let the love go ( part 2 of 2 )


author : absen nomer 22 ( @nomerabsen22)
cast : Jung Jiwon(fic), Kim Junsu (JYJ), Shim Changmin

Aku membuka mataku, mengeryap membiasakan dengan cahaya lampu yang mendadak terasa begitu terang di atas mataku. Aku menoleh melihat changmin yang segera berjalan ke arahku membantuku untuk duduk.

 

“ apa yang kau lakukan disini?” tanyaku

 

“ apa maksudmu apa yang kau lakukan disini!” marahnya “ jangan membuatku khawatir seperti itu dan jangan bertindak bodoh sepeti itu!”

 

“ dasar bodoh, siapa yang menyuruhmu untuk menangis!” kataku tersenyum, changmin mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Aku melihat lengannya  “ lenganmu itu kenapa?” tanyaku

 

“ kau kehilangan banyak darah, dan bersyukurlah kau nuna. Golongan darah kita sama!” jawabnya, aku tersenyum

 

“ jinjja? Gomawo!” ucapku “ ayo kita pulang, aku sudah tidak tahan berada disini!” tambahku, melepas jarum infus dan changmin yang berusaha mencegahku

 

“ nuna, apa yang kau lakukan?” tanyanya

 

“ aku mau pulang!”

 

“ nuna!”

 

“ wae?”

 

Changmin menghela nafas, “ biar aku panggil dokter dulu, setelahnya kau boleh lakukan apa yang kau mau!” katanya, aku tidak berkata apa-apa melihat changmin yang sudah berlari keluar memanggil dokter.

 

Beberapa saat kemudian dokter datang megecekku dan membiarkanku pulang. Sebenarnya aku yang memaksa untuk pulang, aku benci rumah sakit dan aku benci berlama-lama disini. Kenangan akan papaku yang berlumuran darah di rumah sakit benar-benar menyiksaku.

Aku berjalan menuju apartemen changmin, berdampingan dengan changmin, tidak ada pembicaraan yang terjadi antara kami berdua selama perjalanan pulang.

 

“ ayo makan dulu nuna!” ajak chhangmin

 

“ aku tidak lap…”

 

“ aku tidak akan peduli dengan itu!” kata changmin, meraih tanganku dan membawaku ke sebuah restoran dan memesan makanan kesukaannya, samgyetang. Dengan perlahan dia menghidangkan sup itu untukku.

 

“ kau yakin akan makan ini?” tanyaku

 

“ tentu saja! Cepat makan, aku akan mengusirmu jika kau tidak menghabiskannya!” katanya, aku sedikit tertawa dibuatnya dan mulai memakan makananku.

 

Changmin dan aku duduk di bangku datar di atap apartemen changmin. Hanya untuk menikmati malam yang indah ini. Sedikit udara segar membuatku lebih baik dan tenang.

 

“ kenapa kau tidak pulang saja nuna?” tanya changmin, aku tersenyum

 

“ kau masih menyuruhku pulang setelah kau melihat bagaimana nenekku memperlakukanku?” tanyaku, changmin menundukkan kepalanya

 

“ tadi sebelum kau sadar aku bertemu dengan dokter. Dia bilang kau menderita kanker lambung, apa itu benar nuna?”

 

Changmin melihatku, aku hanya tersenyum “ nuna!”

 

“ wae? Kau mengharapkan penolakan dariku? Itu tidak akan terjadi, karena memang benar aku menderita kanker lambung!” jawabku. Changmin melihatku, menatapku dengan lekat “ kau tidak usah khawatir, aku bisa menanganinya!” ucapku mencoba menenangkan

 

“ apanya yang tidak khawatir? Nuna!” dia memarahiku, aku hanya tertawa “ pulanglah! Meskipun kau tidak menyukainya tapi setidaknya kau akan mendapat perawatan yang lebih baik disana.” Pintanya

 

“ aku sudah tidak butuh itu, tidak ada yang tau tentang ini kecuali kau dan aku tidak berniat untuk memberitahu mereka. Jangan terlalu dipikirkan! Hidupku seperti drama bukan? Dengan karakter utamanya mempunyai kehidupan yang menyedihkan dari episode awal hingga akhir. Papaku meninggal, orang yang paling menyayangiku dan aku juga sangat menyayanginya. Nenek yang mengekangku, orang yang aku cintai benar-benar akan pergi dan tidak bisa lagi kumiliki. Ditambah lagi aku tidak mempunyai ibu. Aku berusaha mencarinya sendiri, tapi apa yang aku tau? Aku bahkan tidak tau inisial namanya, dan nenekku akan selalu membentakku ketika aku bertanya tentang ibuku.” Jelasku pada changmin

 

“ kenapa kau baru pergi sekarang?” tanya changmin

 

“ aku tidak bisa meninggalkan nenekku begitu saja, meskipun aku tidak bersamanya. Cukup dengan statusku yang menjadi keluarganya, itu akan membuatku tenang. Dia masih mempunyai keluarga, setidaknya dia merasa tidak sendiri.”

 

“ aku benar-benar tidak tau apa yang harus kulakukan padamu.” Ucap changmin, aku tertawa

 

“ jangan perlakukan aku seperti orang sakit, hanya itu yang aku mau!” pintaku, aku menghela naas. Beranjak berdiri dan melihat changmin “ aku mau tidur dulu, dan kau pastikan jadwalmu kosong besok!” tambahku dan berjalan masuk ke dalam.

 

Kubaringkan diriku pelan diatas kasur, pergelangan tanganku masih terasa berdenyut perih. Changmin baru saja mengganti perbannya, aku memejamkan mataku, menghilang sejenak dari kehidupanku yang menyebalkan.

 

 

“ kau yakin kau baik-baik saja nuna?” tanya changmin

 

Kami berdua sedang berjalan menuju venue acara pernikahan junsu. Aku menoleh dan memukul lengannya

 

“ berhenti memperlakukanku seperti anak kecil!”

 

“ aahhh… nuna sakit!” keluhnya

 

“ siapa suruh kau berlaku seperti itu? Issshh… menyebalkan! Lihat jasmu jadi berantakan! Diam!” suruhku dan membenarkan beberapa bagian jasnya yang berantakan

 

“ kau tau nuna, aku baru sadar. Banyak orang yang mengatakan kita berdua mirip. Apakah kita memang benar-benar mirip? Bagaimana menurutmu?” tanya changmin

 

“ aku tidak tau, tapi kalau benar bukankah itu hebat?”

 

“ ya, kau sudah bertingkah seperti nunaku setiap hari!” gumamnya

 

“ aish, kau ini! Ayo kita masuk!”

 

Aku melihat paman Kim dan bibi Kim berdiri menyambut para tamu yang datang, termasuk juga Junsu yang berdiri di samping mereka. Pandangannya tertuju padaku dan changmin yang baru saja datang. Aku tersenyum melihat paman Kim dan bibi Kim

 

“ aigoo~~ Jiwon kau sudah pulang?” tanya bibi Kim padaku, raut mukanya terlihat khawatir dan lega ketika melihatku “ anak nakal! Kau kemana saja!” marahnya

 

“ maafkan aku bi!” ucapku

 

“ jangan ulangi itu lagi, Junsu marah-marah karena kau menghilang!” katanya, aku melihat ke Junsu oppa yang masih menatapku dengan lekat

 

“ aku tau bi, dan kenalkan bi Shim changmin!” kataku memperkenalkan changmin yang berdiri di sebelahku,

 

“ annyeonghaseo, Shim changmin imnida!” kata changmin sambil membungkuk

 

“ annyeonghaseo! Aigoo~ dia tampan sekali, siapa dia Jiwon?” tanya bibi Kim

 

“ aku dongsaengnya Jiwon nuna!” jawab changmin tersenyum membuat bibi Kim tertawa

 

“ baiklah, aku mengerti, kalian masuk saja dulu!” suruhnya, aku mengangguk dan berjalan masuk. Junsu oppa menahanku

 

“ ikut denganku sebentar!” pintanya lembut, aku melihatnya tidak kuasa untuk menolaknya.

 

“ aku akan menunggu di dalam nuna!” kata changmin dan dia berjalan masuk meninggalkanku dan Junsu. Junsu melihatku, kemudian membawaku pergi.

 

Kami memasuki sebuah ruangan kosong, Junsu oppa melihatku dan aku yang hanya menundukkan kepala melihatnya.

 

“ Jiwon~” panggilnya lembut, aku tidak merespon. Aku bisa mendengarnya menghela nafas

“ tolong jangan berlaku seperti ini padaku Jiwon, aku mohon! Aku bukan orang lain, aku oppa mu!” pintanya

 

“ maafkan aku!” ucapku

 

Dan kali ini kembali kurasakan, hangat itu menyelimuti tubuhku. Kali ini tidak menyakitkan, hanya perasaan hangat yang menenangkan!

 

“ jangan lakukan ini oppa!” pintaku dan dengan lembut mendorongnya perlahan dari memelukku. Junsu oppa melihatku terkejut

 

“ aku mencoba untuk menahan diriku supaya tidak bersamamu oppa!” kataku

 

“ apa? Wae?” tanyanya

 

“ aku mencintaimu, dan aku tau aku tidak bisa memilikimu!” ucapku akhirnya, menatap lekat matanya “ kau akan pergi jauh dariku oppa, ke tempat dimana aku kehilangan hakku untuk menggapaimu. Aku tau aku bodoh sampai harus jatuh cinta padamu, aku aku tidak bisa menahan perasaanku oppa. Kau selalu ada saat aku membutuhkanmu, dan karenamulah aku merasa menjadi orang yang dicintai. Aku minta maaf atas segala perlakuanku akhir-akhir ini, aku tau aku menyakitimu dengan menghindarimu. Tapi aku tidak bisa menyakiti diriku nantinya, karena aku akan menyesalinya nanti jika tidak.” Jelasku

 

Aku melihat Junsu oppa, setetes air mata jatuh di pipiku dan senyum merekah di wajahku.

 

“ tolong, beri aku waktu untuk menenangkan diriku. Setelahnya aku akan bersikap sama padamu.” Pintaku padanya, dia melihatku. Ekspresinya tidak bisa ditebak, tentu saja. Ini pasti mengejutkannya.

 

“Jiwon..”

 

“ oppa tidak perlu melakukan apa-apa, aku yang salah. Jangan berpikir tentang aku, aku akan pergi jauh setelah ini, jadi oppa berjanjilah. Oppa akan hidup bahagia setelah ini!”

 

“ Jiwon aku minta maaf!” kata Junsu oppa

 

“ tidak perlu, tidak ada yang harus dimaafkan!” gumamku tersenyum, kepalaku pusing, aku ingin muntah! “ maafkan aku, aku harus pergi oppa!” kataku dan bergegas keluar

 

“ Jiwon jangan pergi!” pintanya memegangi lenganku

 

“ tolong sekali ini, aku benar-benar harus pergi!” pintaku memelas, kepalaku using tidak karuan, aku bisa merasakan keringat dingin membasahi wajahku. Kukibaskan tangan Junsu oppa dan segera berjalan keluar mencari toilet.

 

Kubenamkan wajahku di dalam kloset, menunduk dan berjongkok memuntahkan semua yang ingin kumuntahkan. Perutku perih, kepalaku pusing.

 

Aku bersandar pada wastafel, memasukkan obat ke dalam mulutku satu persatu dan meminum air. Aku menutup mataku, mengatur nafas. Semoga aku baik-baik saja.

Aku keluar dari kamar mandi beberapa sat kemudian, melihat changmin yang langsung menghampiriku dengan wajah khawatirnya.

 

“ nuna baik-baik saja?” tanyanya khawatir, aku menganggu sambil tersenyum kecil

“ duduklah dulu nuna, kau terlihat sangat pucat!” katanya membawaku duduk di kursi dekat toilet. Aku menurut saja padanya, ketika dia memberiku air mineral dan menyuruhku meminumnya.

 

“ gomawo!” ucapku, membiarkan changmin mengelap keringatku

 

“ kau yakin akan baik-baik saja nuna? Perlukah kita ke dokter?” tanyanya, aku memukul lengannya lagi

 

“ sudah kubilang, jangan perlakukan aku seperti orang sakit!” marahku,

 

“ baiklah, baiklah aku mengerti”

 

“ ayo kita harus kembali, aku tidak bisa berada disini.” Kataku berdiri, changmin membantuku berjalan kembali ke ball room.

 

Hanya untuk hari ini, aku ingin melihat Junsu bahagia. Aku mungkin tidak akan punya kesempatan untuk melihatnya lagi setelah ini, aku akan pergi bukan? Sekarang, sudah ada orang yang akan menjaga Junsu oppa, aku tidak perlu khawatir dengannya. Aku bisa berkonsentrasi penuh mencari ibuku saat ini.

 

 

Changmin dan aku pulang ke rumah setelahnya, kami terkejut melihat sesosok wanita cantik berdiri di depan apartemen changmin. Dia tersenyum lebar saat melihat changmin datang.

 

“ eomma! Kenapa eomma ada disini?” tanya changmin yang langsung memeluk eommanya

 

“ yah, apa maksudmu? Bukankah hari ini kau berulang tahun?” tanya eommanya,

 

Apa? Hari ini ulang tahun changmin? Kenapa sama denganku?

 

“ aahh aku lupa, oh ya eomma kenalkan ini nunaku Jiwon!” kata changmin melihat ke arahku,

 

“ annyeonghaseo, Jung Jiwon imnida!” kataku memberi salam, eommanya changmin sedikit terkejut dengan changmin yang memanggilku nuna

 

“ nuna? Aahh… kau teman sekamar changmin? Aigoo~~ cantik sekali!” gumam eommanya changmin tersenyum melihatku, aku mendongak menatap matanya. Matanya indah sekali, rasanya tenang melihatnya. Inikah rasanya punya ibu

 

“ gamsahamnida!” gumamku

 

“ ayo masuk, eomma harusnya bilang dulu kalau mau datang.” Kata changmin

 

End of POV

 

“ kalian darimana?” tanya ibunya Changmin sambil menyiapkan makan malam untuk Jiwon dan changmin, melihat Jiwon dan changmin yang datang menggunakan pakaian resmi hari ini mebuatnya penasaran.

 

“ nuna mengajakku untuk menghadiri pernikahan temannya eomma.” Jawab changmin sambil membantu menyiapkan meja makan dan Jiwon mencuci piring

 

“ oh jeongmal, pantas saja kalian terlihat sangat rapih.” Gumam Mrs. Shim “ Jiwon ayo duduk sini, biarkan aku yang akan mencuci piringnya nanti!” pinta Mrs. Shim menyuruh Jiwon untuk duduk di sebelahnya

 

“ ne!” jawab Jiwon dan berjalan ke arah meja makan, duduk di sebelah Mrs. Shim

 

“ ayo kalian makan yang banyak!” suruh Mrs. Shim,

 

“ ne!!” ucap changmin dan Jiwon bersamaan

 

Pandangan Mrs. Shim tertuju pada Jiwon sedari tadi, entah kenapa dia ingin melihat Jiwon, dia ingin tau tentang Jiwon lebih dalam. Mrs. Shim tersenyum, melihat Jiwon dan changmin yang begitu akrab satu sama lain, dan satu hal lagi. Mereka berdua begitu mirip satu sama lain.

 

Kembali, Jiwon berlari ke kamar mandi dan beberapa lama kemudian dia keluar dengan wajah yang sangat pucat. Buru-buru changmin memberinya obat milik Jiwon dan segelas air. Jiwon meminum obatnya sampai habis

 

“ kau harus istirahat nuna! Perlukah aku menelfon dokter?” tanya changmin khawatir

 

“ tidak, tidak usah!” jawab Jiwon, mendorong changmin lembut dan duduk di tempat tidur. Kali ini changmin memutuskan untuk bertukar tempat dengan Jiwon. Changmin hanya melihat Jiwon, khawatir melihatnya yang terbaring diatas rajang dengan wajah yang sangat pucat.

 

“ oh, apa yang terjadi?” tanya Mrs. Shim melihat changmin dan Jiwon yang terbaring di kasur

 

“ tidak apa eomma, nuna hanya sedang sakit sekarang. Tadi kami sudah ke dokter, eomma tidak perlu khawatir!” jawab changmin ke eommanya yang baru saja kembali dari membuang sampah

 

“ baiklah, eomma mau cuci piring dulu. Kau mau berangkat kerja?” tanyanya pada changmin

 

“ mm, tolong jaga Jiwon nuna baik-baik eomma. Kalau dia tiba-tiba muntah, berika obat yang ada disana itu untuknya. Semuanya satu-satu!” pnta changmin sambil mengambil mantelnya “ aku pergi dulu eomma, kalau ada apa-apa cepat telfon aku!”

 

“ eo, baiklah! Hati-hati!” gumam Mrs. Shim

 

Setelah changmin pergi Mrs. Shim beralih ke Jiwon, merapihkan selimut yang menutupi tubuhnya dan mengecek suhu badannya. Dia tersenyum dan meninggalkan Jiwon untuk mencuci piring. Mrs. Shim berhenti saat dilihatnya sebuah cincin di samping tempat cuci piring. Cincin yang sangat familiar.

 

“ tidak ini tidak mungkin, kenapa ini bisa ada disini?” katanya, memeriksa cincin itu dan menemukan inisial nama YJ di dalamnya. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui cincin yang sama melingkar di jari manis kanannya. Pandangannya langsung tertuju pada Jiwon yang terbaring di atas tempat tidur

 

“ mungkinkah ini milik Jiwon?” tanya Mrs. Shim pada dirinya sendiri.

 

Keesokan harinya

 

Jiwon bangun dari tidurnya, menemukan changmin yang tertidur pulas di sampingnya dan bau masakan khas tercium oleh hidungnya. Jiwon mengeryap sedikit, melihat Mrs. Shim yang tersenyum lembaut padanya.

 

“ aigoo~~ kau sudah bangun rupanya, aku sudah siapkan air hangat. Mandilah!” suruh Mrs. Shim melihat Jiwon, Jiwon hanya terdiam bingung “ wae? Kau tidak mau mandi? Ayo cepat, nanti airnya jadi dingin!” tambah Mrs. Shim

 

Jiwon perlahan beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi, kali ini bahkan Mrs. Shim bisa mendengar suara muntahan Jiwon dengan jelas. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran, segera dia teringat pesan changmin dan disiapkan seluruh obat Jiwon.

 

Jiwon keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian, menyeka mulutnya dengan punggung tangannya.

 

“ Jiwon~ ini minumlah dulu!” kata Mrs. Shim mengulurkan obat dan segelas air dulu “ kau bisa bertanya padaku nanti, sekarang minum ini dulu!” tambahnya, Jiwon menurut dan meminum obat yang diulurkan mrs. Shim

 

“ duduklah dulu, kemari!” pinta Mrs. Shim menyuruh Jiwon duduk dan menghidangkan bubuk di depannya “ makan ini dulu!”

 

“ gamsahamnida!” gumam Jiwon, Mrs. Shim tersenyum lembut

 

“ tidak perlu, aku menyuruh changmin untuk membeli buah dibawah, makanlah habiskan itu dulu!” pinta Mrs. Shim

 

“ kenapa bibi begitu baik padaku? Kenapa changmin juga begitu baik padaku, bibi baru mengenalku bukan?” tanya Jiwon bingung

 

“ apa butuh alasan untuk berbuat baik pada seseorang?” tanya Mrs. Shim pada Jiwon sambil tersenyum

 

“ aku pulang!!!” kata changmin yang sudah memasuki apartemen dengan membawa sekantung buah “ oh eomma membuat bubur? Kenapa aku tidak dibuatkan?” tanya changmin manja

 

“ iisshh.. kau ini, Jiwon sedang sakit kau makan ini saja!” kata Mrs. Shim memberi changmin porsi makan biasa “ dan juga Jiwon, apa ini milikmu?” tanyanya memberikan cincin

 

“ ah ne, ini milikku.” Jawab Jiwon mengambil cincinnya

 

“ aku menemukannya di dekat tempat cuci piring, kau harus hati-hati lain kali!”

 

“ ne, terima kasih!”  jawab Jiwon tersenyum lega, dia tidak sadar kalau cincin yang dipakainya tidak berada di jarinya semalam

 

“ jarang sekali melihat cincin dengan model seperti itu disini.” Komentar Mrs. Shim

 

“ papaku memberikannya padaku saat ulang tahunku yang ke-12, 2 hari sebelum dia meninggal.” Jawab Jiwon dengan senyuman

 

Wajah Mrs. Shim berubah pucat mendengar perkataan Jiwon.

 

“ m-maafkan aku!” kata Mrs. Shim

 

“ tidak apa, aku masih bersyukur setidaknya dia masih meninggalkan sesuatu untukku. Aku sangat menyayanginya! Aku tidak punya siapapun selain dia.”

 

“ b-bagaimana dengan ibumu?”

 

“ aku tidak tau dimana ibuku, aku tidak pernah melihatnya semenjak aku lahir. Aku tau aku punya ibu, tapi nenekku tidak mau memberitahuku apapun tentang dia. Dan sekarang, waktuku tidak banyak. Aku benar-benar harus menemukan ibuku!” jawab Jiwon tersenyum

 

Mrs. Shim melihatnya, tidak terasa airmata sudah memenuhi matanya “ aku kadang iri sekali dengan changmin, aku tidak tau rasanya punya ibu. Dan aku bersyukur changmin masih bisa bertemu dengan ibunya.” Kata Jiwon melihat changmin yang juga menatapnya

 

“ aku permisi sebentar!” pamit Mrs. Shim beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari apartemen meninggalkan Jiwon dan Changmin

 

“ maafkan aku!” kata Jiwon pada changmin

 

“ sudahlah nuna, kau berhak bertemu dengan ibumu! Aku yakin itu!” kata changmin menenangkan Jiwon “ sekarang, buat ibuku senang dengan menghabiskan semua bubur itu!” pintanya, Jiwon tersenyum dan mulai makan lagi.

 

Dering nada telfon terdengar dari sudut ruangan, Jiwon segera berlari untuk mengangkat telfon itu.

 

“ issshh anak ini lupa lagi membawa handphonenya.” Keluhnya memegang handphone changmin, dia mengeser tombolnya dan menjawab telfon “ yeoboseyo!”

 

“ is this Changmin sshi?” tanya suara di sebrang

 

“ maaf, changmin sedang tidak membawa ponselnya sekarang. Ada yang bisa saya bantu? Ini siapa?” tanya Jiwon

 

“ aku dokter Kang, sebelumnya aku dan changmin sshi sudah berbicara mengenai masalah tes darah, tolong katakan padanya hasil tesnya sudah siap.” Jawabnya

 

“ tes? Tes apa?” tanya Jiwon

 

“ saya menemukan hal yang aneh pada saat terakhir kali changmin ssh mendonorkan darahnya untuk salah satu pasien saya beberapa hari yang lalu.DNA nya identik.” Jawab si dokter, Jiwon mengerutkan dahinya

 

“ boleh aku kesana sekarang? Boleh aku melihatnya?” tanya Jiwon

 

“ maaf ini dengan siapa?”

 

“ aku pasien yang didonori darah oleh changmin.” Jawab Jiwon

 

 

Jiwon bergegas masuk ke dalam ruang dokter, melihat dokter yang dulu sempat beberapa saat merawatnya. Dia duduk di mejanya tersenyum melihat Jiwon. Segera Jiwon bertanya tentang hasil tes darah itu dan dokter memberikan dokumennya.

 

“ DNA kalian identik dan kemungkinan anda dengan Changmin sshi adalah kembar.” Kata dokter, Jiwon melihatnya tidak percaya. Data otentik yang ada di tangannya berbicara tentang fakta.

 

Dia dan changmin adalah saudara, saudara kembar lebih tepatnya. Apakah mereka berdua tidak sadar? Dengan orang-orang disekitar yang mengatakan bahwa mereka mirip satu sama lain, dan Jiwon dan Changmin yang hanya menganggapi omongan mereka dengan gurauan.

 

“ a-apa changmin tau tentang hal ini?” tanya Jiwon

 

“ kami sudah mendiskusikan hal itu kemarin, tapi aku menyuruh Changmin sshi untuk menunggu hasil tes yang lebih akurat lagi.

 

Jiwon berjalan pelan menuju apartemen changmin, perasaannya campur aduk antara senang dan juga terkejut. Dia marah karena changmin tidak memberitahunya lebih awal, dan juga senang karena firasatnya selama ini benar. Dia merasa dia terikat dengan changmin, dan inilah buktinya.

 

“ nuna. Kau dari mana saja!” tanya changmin khawatir, dia berlari mengatur nafasnya melihat Jiwon “ kau baik-baik saja nuna?”

 

Jiwon hanya melihat changmin, tidak mampu membendung airmatanya untuk tidak jatuh diatas pipinya.

 

‘paakk’

 

Jiwon memukul lengan changmin

 

“ aaaawww nuna.. kenapa kau memukulku!” keluh changmin

 

“ babo! Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya! Aku baru bertemu dengan dokter Kang dan dia menjelaskan semuanya padaku! Kau dan aku kembar bukan?” tanya Jiwon langsung pada changmin, changmin diam melihatnya. Matanya juga sudah berkaca-kaca

 

“ m-mianhae.”

 

“ kau tidak mau memelukku? Apa sekarang kau berniat mengacuhkanku setelah kau tau aku benar-benar saudaramu?”

 

“ aniya, aku tidak akan melakukan itu! Aku hanya menunggu hasil yang lebih otentik dari dokter.” Kata changmin “ kau tidak tau betapa senangnya aku ketika dokter Kang bilang ada kemunginan bahwa kau dan aku bersaudara nuna!”

 

“ issshh… kau menyebalkan!” gumam Jiwon dan memeluk changmin, changmin juga memeluknya. Mereka berdua bahagia, meskipun mereka tidak tau alasan kenapa mereka terpisah, tapi setidaknya bisa bertemu satu sama lain membuat mereka tenang

 

“ ayo pulang! Kau harus bertemu dengan eomma nuna!” kata changmin senang, Jiwon mengangguk “ hari ini, karena aku baik aku akan menggendongmu! Kau tidak boleh terlalu lelah nuna!”

 

“ araseo!” kata Jiwon yang naik ke punggung changmin.

 

Jalan menuju apartemen changmin memang menanjak dan mereka harus menaiki beberapa tangga untuk sampai di apartemen changmin.

 

Beberapa saat berjalan bersama dengan changmin yang menggendong Jiwon, mereka sampai di apartemen changmin. Mereka berdua hendak masuk ketika melihat 4 orang berpakaian rapih berdiri di depan mereka.

 

“ apa yang kalian lakukan disini?” tanya Jiwon, tau kalau mereka adalah anak buah neneknya

 

“ nona muda, anda harus ikut kami!” kata salah seorang dari mereka

 

“ tidak, aku tidak mau! Kalian pergi dari sini!” perintah Jiwon

 

“ maafkan kami nona muda, kami mendapat perintah dari nyonya untuk membawa anda pulang!”

 

“ aku tidak mau! Aku tidak akan pulang!” kata Jiwon lagi, changmin sudah melangkah berdiri didepan Jiwon. Mrs. Shim melihat mereka dengan wajah khawatir

 

“ maafkan kami nona, kami tetap akan membawa anda pulang!”

 

“ tidak boleh! Tidak ada yang boleh membawanya pergi dari sini!” kata Changmin

 

Keempat orang itu berjalan mendekat ke arah Jiwon, 2 orang menarik changmin dan dua orang lainnya pergi membawa Jiwon. Changmin mencoba meronta melawan mereka, matanya sudah berkaca-kaca melihat Jiwon yang dibawa pergi

 

“ tidak minnie, aku belum bertemu eommaku! Eommaa~~” panggil Jiwon sebelum mulutnya dibekap oleh salah seorang pengawal

 

“ nuna.. LEPASKAN AKU BRENGSEK!!” teriak changmin,

 

Jiwon sudah dibawa pergi dua orang itu dan yang  lainnya masih memegangi changmin yang sudah menendang dan memukuli mereka. Changmin segera berlari menyusul Jiwon yang sudah berada di ujung jalan dan dua orang pengawal itu membawanya masuk ke dalam mobil.

 

Changmin berlari sekuat tenaga mengejar Jiwon, namun terlambat. Mobil audi hitam itu sudah pergi meninggalkannya.

 

“ AAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak changmin frustasi

 

Dia jatuh tersungkur di aspal, marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun untuk Jiwon. Dia menangis tersedu, hatinya asakit melihat Jiwon yang seperti itu. Tidak peduli orang-orang disekitar yang melihatnya dan berpikir dia gila.

 

“ minnie!” panggi Mrs. Shim pelan menyentuh bahu changmin

 

“ eomma… nuna sudah pergi! Eomma apa yang harus kulakukan? Dia belum bertemu denganmu eomma!” kata Changmin, Mrs. Shim menangis sambil memeluknya “ dia kembaranku eomma, dia kakakku, dia anakmu eomma! Aku baru bertemu dengannya dan dia ingin bertemu denganmu kenapa mereka mengambilnya!!” teriak changmin frustasi

 

Mrs. Shim tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya memeluk changmin lebih erat lagi. Hatinya juga sakit melihat anaknya diperlakukan seperti itu.

 

“ biarkan aku pergi!” pinta Jiwon, masih mengatur nafasnya. Dia berada di ruang kerja neneknya, wajahnya pucat dengan keringat dingin yang mengalir di dahinya “ aku mohon nek, untuk kali ini biarkan aku pergi!”

 

“ jangan menyuruhku!” kata neneknya melihat Jiwon “ kau pikir apa yang sudah kau lakukan? Hidup di tempat seperti itu, menjijikkan! Kau bahkan tidak mengacuhkan setiap kata-kataku! Apa aku salah jika aku ingin kau hidup baik!” marah neneknya

 

Jiwon hanya menghela nafas, mengeryap merasakan pandangannya sudah kabur. Kepalanya terasa berat. Pandangan matanya hitam, dan sejurus kemudian dia jatuh ke atas karpet membuat Mrs. Jung terkejut

 

“ Jiwon… Jiwon bangun! Apa yang kau lakukan, Jiwon!!” panggil Mrs. Jung mengguncang tubuh Jiwon dengan raut muka khawatir “ pak Jang!!” panggilnya,

 

Sesosok lelaki tinggi tegap berjalan masuk, dia langsung berjalan menghampiri Mrs. Jung yang berjongkok di sebelah Jiwon.

 

“ cepat, bawa Jiwon ke rumah sakit cepat!”

 

“ iya nyonya!”

 

 

“ apa kau bilang?” tanya Mrs. Jung, wajahnya pucat setelah mendengar penjelasan dari dokter Han yang ada di depannya. Dia tidak percaya ini

 

“ sudah semenjak setahun yang lalu setelah Jiwon mengetahui keadaannya, dan sekarang kankernya sudah memasuki stadium akhir. Bahkan pandangannya sudah akan kabur sekarang, kankernya sudah menyebar ke otaknya dan bagian penglihatanlah yang pertama akan terganggu.” Jelas dokter Han

 

“ aku sudah menyuruhnya untuk check tapi dia membantah dan mengatakan dia tidak ingin hidup dalam ketakutan, dan inilah yang terjadi sekarang. Jiwon harus tinggal disini!”

 

Mrs. Jung keluar dari ruangan dokter Han, menutupi mulutnya dengan buku-buku tangannya. Selama ini, usahanya untuk melindungi Jiwon ternyata berbuah pahit. Dia bahkan tidak tahu apapun tentang ini dan tentang penyakit yang di idap cucunya itu.

 

Mrs. Jung berdiri di depan pintu kamar Jiwon, melihat Jiwon yang terduduk di ranjangnya  memandang ke arah luar jendela. Dia tidak percaya apa yang sudah dilakukannya pada Jiwon selama ini. Masihkah dia punya malu untuk bertemu dengan Jiwon?

 

Jiwon menoleh melihat neneknya yang berjalan masuk. Tatapannya kosong ketika dia melihat Mrs. Jung.

 

“ dokter sudah memberitahu nenek?” tanya Jiwon pelan, Mrs. Jung tidak mengatakan apa-apa dan hanya melihat Jiwon “ aku ingin pulang nek! Aku benci tempat ini!” pinta Jiwon

 

“ tapi dokter bilang kau harus tinggal disini, kau harus menjalani perawatanmu.” Kata Mrs. Jung

 

“ aku bisa dirawat di rumah kan nek? Aku tidak menyukai tempat ini, ini mengingatkanku pada papa!” jawab Jiwon “ aku mau pulang!” pintanya lagi

 

Mrs. Jung mengangguk “ baiklah, akan nenek bicarakan pada dokter Han setelah ini.”

 

Mrs. Jung masuk ke dalam kamar Jiwon, diikuti oleh pelayan yang memabntunya membawa tray makanan untuk Jiwon. Wajahnya pucat, dan tubuhnya semakin kurus. Jiwon tersenyum lemah melihat neneknya masuk.

 

“ omo, lihat cucu nenek cantik sekali!” puji Mrs. Jung, Jiwon tersenyum lemah

 

“ semua orang yang sakit pasti akan jadi cantik kan nek?” tanya Jiwon

 

“ tentu saja tidak, cucuku yang paling cantik! Ayo kau harus makan dulu!” kata Mrs. Jung dan mulai menyuapi Jiwon.

 

“ nek!” panggil Jiwon setelah beberapa saat

 

“ iya?” respon Mrs. Jung

 

“ bolehkah aku bertemu dengan eommaku?” tanya Jiwon, kali ini lebih lembut daripada biasanya “ aku sudah bertemu dengannya, dan aku ingin melihatnya lagi sebelum aku pergi bertemu dengan papa. Apakah nenek tau kalau aku punya saudara kembar? Namanya Changmin, dia tampan sekali. Orang-orang bilang kami terlihat sangat mirip satu sama lain, nenek pernah bertemu dengannya. Dulu waktu kejadian di butik, selama ini aku tinggal bersamanya.” Kata Jiwon melihat ke arah mrs. Jung

 

“ bisakah nenek menurunkan gengsi dan obsesi nenek pada keluarga terhormat hanya untuk sesaat dan membiarkan aku bertemu dengan eommaku?” tanya Jiwon “ hanya itu yang aku mau, aku mau setidaknya aku akan tersenyum dan bercerita kepada papa tentang eomma dan changmin. Tiak bisakah nenek mengabulkan keinginanku yang itu?” tanya Jiwon,

 

Mrs. Jung ingin sekali menangis mendengar Jiwon mengatakan itu, hanya saja dia tidak sanggup untuk mengangis di depan Jiwon.

 

“ sudah malam, kau istirahat saja!” suruh Mrs. Jung pada Jiwon

 

“ aku mohon nek!” pinta Jiwon lagi melihatnya

 

“ kau terlalu banyak bicara, cepat tidur!”

 

“ aku berjanji aku tidak akan menyalahkan nenek atas semuanya, aku tau nenek menyayangiku. Aku juga berjanji akan jadi anak baik setelah ini, aku tidak mau papa memarahiku nantinya, tolonglah nek!”

 

“ Jung Jiwon! Kau tidak mendengar nenekmu ini? Cepat tidur!” bentak Mrs. Jung dan segera meninggalkan kamar Jiwon, menutup pintunya dan segera menumpahkan airmata yang sedari tadi ditahannya.

 

Dia marah kepada dirinya sendiri yang tidak bisa menahan gengsinya dan membiarkan cucunya bahagia. Dia begitu marah pada dirinya sedniri sampai tidak tau apa yang harus dia lakukan.

 

“ nyonya, anda tidak apa-apa?” tanya pak Jang

 

“ siapkan mobil, bawa aku menemui sora sekarang!” suruh Mrs. Jung

 

“ baik nyonya!”

 

 

Mrs. Jung duduk di depan changmin dan Sora ( ibunya changmin ) di dalam apartemen milik changmin, wajahnya tertunduk malu atas semua perbuatan yang telah dilakukannya dulu pada Sora. Memisahkan Sora dari anaknya Yunho.

 

“ apakah Jiwon nuna baik-baik saja?” tanya changmin memecah kebuntuan

 

Mrs. Jung mendongak menatapnya. Dilihatnya lelaki muda itu yang memang benar mirip dengan Jiwon “ mm, dia sedang istirahat sekarang!” jawab Mrs. Jung

 

“ aku minta maaf atas semua kesalahanku, aku tau kalian tiak akan memaafkanku dengan mudah. Terutama kau Sora, aku mohon demi Jiwon pulanglah bersamaku. Kalian berdua tinggallah bersamaku! Aku tidak bisa menolak keinginannya untuk bertemu dengan kalian, jadi aku mohon, sebenci apapun kalian padaku tolong lupakanlah sejenak dan ikutlah bersamaku! Jiwon membutuhkan kalian!” pinta Mrs. Jung menitihkan air mata

 

“ eomonim, tolong jangan lakukan ini!” pinta Sora memohon supaya Mrs. Jung tidak membungkuk di hadapannya

 

“ tidak, aku bersalah pada kalian, aku mohon pulanglah bersamaku!” pintanya lagi, Sora melihat ke arah changmin.

 

“ baiklah, eomma kita akan ikut bersamanya!” jawab Changmin

 

Mrs. Jung mendongak, tersenyum senang melihat Changmin.

 

“ terima kasih!!” gumamnya

 

 

Junsu berlari masuk ke dalam rumah Mrs. Jung malam itu. Dia lari ke kamar dimana Jiwon di rawat dan menemukan dua orang pengawal ada di sana, berdiri menjaga pintu kamar Jiwon.

 

“ apakah Jiwon di dalam?” tanya Junsu

 

“ nona muda sedang beristirahat!” jawab salah seorang pengawal

 

“ aku mohon, aku berjanji tidak akan membangunkannya!” pinta Junsu, para pengawal yang sudah terbiasa melihat Junsu hanya mengangguk dan membiarkan Junsu masuk ke dalam kamar Jiwon.

 

Dilihatnya Jiwon terbaring di tempat tidur, bernafas pelan. Wajahnya yang pucat terlihat tenang. Dia baru pulang dari thailand ketika mendapat telfon dari ibunya bahwa Jiwon mengidap kanker lambung dan dia memutuskan untuk langsung datang.

 

“ kau!” gumam Junsu pulan dan duduk di sebelah Jiwon, dilihatnya Jiwon yang terbaring tenang “ kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal Jiwon? Apa aku orang asing bagimu? Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau baru membiarkan aku tau sekarang! Kau menyebalkan sekali!!” kata Junsu menitihka airmata

 

Dia marah karena dia tidak menyadarinya lebih awal. Dia marah karena tidak berusaha mencari tahu. Digenggamnya erat tangan Jiwon dan tidak hent-hentinya dia minta maaf padanya.

 

 

Jiwon keluar dari kamar mandi dengan bantuan dua pelayan yang membantunya memakai baju, pandangannya sudah agak kabur sekarang, jadi dia membutuhkan seseorang untuk menuntunnya berjalan.

 

“ aku mau sarapan di bawah saja hari ini.” Gumam Jiwon

 

“ tapi nona..”

 

“ tidak jangan membantahku!” kata Jiwon

 

“ aigooo…. kau masih juga memarahi orang-orang yang ada di sekitarmu nuna!” gumam Changmin,Jiwon terdiam menoleh ke sumber suara dan samar-samar dilihatnya Changmin yang berdiri di pintu

 

“ minnie?” tanya Jiwon memastikan

 

“ tentu saja, kau kira TOP bigbang yang datang!” kata Changmin melangkah menghampiri Jiwon “ biar aku yang membantunya!” kata Changmin pada pelayan yang mundur memberi jalan padanya

 

“ apa yang kau lakukan disini?” tanya Jiwon senang, airmata bahagia meluncur dari sudut matanya

 

“ apa lagi, aku ingin bertemu nunaku, ayo kita sarapan. Eomma ada dibawah!” kata changmin tersenyum

 

“ jinjja? Eomma juga ada disini?” tanya Jiwon

 

“ mm, jadi ayo! Sini aku yang akan membantumu berjalan mulai sekarang!”

 

Sora berjalan menghampiri Jiwon dan memeluknya langsung ketika melihat Jiwon datang bersama changmin. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Jiwon, diciuminya sekujur wajah Jiwon.

 

“ maafkan eomma sayang!” kata sora

 

“ aniya, aku yang harusnya menemukan eomma duluan!” gumam Jiwon tersenyum

 

“ ja! Ayo semuanya, nanti makanannya jadi dingin loh!” kata Mrs. Jung tersenyum

 

“ hari ini, bagaimana kalau kita bermain nuna? Sampai puas!” usul Changmin

 

“ minnie, jangan mengusulkan hal yang aneh-aneh!” tegur sora

 

“ tidak, aku mau main! Tentu saja! Eomma, nenek berhenti memperlakukanku seperti orang sakit!” marah Jiwon pada sora dan Mrs. Jung. Changmin tertawa sementara Mrs. Jung dan sora pun Juga

 

“ baiklah, kalian boleh bermain, tapi hanya di dalam rumah!” balas Mrs. Jung

 

Changmin dan Jiwon mengangguk senang, Mrs. Jung tersenyum lebar melihat betapa miripnya Jiwon dan Changmin.

 

Bermain kartu, berkebun, atau juga menonton Tv bersama. Hal itu dilakukan oleh Jiwon dan changmin. Sora dan Mrs. Jung  mengawasi mereka dan terkadang ikut bergabung. Mrs. Jung senang, belum pernah dia merasakan suasana sehangat ini di rumahnya. Andai dia menyadari kesalahannya lebih cepat, dia tidak akan membiarkan kebahagiaan ini lenyap.

 

Junsu datang bersama dengan istrinya untuk bergabung di acara makan malam. Dengan senyum manis Jiwon menyambutnya, membuat Junsu tid

 

NB : beb, kmu kirim emailnya kepotong jadi admin re-post seperti ini ^ ^v

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s