“MAPLE FOOL”



(Shin Jihye @jihye239)

Karakter:

1. Kyuhyun as Cho Kyuhyun

2. Leeteuk as Jungsoo

3. You as Yoon Saehi

4. Yoona as Yoona

Genre: Romance

CHAPTER I

Jika bisa, aku ingin memutar kembali jam pasir waktu.

Jika bisa, aku akan menggenggam erat tanganmu.

Jika bisa, tidak akan kulepaskan lagi.

Jika bisa… aku masih ingin menyukaimu…

————————————————————————————————-

<YOUR POV>

 

“Yoona, berjanjilah kau tidak akan mengatakannya pada siapa pun. Berjanjilah!”

“Hei, kau pikir aku ini teman macam apa? Aku tidak boleh mengatakannya, termasuk pada orang itu?”

“Tentu saja! Terutama pada orang itu. Kau mengerti?”

“Baiklah. Kau juga, jangan bersikap aneh ketika bertemu Donghae. Aku tidak ingin dia curiga. Jangan sampai gara-gara kau, ungkapan perasaanku padanya tidak menjadi sebuah kejutan.”

Aku tersenyum melihat sahabatku mengerucutkan bibirnya. Sesaat kemudian dia tersenyum manis dan mengelus punggung tanganku.

Aku menarik nafas dalam dan membuangnya jauh-jauh.

Untuk saat ini, biar hanya kau saja yang tahu, Yoona.

Perasaan ini tidak terlihat, tapi sangat bersinar dan indah. Seperti daun maple yang berguguran saat fall, tidak dianggap, namun sebenarnya sangat indah.

Dan aku ingin kau tahu.

***

“Saehi, tanyakan saja sendiri. Kenapa harus aku?”

“Kau tahu aku tidak punya keberanian. Ku mohon. Yoona, ku mohon.”

Kedua telapak tanganku menyatu di depan wajah. Hanya kau yang bisa kuandalkan, Yoona.

Yoona memandang wajahku sesaat, menggeleng, lalu menghentakkan kakinya sekali. Aku tahu, ini artinya dia menyerah. Bibirku menyunggingkan senyum kemenangan.

“Baiklah! Kali ini saja. Lain kali kau tanyakan sendiri.”

Aku nyaris bersorak mendengar jawaban Yoona. Segera ku bekap mulutku dengan kedua telapak tanganku.

Kaki kurusnya melangkah menghampiri sosok yang sedang duduk menyendiri di bangku kayu di sudut ruangan. Sekilas menoleh padaku, Yoona setengah mengacungkan tinjunya. Aku hanya bisa tersenyum memohon.

Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Yoona padanya, atau apa yang dia katakan pada Yoona. Dengan headphone bertengger di kepalaku – tanpa ada musik yang ku putar – sekali-sekali mencuri pandang pada Yoona yang berdiri di samping mejanya, sekali-sekali menangkap ekspresi wajahnya yang tanpa ekspresi mendongak pada Yoona. Orang itu, orang yang sangat kusukai, yang pertama kusukai.

Semua terasa sangat lama.

Satu menit…

Dua menit…

Lima menit…

Sepuluh menit…

Yoona! Apa saja sih yang kau bicarakan dengannya?

Yoona kembali!

“Bagaimana?” tanyaku tidak sabar.

“Dia pikir aku yang menyukainya.”

“Apa?” Aku sangat terkejut sampai setengah berteriak. Menyadari bahwa beberapa orang menoleh ke arahku, aku melirik ke arahnya, khawatir kalau-kalau dia juga mendengarku. “Yoona, lalu apa yang kau katakan?”

Mendudukkan dirinya di hadapanku, Yoona mengeluarkan sebatang coklat dari saku mantelnya.

“Aku kesal sekali padamu.”

“Yoona…” sahutku merajuk.

“Aku sangat kesal padamu, jadi kukatakan padanya, ‘temanku menyukaimu.”

“Ya Tuhan!” Aku benar-benar berteriak sekarang. Beberapa gadis berkacamata yang bergerombol di meja tidak jauh dari tempat kami seketika ber-shht menyuruhku diam. Aku memelankan suaraku. “Yoona, apa yang kau lakukan? Bagaimana ini? Aku benar-benar malu. Apa kau menyebutkan namaku? Hah?”

Aku mengguncang-guncang tangan Yoona, membuat coklat di tangannya terombang-ambing di udara.

“Begitulah.”

“Apa maksudmu dengan ‘begitulah‘?” Keningku mulai mengerut penuh ketidaksabaran, begitu juga tanganku yang terus mengguncang tubuh Yoona.

“Dia bilang… Dia tidak mengenalmu.”

Tanganku berhenti bergerak. Dan rasanya, hatiku juga. Aku benar-benar merasa lemas.

Yoona meletakkan coklatnya yang sudah setengah terbuka begitu saja.

“Sombong sekali. ‘Maaf, aku tidak mengenal temanmu’. Perkataan macam apa itu? Cho Kyuhyun, berani sekali kau. Lagi pula, kenapa kau menyukai orang seperti itu? Bukankah Jungsoo Sunbaenim jauh lebih baik? Kau gila sudah menolaknya,” katanya, seraya mengunyah coklat di mulutnya.

“Yoona, jangan bahas itu lagi,” kataku, semakin merasa lemas. “Apa boleh buat ‘kan? Bagiku, Jungsoo Sunbaenim hanya seorang senior yang kukagumi. Tidak lebih. Dia sangat pintar, tampan, dan terkenal di kalangan para gadis. Dia juga sangat baik padaku selama ini. Tapi, aku menyukai orang lain. Aku tidak mungkin menerimanya dengan perasaan seperti ini. Itu akan sama saja dengan membohonginya.”

Kami terdiam.

“Bodoh…” Yoona memungut kembali coklatnya.

Terdengar helaan nafas panjang kami berdua. Saling menatap, lalu tertawa.

“Tenang saja. Cho Kyuhyun itu pasti bodoh kalau tidak tahu betapa cantiknya kau.”

Aku tersenyum.                        

Kuharap kau benar, Yoona.

 

<JUNGSOO’S  POV>

 

Dia merebahkan tubuhnya yang kurus di atas tempat tidurku, setelah melemparkan tas hitamnya sembarangan ke lantai. Tanpa bergerak sesenti pun dari tempatku menyelonjorkan kakiku, kepalaku menoleh.

“Kau baru saja pulang?”

“Eung..” sahutnya lirih. Sikunya terlipat, tangannya menutupi kedua matanya. Nafasnya terdengar berat.

“Ada apa?” tanyaku, menutup Shakespeare-ku.

Anak itu tetap tidak menjawab. Novel itu kulemparkan begitu saja di sampingku, kemudian sambil melepaskan kaca mataku, ujung jari kakiku menyenggol lengannya.

“Ada apa, Kyu?”

“Aaargh…” Kedua telapak tangannya mengusap wajahnya. “Gadis yang kuceritakan padamu itu…”

Aku tercenung, lalu segera menggeser tubuhku penuh semangat menghampirinya. Akhirnya, anak ini mendapatkan jawaban cintanya.

“Gadis itu? Ah, yang itu?”

Dia mengangguk lemah.

“Kenapa? Kenapa? Kau akhirnya mengungkapkan perasaanmu?”

Dia menggeleng, sama lemahnya dengan anggukan sebelumnya.

“Dia menyukaiku.”

 Mataku melebar dan bibirku melengkungkan senyum cerah. Tapi, wajahnya tidak berubah sedikit pun. Matanya hanya sesekali berkedip sambil memandang langit-langit putih di atas.

“Hei, wajah macam apa itu? Bukankah harusnya kau senang? Wajah seperti Hyung ini.. ini.. yang seharusnya kau perlihatkan!” sahutku penuh semangat, sambil mengarahkan telunjuk ke wajahku yang tersenyum lebar.

“Tunggu sebentar. Dia mengatakannya padamu?”

Kyuhyun diam, lalu kembali menggeleng.

“Temannya yang mengatakannya.”

“Apa?” Mataku melebar lagi, kali ini dengan mulut melongo. Sedikit berdehem penuh wibawa, aku melanjutkan perkataanku. “Di kalangan para gadis, itu hal biasa, bukan? Dia pasti terlalu malu untuk mengatakannya. Sudah, dekati saja. Apa lagi yang kau risaukan? Jangan seperti aku,” Entah mengapa, suaraku melemah dengan sendirinya ketika mengatakan ini. Seperti hatiku juga.

“Ditolak gadis yang sangat kusukai karena dia menyukai orang lain, dan aku menyerah begitu saja. Ah, sekarang aku menyesal. Aku sangat menyukainya. Kau tahu, ‘kan? Ah, benar. Aku akan mengejarnya lagi! Mengapa aku menyerah begitu saja hanya karena dia menyukai orang lain? Bukankah orang itu belum tentu lebih baik dari pada Hyung-mu ini? Aku tampan dan disukai para gadis. Benar begitu ‘kan, Kyu?”

Aku berhenti. Dan mendapati anak itu memejamkan matanya.

“Kyu.. Kyu? Hyung-mu bicara panjang lebar dan kau tertidur? Kau pikir aku mendongeng?”

Ya. Aku benar-benar mengira dia tertidur.

 

 

 

CHAPTER II

<KYUHYUN’S POV>

 

Kakiku, hatiku, semua terasa sangat berat. Sandwich yang dibuatkan Eomma terlantar tanpa terselesaikan di atas piringku pagi ini. Ah, kataku dalam hati, sambil memegangi kepalaku yang sakit, seperti baru dihantam benda tumpul. Aku rasa sedikit memar.

“Apa masih sakit?” Dia meringis.

“Hyung sebaiknya belajar bagaimana caranya tidur tenang. Aku benar-benar tidak tahu kakimu terbuat dari apa. Apa kau sengaja menambahkan titanium ke kakimu, agar kau terlihat lebih tinggi?”

“Hei, hei. Jangan bawa-bawa tinggi badanku. Sudah, pergilah. Nanti kau terlambat,” katanya, sambil mengibaskan telapak tangannya, menyuruhku segera pergi.

“Habisnya, sakit sekali,” kataku, setengah melirik ke arah wajahnya yang berubah tersenyum penuh rasa bersalah. “ Aku berangkat dulu.”

“Begitu kuliah selesai, langsung pulang, Kyu!” Suara Eomma terdengar dari dapur.

“Saya mengerti,” sahutku setengah berteriak, sambil melangkah keluar.

Halte tidak begitu jauh dari rumah. Begitu tiba di sana, bus yang akan membawaku menuju Universitas Seoul datang. Aku naik dan mendudukkan diriku di tempat biasa, bangku paling belakang. Memandangi jalanan yang seakan bergerak, rumah-rumah yang seakan berlari menjauh, mataku teralih pada kedua anak lelaki yang berdiri di halte berikutnya, beberapa saat sebelum bus berhenti di situ. Sayup-sayup, aku bisa mendengar apa yang mereka katakan.

“Hyung, kita jalan kaki saja. Uang kita hanya cukup untuk seorang, ‘kan?” rengek anak lelaki yang lebih kecil, sambil menarik-narik ujung lengan Hyung-nya.

Anak yang lebih besar hanya diam sambil bergantian memandang telapak tangannya dan bus yang perlahan berhenti. Di tangannya, ada beberapa keping uang koin.

“Kalau kita jalan kaki, Hyung memang akan baik-baik saja, tapi kau akan lelah,” jawabnya.

“Kalian naik atau tidak?” tanya kondektur dari dalam bus.

Sang Kakak tertegun sejenak, menoleh pada wajah kecil di sampingnya, kemudian menyeret adiknya ke bus. Membantunya naik dan membayarkan koin-koin itu.

“Ahjussi, tolong antarkan dia ke halte tiga blok dari sini. Terima kasih,” dia membungkuk, lalu menoleh pada adik yang menatapnya nyaris menangis.

“Hyung tidak akan apa-apa. Kau duduklah,” katanya pada si adik, sambil tersenyum dan menepuk bahunya. Lalu, anak itu segera turun dari bus.

“Hei, kau,” Aku mengangkat kepalaku. Aku cukup terlihat tanpa perlu berdiri. Anak itu berhenti di tangga bus. “Kau juga duduklah. Hyung yang akan bayar.”

Kedua anak itu tersenyum lebar. Segera naik, berkali-kali membungkuk mengucapkan terima kasih, lalu duduk di bangku depan.

Senyumku yang sempat tampak, segera menghilang lagi.

Hyung juga… Selama ini untukku…

 

 

CHAPTER III

<YOUR POV>

 

Ya Tuhan, dia di sana.

Aku melihatnya duduk di bangku kami, tempat aku dan Yoona biasa duduk di perpustakaan. Kubatalkan langkahku menuju tempat itu. Dengan gerakan tidak lazim, kubelokkan tubuhku ke arah lain, dan secara acak mencari tempat duduk lain yang kosong. Tergesa-gesa dan setengah berlari, aku menabrak Lee Seonsaengnim yang membawa setumpuk buku di tangannya. Buku-buku itu roboh berhamburan di lantai seketika. Sementara Lee Seonsaengnim terjengkang ke belakang. Aku menjerit. Lagi.

“Maafkan saya, Seonsaengnim. Maafkan saya,” Aku berlutut, berkali-kali membungkuk, sambil memunguti buku-buku yang bertebaran. Wajahku terasa sangat panas.

“Seonsaengnim baik-baik saja?”

Kepalaku mendongak ke arah sebuah suara. Suara yang sangat familiar. Suara itu…

Dia ada di hadapanku.

Tubuh jangkungnya membungkuk, kedua tangannya menopang Lee Seonsaengnim dan membantu beliau berdiri.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” sahutnya sambil meluruskan kembali kemejanya, kemudian menatapku dengan galak. “Terima kasih, Kyuhyun-ah,” Dia mengangguk. “Dan kau harus lebih hati-hati,  Saehi-ssi.”

“Saya mengerti,” sahutku lemah, membungkuk sekali lagi, seraya beliau berlalu.

Baru beberapa detik kemudian, aku menyadari bahwa dia berdiri di dekatku. Tanpa dikomando, jantungku berdegup semakin kencang. Aku segera melangkahkan kaki keluar dari situ.

Sebelum tiba-tiba suaranya terdengar lagi.

“Maaf,”

Aku berhenti dan terdiam mematung. Tenggorokanku terasa tersumbat. Semua otot di tubuhku menegang.

Dan seakan semua orang menghilang dari Bumi, yang bisa ku dengar saat ini hanya suara langkahnya yang semakin mendekat. Atau, apakah ini suara degup jantungku?

“Kau… Yoon Saehi, ‘kan?”

Ya Tuhan. Dia tahu namaku.

Aku menoleh perlahan. Mengangguk.

“Eng, aku… Bukan berarti aku mengenalmu. Maksudku… Kau tahu.. Kita tidak pernah bicara sebelumnya dan…” Dia berhenti, melihat ke arah lain, kemudian menghela nafas dan tersenyum.

“Sudahlah. Aku mungkin gila melakukan ini,” Dia terdiam sesaat.

“Aku Cho Kyuhyun.”

Telapak tangannya terulur. Dan aku menyambutnya.

***

“Kelihatannya, segalanya berjalan lancar. Benar, Kyu?” Jungsoo menarik kursi di hadapannya, lalu duduk di atasnya. Bersiap menikmati segelas susu hangat sebelum tidur. Ia menyodorkan segelas pada dongsaeng-nya.

“Apanya?” tanya Kyuhyun, sambil meraih gelas yang disodorkan Hyungnya. Ia tidak memahami pertanyaan Jungsoo.

“Kau dan gadismu. Kau terlihat sangat ceria dua minggu belakangan.”

Kyuhyun batal menenggak susu hangat yang sudah menyentuh bibirnya.

“Eung,” sahut Kyu pendek. Ekspresi wajahnya meredup. Matanya menatap kosong pada noda di meja makan. “Hyung, bisa ambilkan aku sendok di sampingmu?”

Dia berharap Jungsoo tidak menanyakannya.

***

<YOUR POV>

 

Saehi, apa kau sudah tahu? Jungsoo Sunbaenim itu.. Dia.. kakak laki-laki Kyuhyun..”

Kata-kata Yoona kemarin, benar-benar menohok perasaanku. Aku hampir tidak mempercayai telingaku dan berkali-kali mengatakan Yoona pasti salah dengar.

Aku tidak ingin mempercayainya. Aku tidak ingin percaya, bahwa orang yang kusukai  dan orang yang menyukaiku  adalah saudara.

“Hhhh…”

Jungsoo Sunbae, adalah orang yang selalu menolongku. Entah bagaimana, ketika aku berada dalam kesulitan, Sunbae selalu muncul di saat itu. Dengan lesung pipinya yang jelas terlihat saat dia tersenyum, Sunbae selalu bisa membuat suasana hatiku menjadi cerah.

“Kalau begitu, biarkan aku menjadi petugas emergency yang akan selalu ada saat kau membutuhkanku! 1 katanya saat itu, sambil membusungkan dada.

“Sunbaenim, bukankah Yoon Jihoo yang mengatakannya pada Geum Jandi?”

Aku tersenyum mengingatnya.

Dia adalah orang pertama yang aku kenal di tempat ini, ketika dulu aku tidak mengenal siapa pun. Dan sejak saat itu, Sunbae selalu bisa membuat dirinya menjadi seorang senior yang bisa diandalkan. Tidak. Aku menyayanginya lebih dari seorang senior. Dia seperti kakak, yang selalu melindungiku. Tapi, hanya itu. Tidak lebih.

Nafas yang ku hela benar-benar terasa berat.

Tanyakan saja perasaan Kyuhyun padamu! Atau kau akan menyesal!

Lagi-lagi, kata-kata Yoona membuat kepalaku semakin tenggelam.

Tanyakan kepalamu? Apa dia tidak paham betapa tidak mungkinnya aku menanyakan perasaan Kyuhyun padaku? Sekarang, setelah aku tahu..

Tapi…

Sebenarnya, aku juga ingin tahu. Aku juga ingin mendengarnya. Perasaanmu padaku, aku ingin mendengarnya.

Helai demi helai daun-daun maple mulai berguguran dari atas kepalaku. Rasanya seperti dalam drama, ketika sehelai daun mendarat di pangkuanku. Sehelai daun maple yang manis.

Kekuatan, kesederhanaan, kehangatan, dan kesetiaan.

Ketika musim semi tiba, ia akan berubah warna menjadi orange cerah. Warna yang hangat dan nyaman. Ketika musim gugur, dia akan jatuh dengan anggun dan menghiasi tanah seperti permadani.

Maple…

Kekuatan ya? Bisakah aku?

 

 

 

 

 

 

CHAPTER IV

<KYUHYUN’S POV>

 

Dia belum datang.

Tidak biasanya dia tidak di sini pada jam ini. Dia selalu ada di sini dan duduk di sana, di bangku kami, menatap keluar jendela, memandangi pohon maple di seberang halaman.

“Maple… selalu menjadi satu kata yang ingin kuucapkan.”

Benarkah itu, bahwa kau ingin mengatakannya? Padaku? Apa kau tahu betapa inginnya aku mengatakan hal yang sama padamu? Maple…

Kedua kakiku melangkah lemas mendekati bangku itu. Entahlah, seperti ada yang aneh di dalam diriku. Ada perasaan kehilangan saat dia tidak ada. Namun, ada perasaan lain. Sakit. Ya. Saat bersamanya, aku merasa sakit.

Tunggu. Siapa yang meninggalkan bukunya disini?

Ada yang terselip di salah satu halaman bukunya. Apa yang membawa jari tanganku membukanya, aku pun tidak mengerti.

Sehelai daun maple, dan..

 

 

 

 

 

“Saat matahari mulai mereda,

dan langit menyalami senja,

aku harap kau tahu dimana aku berada.

Lusa.

Tidak akan ada kata-kata.

Bukan aku yang akan bicara.”

Dan aku merasakan hatiku semakin sakit.

 

 

 

CHAPTER V

 

“Apa?” Suara lemahnya membuat Kyuhyun semakin tercekat.

“Aku… menyukainya,” Dia menatap wajah Jungsoo dan mendapati Hyungnya terkejut.

“Hyung… Gadis yang kusukai selama ini… adalah Yoon Saehi.”

Hening.

Ada kediaman yang sangat tidak nyaman setelah ia selesai mengatakannya. Kyuhyun setengah berharap Jungsoo akan menjawab, namun juga berpikir bahwa lebih baik Jungsoo menghajarnya.

Mengumpulkan nafasnya, dia berkata,

“Hyung pukul saja aku. Saat ini, jangan lihat aku sebagai adikmu, lihatlah aku sebagai laki-laki. Pukul saja aku, Hyung…”

Dengan gemetar, Jungsoo meletakkan Shakespeare-nya di atas meja. Menghela nafas sedalam mungkin.

Hening sekali lagi. Hanya terdengar detik-detik jarum jam yang berjalan berputar di dinding putih.

“Kau menyukainya?”

Kyuhyun menunduk, lalu mengangguk lemah.

Jungsoo menatap adiknya semakin dalam.

“Meski kau tahu aku menyukainya lebih dulu?”

Kepala Kyuhyun semakin terbenam. Namun, sekali lagi, dia mengangguk.

“Dan kau tetap menyukainya, meski pun kau tahu bahwa Hyung-mu sangat menyukainya?”

Kali ini, dia diam. Dadanya terasa sesak. Pertanyaan ini, seperti menghantam keras jantungnya dan meremukkan seluruh iganya.

“Ketika Hyung-mu bertanya, kau harus menjawab, Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun tersentak dan secara spontan mengangkat kepalanya. Belum pernah sekali pun, Hyung-nya berbicara begini padanya. Ada kemarahan. Ada kekecewaan, yang terdengar dari suaranya. Yang membuat Kyuhyun semakin merasa sakit.

“Iya, Hyung. Aku tetap menyukainya… meski pun aku tahu Hyung menyukainya.”

Keduanya diam. Jungsoo mengacak rambutnya dan mendengus sinis. Lalu kembali melempar tatapan tidak percaya pada adiknya.

“Aku tidak tahu kenapa, Hyung! Sungguh, aku tidak tahu. Ketika Hyung membawaku ke perpustakaan dan memperlihatkan orang yang kau sukai, aku merasa berbeda. Aku tahu tidak seharusnya aku menyukai dia! Tapi aku…”

“…benar-benar menyukainya? Begitu?” potong Jungsoo tajam, setengah membentak.

Kyuhyun berdiri dalam diam di hadapannya, berkaca-kaca, berusaha menatap mata jernih Hyungnya yang balik menatapnya dengan sedih. Dengan segenap kekuatan yang tersisa di dalam hati, ia membuka mulutnya.

“Aku sungguh menyu-..”

“KALAU KAU MEMANG MENYUKAINYA, JANGAN HANYA BERDIRI DI SINI SEPERTI ORANG BODOH!”

 

“Hyung…” Kyuhyun tertegun.

“Pergilah… Aku tidak ingin melihatmu,”

Jungsoo membalikkan tubuhnya membelakangi Kyuhyun, membuat Kyuhyun membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu.

Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun Jungsoo memecah keheningan,

“Maple… Dia sangat menyukainya, ‘kan?”

Kyuhyun menatap punggung Hyung-nya yang berguncang perlahan. Sementara telapak tangannya terjulur mengusap matanya yang basah.

“Hyung…”

Jungsoo semakin jauh memalingkan wajahnya.

Dan beberapa saat kemudian, pintu kamar Jungsoo berdebam tertutup.

***

<YOUR POV>

 

Apa kau tidak akan datang?

Kyu…

Angin bertiup membawa titik-titik air dan  menyapu wajahku.  Basah.

Mataku juga…

Angin semakin dingin merayapi kulitku, dan kuputuskan meninggalkan tempat ini. Inilah jawaban perasaannya.

Seperti kulitku yang terasa membeku, hatiku juga. Beku dan dingin. Sangat dingin.

Hingga kemudian…

<Kyuhyun’s POV>

 

….aku memeluk tubuhmu di sela hembusan angin yang membawa wangimu hingga menyakiti rusukku.

Dan aku mendekap hangatmu di bawah langit yang jingga, yang membawa rona wajahmu melembut, menenangkan jantungku.

Dan tanganku yang gemetar mengusap pipimu, yang sendu tertimpa cahaya bulan dari antara daun-daun maple.

Dan aku ingin selamanya bersamamu, seperti maple yang sangat kau sukai.

Kita tidak akan apa-apa. Malaikat2 yang selalu menjaga dan melindungi kita selama ini, kita berjanji akan melindunginya mulai sekarang.

 

“Maple… Dia sangat menyukainya, ‘kan? Maple adalah pohon yang kuat dan indah.

Bagi Saehi, yang menjadi maple-nya… mungkin hanya kau.”


1Dialog Yoon Jihoo dalam Boys Before Flower

2Julukan Leeteuk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s