ingin kau pergi Jonghyun
Ia lalu melantunkan sebuah lagu.
Quasimodo.
Aku sudah tidak kuat menahan tangisku, aku lalu meneteskan airmataku.
“Eh? Wae Seung Hee-ya? Kau sedih ya mendengarkan lagu ini?” ia tersenyum lembut.
Aku memeluknya tiba-tiba.
Ia sedikit tersentak, namun ia membiarkanku
Ia membelai rambutku lembut, “Sudahlah, aku sudah berhenti bernyanyi. Kenapa kau masih menangis?”
Aku terus terisak dalam dekapannya.
Saranghae Kim Jonghyun, nan neol Saranghae
“Mianhae, aku tidak bisa menemanimu sampai kau tertidur hari ini. Aku harus bertemu Eun Hye. Kkalke.” ia tersenyum.
Aku tersenyum kecewa.
Haruskah ia pergi sekarang?
Ia beranjak dari kamarku dan pulang.
Aku mengikutinya.
Aku tidak ingin kehilangannya.
Aku melihat puggungnya yang berjalan di depanku.
Ia mulai menyebrangi jalan.
Aku melihat sebuah mobil yang melaju kencang tepat di depannya.
“Jonghyun-ah!” aku berteriak memanggil namanya.
Aku berlari dan mendorong tubuhnya.
Aku melihat ia jatuh tersungkur ke pinggir trotoar.
Beberapa saat kemudian aku melihat cahaya yang sangat silau di depanku.
Lalu aku merasakan sakit yang amat sangat.
Dan pada akhirnya semuanya gelap.
Hari ini semua orang datang ke rumahku dengan memakai baju hitam.
Jonghyun lalu melangkahkan kakinya menuju pusara dimana aku tertidur damai.
“Yoon Seung Hee, gomawo. Karena kau sudah menyelamatkanku, mengorbankan nyawamu, dan mencintaiku. Gomawo.”
Ia tersenyum lembut sambil meneteskan air matanya.
Jonghyun-ah, aku sekarang sudah sembuh.
Kau tahu? Sekarang aku bisa tertawa lepas, menangis, marah, atau berteriak sesukaku.
Sekarang aku berada di tempat yang sangat indah.
Dan yang paling penting, sekarang aku sudah mengerti apa itu kasih sayang.
Kasih sayang bukanlah hal yang dapat aku sentuh atau aku lihat.
Tapi hal itulah yang membuatku berani menyelamatkanmu dan mengorbankan diriku sendiri.
Jadi jebal, jangan lupakan kasih sayangku padamu.
Aku akan selalu melihat dan melindungimu dari sini.
Teruslah tebarkan kasih sayangmu pada semua orang.
Saranghae.
 
 
Image
 
 
THE END
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s