FF ( You’re My Endless Love) Part 1




Author : Clara Ines (@claraxia)

 

Cast :

 

Thunder

Lee Soojin

Lee Donghae

Park Jooeun

 

“Jadi kau baru saja jadian dengan Donghae?” Tanya Jooeun kaget.

“Iya.” Kataku sambil menganggukkan kepala.

“Selamat ya.” Ujar Jooeun ikut senang.

“Iya terima kasih.” Kataku.

“Wah kau benar-benar beruntung. Aku juga ingin segera memiliki pacar.” Kata Jooeun lesu.

“Kau pasti akan mendapatkannya. Jadi kau ada seseorang yang disukai?” Tanyaku sambil menatap Jooeun.

“Ada.” Jawabnya singkat.

“Siapa?” Tanyaku penasaran.

“Orang yang kusukai itu Thunder.” Balas Jooeun malu.

“Thunder??” Kataku kaget.

“Iya, ada apa? Kaget ya? Aku memang sudah memendam perasaan cukup lama.” Kata Jooeun.

“Sejak kapan?” Tanyaku mencoba mencari tahu.

“Sudah sejak 2 bulan yang lalu.” Jelas Jooeun.

“Sebenarnya..”

“Sebenarnya apa?” Tanya Jooeun penasaran menunggu jawabanku.

“Aku mengenal Thunder sudah cukup lama.” Kataku.

“Benarkah?”

“Iya, kami itu teman sejak kecil.” Jelasku.

“Ahh Soojin kau mau kan membantu aku? Supaya bisa dekat dengan Thunder.” Pinta Jooeun.

“Baiklah, aku sebagai teman akan membantumu.” Jawabku.

“Benarkah? Terima kasih Soojin-aa.” Spontan Jooeun pun langsung memelukku erat karena terlalu gembira. Tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Aku membuka sebuah sms yang masuk dan mulai membacanya.

 

From : Thunder

Messages :

Aku tunggu di atap sekarang. Kau harus datang

 

Aku terkaget setelah membaca sms itu. Ada apa Thunder mencariku? Dan sepertinya itu suatu yang penting. Aku tidak membalas smsmnya dan segera memasukkan ponsel ke dalam saku rok.

“Jooeun, aku pergi dulu ya. Ada sesuatu yang harus kulakukan.” Kataku sambil bangkit berdiri.

“Oh iya. Bye.” Aku segera berjalan dengan langkah cepat menuju ke atap. Tidak biasanya Thunder mengirim sms sekaku itu. Setelah sampai aku segera membuka pintu atap dan mendapati Thunder sedang bersandar sambil menatapku tajam. Aku berjalan menghampirinya, dan kini aku tepat berada di hadapannya.

“Ada apa? Kenapa wajahmu begitu serius?” Tanyaku.

“Kau benar pacaran dengan Donghae?”

“Apa?”

“Kau pacaran dengan Donghae kan?” Tanya Thunder lagi.

“Iya, darimana kau tau?” Tanyaku balik.

“Kenapa tidak memberitauku?” Ujar Thunder lagi.

“Rencananya aku akan memberi tahumu hari ini sepulang sekolah. Maaf.” Kataku menyesal.

“Ya, kau membuatku kesepian.” Ujar Thunder tiba-tiba.

“Kenapa bisa?”

“Aku yakin kau pasti akan selalu bersama dengan dia, tidak memiliki waktu untuk sahabatmu ini.” Ujar Thunder.

“Thunder-ssi, aku tidak mungkin melupakanmu. Tenang saja.” Kataku sambil memegangi pundak Thunder.

“Dasar bodoh.” Balas Thunder.

“Kenapa mengatakan aku bodoh?” Ujarku sedikit kesal.

“Sebenarnya apa bagusnya Donghae itu? Lebih bagus juga aku.” Kata Thunder sambil memalingkan wajah.

“Astaga, dia itu tipe pria idamanku Thunder. Kau juga lebih baik segera mencari pacar.” Suruhku.

“Tidak ada seseorang yang cocok denganku.”

“Bagaimana kau tahu kalau tidak mencoba. Aku ada seorang calon untukmu.” Kataku sambil tersenyum kecil menatap Thunder.

“Siapa?” Tanya Thunder sambil menatapku.

“Jooeun.”

“Jooeun? Siapa dia?” tanya Thunder.

“Dia itu teman sekelasku. Jadi mau tidak kukenalkan padanya?” Kataku menawarkan.

“Baiklah, terserah padamu saja.” Kata Thunder pasrah.

“Kau mau? Baiklah, akan kuatur pertemuan kalian.” Kataku ikut gembira.

 

***

“Jooeun-aa. Thunder mau berkenalan denganmu.” Kataku melalui telepon.

“Benarkah?”

“Iya.”

“Kau tidak berbohong denganku kan?” Tanya Jooeun lagi masih tak percaya.

“Iya, jadi kalian ingin bertemu kapan?”

“Bagaimana kalau Sabtu besok?”

“Sabtu ya? Akan kutanyakan padanya.”

“Baiklah, terima kasih Soojin-aa.” Kata Jooeun terlalu senang.

“iya.” Telepon pun terputus. Setelah itu tiba-tiba ponselku berbunyi, aku membuka sebuah sms yang masuk.

 

From : Donghae

Messages :

Jagi, aku ingin bertemu denganmu. Bisa tidak?

 

Setelah membaca sms itu aku segera membalasnya.

 

From : Soojin

Messages :

Ingin bertemu dimana oppa?

 

From : Donghae

Messages :

Bagaimana kalau di taman dekat rumahmu?

 

From : Soojin

Messages :

Baiklah oppa

 

From : Donghae

Messages :

Ok, aku akan langsung menemuimu disana ya. Bye jagiya, love yaaa.

 

Setelah membacanya aku tersenyum kecil lalu bersiap untuk pergi ke taman. Kupakai mantel berbulu karena cuaca di luar sedang dingin. Aku berjalan sendirian malam itu menuju ke taman. Setelah sampai, taman itu begitu sepi. Aku berjalan menuju ke bangku taman yang ada disana dan duduk menunggu kedatangan Donghae. 10 menit berlalu Donghae belum juga datang. Aku sudah merasakan sedikit rasa mengantuk dan akhirnya aku pun tertidur disana. Donghae akhirnya sampai juga. Ia segera berjalan mendekat ke arah bangku dan melihat aku sedang tertidur disana. Donghae mendudukan diri di sebelahku dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Karena terkejut otomatis aku langsung terbangun dan menatap Donghae yang sudah berada di sebelahku.

“Sudah lama datang oppa?” Tanyaku.

“Tidak baru saja, maaf ya membuatmu menunggu lama sampai tertidur.” Kata Donghae.

“Tidak apa oppa.” Ujarku lembut.

“Kau lapar tidak?” Tanya Donghae kemudian.

“Sedikit, oppa sendiri?” Balasku.

“Aku sudah menebaknya. Ini kubawakan sandwich. Maaf hanya ini yang bisa kubelikan. Toko-toko sudah tutup semalam ini.” Kata Donghae sambil menyodorkan sepotong sandwich kepadaku. Aku segera menerimanya.

“Terima kasih oppa.” Kataku sambil memandang Donghae dan tersenyum.

“Iya, makanlah.” Suruh Donghae.

“Kau tidak makan jagi?” Tanyaku sambil menatap Donghae.

“Kau saja, aku tahu kau pasti lapar.” Jawab Donghae.

“Ah tidak, kita berbagi saja. Ok?” Aku segera membelah sandwich itu menjadi 2 dan memberikannya kepada Donghae. Ia pun menerima sandwich itu sambil tersenyum.

“Begini kan lebih baik.” Balasku sambil mulai menggigit sandwich itu.

“Tidak apa kau pergi semalam ini? Apakah orang tuamu tidak marah?” Tanya Donghae tiba-tiba.

“Tidak, aku tinggal sendirian.” Jawabku sambil masih memakan sandwich.

“Oh ya, hanya sendiri? Memang orang tuamu dimana?” Tanya Donghae lagi.

“Mereka di Amerika oppa bersama dengan oppaku.” Jawabku.

“Kenapa kau sendiri yang di Korea?”

“Sebenarnya asal kami memang di Korea tapi karena oppaku sakit jadi mereka harus menemaninya di Amerika.” Jelasku.

“Kalau boleh tau memang oppamu sakit apa?” Kata Donghae. “Kalau kau tidak mau cerita juga tidak apa jagi.” Sambung Donghae lagi.

“Aku akan ceritakan semuanya. Jadi dulu aku tinggal bersama orang tuaku disini, hanya saja Kiseop oppa bersekolah di Amerika.” Aku menghentikan cerita itu sejenak dan menarik napas dalam-dalam. Donghae menatapku berusaha menghentikan cerita ini tetapi aku sudah langsung bercerita lagi.

“Suatu saat kami mendapat telepon dari Amerika dan mengatakan bahwa Kiseop oppa mengalami kecelakaan yang parah. Orang tuaku langsung terbang ke Amerika dan aku tetap disini karena masih harus sekolah. Beberapa hari setelah perginya orang tuaku ke Amerika, eommaku menelepon dan memberitau bahwa saraf-saraf Kiseop oppa banyak yang rusak dan saat itu tidak bisa bergerak sama sekali. Dan dokter juga menyarankan supaya Kiseop oppa jangan dibawa ke Korea dulu. Karena dia membutuhkan perawatan yang benar-benar optimal disana.” Jelasku.

“Begitulah ceritanya.” Ujarku lagi sambil bernapas lega.

“Aku turut sedih mendengarnya jagi.” Kata Donghae sambil menarikku ke dalam pelukannya.

“Jadi sudah berapa lama?” Tanya Donghae.

“Apa?”

“Sudah berapa lama oppamu sakit?” Lanjut Donghae.

“Sudah hampir 1 tahun dan masih belum ada kabar keadaannya membaik.” Ujarku lemas.

“Kau tenang saja, aku yakin oppamu pasti akan sembuh.” Balas Donghae menyemangati.

“Iya, terima kasih oppa.” Kataku sabil tersenyum.

“Sudah malam sekali, aku antar kau pulang ya.” Jawab Donghae.

“Tidak perlu, oppa pulang saja aku bisa pulang sendiri.” Kataku.

“Benar tidak apa? Ini sudah sangat malam.” Kata Donghae sedikit cemas.

“Tidak apa kalau oppa mengantarku pasti akan lama karena arahnya berlawanan. Tenang saja, rumahku sangat dekat kok. Aku bisa berlari dengan cepat.” Kataku sambil tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya jagiya.” Kata Donghae lalu berjalan menuju ke mobilnya dan pergi. Hari memang sudah sangat malam dan situasi disitu sangat sepi. Aku segera berjalan dengan langkah cepat. Tiba-tiba saja 2 orang pria asing menghalangi jalanku.

“Mau kemana nona cantik malam-malam begini?” Ujar pria itu dengan keadaan setengah mabuk.

“Minggir.” Aku segera berjalan pergi namun pria itu menarik tanganku.

“Lepaskan.” Ujarku dengan keras. Mereka berdua menarik aku semakin kuat dan hendak membawaku pergi.

“Ya, lepaskan aku.” Teriakku lebih kencang sambil berusaha melepaskan genggaman orang itu.

“Lepaskan dia.” Tiba-tiba saja seseorang menarikku menjauh dan segera menarikku ke dalam tubuhnya yang gagah. Aku mendangakkan kepala menatap orang itu.

“Thunder?” Kataku kaget.

“Kau menjauhlah.” Kata Thunder. Aku pun menuruti kata-katanya dan pergi menjauh.

“Pergi kalian, jangan ganggu gadis ini.” Kata Thunder tegas.

“Ya siapa kau? Berani-beraninya mengganggu kami.” Mereka pun berkelahi saat itu. Thunder memukul 2 orang itu. Mereka saling memukul sampai akhirnya 2 orang itu mengalah dan pergi. Thunder segera berjalan menghampiriku yang saat itu sedang duduk di atas batu sambil masih merasa ketakutan.

“Kau tidak apa?” Tanya Thunder.

“Aku takut sekali tadi.” Aku segera memeluk Thunder dengan erat sambil menangis.

“Sudah tenanglah, aku disini.” Kata Thunder menenangkan.

“Terima kasih Thunder.” Kataku sambil melepas pelukan dan menatap Thunder.

“Iya.” Ujarnya.

“Thunder, wajahmu.” Kataku kaget saat melihat wajah Thunder penuh dengan memar-memar.

“Tidak apa, hanya memar sedikit. Nanti juga akan sembuh.” Kata Thunder lagi.

“Tapi ada luka yang berdarah. Aku akan mengobatimu.” Aku segera menarik Thunder dan membawanya pergi ke rumah untuk mengobatinya. Tak lama kemudian kami sampai di depan rumah. Aku segera membuka pintu dan membiarkan Thunder masuk.

“Duduk disini dulu.” Aku menyuruh Thunder duduk di pinggir ranjang. Aku langsung mengambil kotak obat yang ada di lemari.

“Maaf membuatmu jadi seperti ini.” Ujarku sambil mengoleskan obat merah di luka-luka yang ada di wajah Thunder.

“Tidak apa. Jadi kenapa kau keluar malam-malam begini sendirian?” Tanya Thunder.

“Oh, aku tadi habis bertemu dengan Donghae.” Jelasku.

“Apa? Dan Donghae tidak mengantarmu pulang. Keterlaluan sekali orang itu.” Kata Thunder kesal.

“Bukan salah dia. Aku yang tidak mau diantar.” Kataku.

“Dasar bodoh. Ini sudah malam Soojin-aa, berbahaya untuk gadis sepertimu berkeluyuran. Bagaimana kalau tadi aku tidak ada? Habislah kau.” Ujar Thunder.

“Ya, jangan mengatakan aku bodoh lagi.” Tanpa sengaja aku menekan salah satu luka Thunder.

“Aww.” Katanya kesakitan.

“Ahh maaf.” Kataku sambil kembali mengobatinya. “Maafkan aku. Aku janji tidak akan pergi malam-malam lagi.” Kataku menyesal.

“Lain kali kalau kau butuh bantuan segeralah hubungi aku. Kalau pacarmu itu tidak bisa diandalkan.” Kata Thunder.

“Baiklah, Thunder-ssi jangan menjelek-jelekan Donghae lagi.” Kataku sambil menatap Thunder tajam.

“Iya, aku tau. Maaf.” Kata Thunder.

“Nah lukanya sudah selesai diobati. Sebentar lagi akan sembuh.” Kataku sambil tersenyum.

“Terima kasih sudah mengobati.” Balas Thunder.

“Iya.” Jawabku.

“Kalau begitu aku pulang dulu ya.” Kata Thunder.

“Iya, cepatlah pulang. Sudah sangat malam.” Ujarku. Thunder pun menganggukan kepala. Aku berjalan turun mengantarkan Thunder sampai ke depan pagar.

“Aku pulang ya.” Balas Thunder sambil tersenyum.

“Iya hati-hati.” Kataku.

“Cepatlah masuk, udara sangat dingin. Kau bisa sakit.” Perintah Thunder.

“Baiklah, aku masuk.” Aku tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Thunder tersenyum lalu ia melanjutkan langkahnya untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ia segera masuk ke kamar dan berbaring disana. Ia merogoh saku celana dan mengeluarkan dompet. Kemudian dia membuka dompet dan memandangi foto yang ada disana. Sesekali ia tersenyum sambil melihatnya.

“Apakah aku bisa memilikimu?” Kata Thunder sambil terus memandangi foto itu. “Ataukah aku harus melepaskanmu dan membiarkanmu bahagia bersama dengan orang lain?” Sambung Thunder lagi. Ia masih terus saja memandangi foto itu. Foto seorang gadis cantik. Gadis cantik bernama Soojin yang sangat dicintai oleh Thunder.

***

Matahari kembali bersinar terang. Aku terbangun dari tidur dan segera menuju ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah. Seperti biasa aku menunggu kedatangan Thunder di depan pagar. Karena rumah kami berdekatan jadi kami selalu berangkat bersama.

“Sudah menunggu lama?” Kata Thunder tiba-tiba. Aku menoleh ke kiri dan mendapati Thunder sedang berjalan menghampiriku.

“Lumayan.” Kataku sambil tersenyum.

“Maaf. Ayo kita berangkat.” Kami pun ahirnya berjalan bersama menuju ke sekolah. Beberapa menit kemudian kami pun sampai di sekolah.

“Pulang nanti kau tidak usah menungguku.” Kataku.

“Kenapa?”

“Aku akan pulang bersama dengan Donghae.” Kataku lagi. “Tidak apa kan?” Sambungku lagi sambil menatap wajah Thunder yang sedikit lesu.

“Baiklah, selamat bersenang-senang dengannya.” Kata Thunder kemudian langsung berjalan pergi.

“Ya, kenapa dia marah begitu? Ada yang salah ya?” Batinku heran. Aku lalu melanjutkan langkah dan menuju ke kelas.

“Soojin-aa.” Panggil Jooeun. Begitu mendengar suara Jooeun aku langsung duduk disebelahnya.

“Ada apa?”

“Selama ini kau selalu berangkat bersama Thunder ya?” Tanya Jooeun.

“Bagaimana kau tau?”

“Baru saja aku melihat kalian dari sini.” Kata Jooeun. “Kau beruntung sekali, aku juga ingin.” Kata Jooeun iri.

“Tenang saja, setelah mengenalnya kau pasti bisa.” Kataku.

“Benarkah?” Ujar Jooeun.

“Iya. Nanti istirahat aku akan membawanya kesini. Supaya bisa mengobrol banyak denganmu.” Ujarku.

“Oh terima kasih Soojin.” Kata Jooeun senang.

 

***

Bel isitirahat berbunyi. Aku segera mengirimkan sms kepada Thunder supaya ia datang ke kelasku.

 

From : Soojin

Messages :

Bisa datang ke kelasku sekarang?

 

From : Thunder

Messages :

Untuk apa? Baiklah aku akan datang

 

“Bagaimana?” Tanya Jooeun tak sabar.

“Dia akan datang.” Ujarku.

“Ah baguslah, aku jadi merasa tegang ingin bertemu dengannya.” Kata Jooeun.

“Tidak apa.” Aku segera membuka ponsel kembali dan mengirimkan sms kepada Donghae.

 

From : Soojin

Messages :

Oppa bisa datang ke kelasku tidak?

 

From : Donghae

Messages :

Maaf, aku sedang sibuk sekarang. Lain kali saja ya.

 

To be continue

 

FF ( You’re My Endless Love) Part 2

 

Aku langsung lemas begitu membaca sms itu. Bahkan tidak ada kesempatan sedikit pun untuk bertemu. Tak selama berapa lama kemudian Thunder datang ke kelas dan segera menghampiriku.

“Kenapa menyuruhku kemari?” Ujar Thunder sambil menjitak kepalaku lalu ia duduk dan tersenyum.

“Ya bisakah tidak memukul?” Kataku kesal.

“Iya, maaf. Jadi ada apa?”

“Aku ingin mengenalkan kau dengan temanku.” Kataku.

“Siapa?”

“Yang dulu pernah aku ceritakan padamu.”

“Jooeun itu?” Ujar Thunder.

“Iya, ini dia orangnya.” Aku menoleh dan menatap Jooeun yang saat itu ada di sebelahku.

“Halo, aku Park Jooeun.” Kata Jooeun sambil tersenyum.

“Halo, aku Thunder.”

“Kenapa wajahmu memar-memar seperti itu?” Tanya Jooeun.

“Oh ini karena berkelahi.”

“Jadi apakah sakit?” Tanya Jooeun khawatir.

“Tidak sakit lagi. Kemarin sudah diobati oleh Soojin.” Jelas Thunder.

“Oh benarkah? Jadi kau ada disana sewaktu perkelahian itu terjadi?” Kata Jooeun lagi sambil menatapku.

“Iya.” Ujarku.

“Semoga kau lekas sembuh.” Jawab Jooeun.

“Terima kasih.”

“Oh ya, Thunder kau bisa kan berjalan-jalan dengannya Sabtu ini?”

“Sabtu? Baiklah.” Balas Thunder.

“Ah terima kasih.” Kata Jooeun bahagia.

“Ya Thunder-ssi.” Kataku.

“Ada apa?” Aku mendekat ke arah Thunder dan membisikinya sesuatu.

“Donghae apakah sedang sibuk?” Kataku dengan suara pelan.

“Aku tidak tau, tapi seperti tidak. Kenapa?”

“Ah tidak apa.” Kataku.

 

***

Bel pulang berbunyi. Aku segera mengemas barang-barangku dan memasukkannya ke dalam tasku.

“Jooeun-aa, duluan ya.” Kataku berpamitan.

“Pasti kau akan menemui Donghae ya?” Tebak Jooeun.

“Ah iya. Bye.”

“Bye.” Aku pun segera keluar dari kelas dan menuju ke kelas Donghae. Sesampainya disana aku mengintip dari ambang pintu sambil mengintip mencari keberadaan Donghae di dalam kelas.
“Kenapa disini?” Tiba-tiba Thunder mengagetkan.

“Mencari Donghae, dimana dia?” Tanyaku.

“Dia baru saja pergi. Katanya ada urusan penting. Dia tidak memberitaumu?” Kata Thunder.

“Tidak sama sekali.”

“Donghae itu benar-benar buruk. Cepat kau tanya padanya. Aku akan menunggu disini.” Ujar Thunder sambil duduk di kursi yang ada di depan kelas.

“Untuk apa kau menunggu disini?”

“Kalau dia tidak bisa mengantar kan aku bisa menemanimu.” Jelas Thunder.

“Ah terima kasih, kau ini memang sahabatku yang paling baik.” Kataku senang. Aku segera mengeluarkan ponsel dan menelepon Donghae.

“Halo.”

“Halo jagi.”

“Ahh maaf lupa memberitaumu. Hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu.” Kata Donghae.

“Oh begitu. Baiklah.”

“Ok, maaf ya jagi. Lain kali aku akan pulang bersamamu.”

“Iya.” Telepon pun terputus. Aku memasukkan ponsel itu kembali di saku rok dan berbalik menatap Thunder dengan wajah lesu.

“Pasti dia tidak bisa ya?” Kata Thunder. Aku menganggukkan kepala pelan.

“Sudah jangan sedih.” Kata Thunder sambil memegangi kepalaku.

“Dia akhir-akhir ini terlalu sibuk.” Kataku.

“Sudah berapa hari?”

“3 hari ini. Tidak ada kabar sama sekali. Kalau aku tidak menelepon atau mengirim sms dia tidak akan menceritakan kesibukannya padaku.” Ujarku sedih.

“Aku sudah mengiranya dari awal.”

“Maksudmu?”

“Tidak apa, lupakan saja. Mau pulang tidak?” Balas Thunder.

“Iya.” Aku dan Thunder pun bangkit berdiri dan berjalan pulang bersama.

“Ya Thunder-aa.” Panggilku di tengah perjalanan.

“Ada apa?”

“Kalau kau sudah punya pacar dan kebetulan kau sangat sibuk dengan sesuatu apakah kamu juga akan bersikap seperti Donghae?” Tanyaku.

“Maksudmu tidak memberi kabar begitu?”

“Iya.” Aku mengangguk.

“Tentu saja tidak.” Jawab Thunder tegas.

“Lalu?”

“Sesibuk apapun, aku pasti akan memberikan sedikit waktuku untuk orang yang aku cintai.” Thunder berkata dengan sepenuh hatinya. Ia menatapku yang sedang berdiri tepat di sebelahnya.

“Jadi Donghae tidak mencintaiku mungkin?” Kataku lemas.

“Mungkin saja kepentingan dia benar-benar mendesak. Kau tunggu saja sampai nanti malam. Semoga saja dia cepat menghubungimu. Jangan sedih ya.” Thunder kembali mengacak-acak rambutku.

“Terima kasih Thunder, kau memang sahabatku yang paling baik.” Kataku smabil tersenyum. Tak terasa kami sudah sampai di depan rumahku.

“Aku masuk ya.” Ujarku sambil tersenyum.

“Ok. Bye.”

“Terima kasih atas saran dan hiburanmu hari ini. Bye Thunder.” Aku melambaikan tangan padanya lalu segera masuk ke dalam rumah.

 

***

Jam menunjukan pukul 7 malam. Aku terbangun dari tidur siang tadi. Kurenggangkan seluruh otot-otot tanganku dan aku mulai menggeliat. Kuraih ponsel yang ada di atas meja dan sampai sekarang belum ada kabar apapun dari Donghae. Aku berusaha untuk menahan keinginan menelepon dia. 1 jam berlalu aku masih tetap memandangi ponsel yang terasa sepi itu. Kemudian akhirnya aku mengambil ponsel itu di tangan dan menelepon.

“Halo.” Jawab seseorang diseberang sana.

“Dia tidak memberi kabar.”

“Siapa? Donghae?” Balas Thunder.

“Iya. Menyebalkan.”

“Sampai sekarang dia belum mengabarimu?” Ulang Thunder lagi.

“Iya, aku merasa seperti tidak memiliki pacar.” Ujarku.

“Jangan begitu.”

“Thunder-ssi.”

“Ada apa?”

“Bisa datang ke rumahku tidak?” Tanyaku.

“Untuk?”

“Aku kesepian sekali sekarang. Aku butuh seseorang menemaniku sekarang.” Kataku.

“Baiklah aku akan kesana sekarang.”

“Benarkah? Ok, aku tunggu.” Telepon pun terputus. Aku meletakkan ponsel itu di atas meja lagi dan kembali berbaring. Tak lama kemudian bel berbunyi dan kupastikan itu adalah Thunder. Aku segera turun dan membuka pintu.

“Kau sudah datang.” Kataku tersenyum sambil membuka pintu. Aku terkaget saat melihat siapa yang ada dihadapanku sekarang.

“Donghae?”

“Kenapa kaget begitu?” Tanya Donghae sambil tersenyum.

“Tidak, kenapa datang?”

“Aku ingin menebus kesalahan selama ini. Maaf tidak memberi kabar.” Kata Donghae.

“Ok tidak apa oppa.” Balasku.

“Jadi bolehkah aku masuk jagi?”

“Oh tentu saja.” Aku tersenyum sambil membuka pintu lebih lebar supaya Donghae bisa lewat. Tanpa sengaja Thunder melihat kejadian itu. Dia melihat Donghae masuk ke dalam rumah. Oleh karena itu Thunder mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah. Ia segera pergi dari sana dengan lesu. Dikeluarkannya ponsel dari saku celana lalu ia mengirimkan sms.

 

From : Thunder

Messages :

Sepertinya sudah ada seseorang yang akan menemanimu hari ini.

 

From : Soojin

Messages :

Maaf Thunder-ssi, aku tidak tau dia akan datang. Maaf sekali.

 

Thunder tidak membalas sms itu. Ia memasukkan ponselnya kembali dan ia berjalan pulang ke rumahnya. Di sisi lain aku dan Donghae berada di ruang tengah dan mengobrol bersama.

“Jadi apa yang oppa lakukan akhir-akhir ini?” Tanyaku.

“Aku membantu ayahku menyelesaikan tugas kantornya. Ya untuk belajar mengenai usaha juga. Kau kesepian tidak?”

“Tentu saja.” Kataku.

“Maaf ya, aku tidak bermaksud.” Di dalam pembicaraan itu aku sama sekali tidak berkonsentrasi. Terkadang aku melirik ponsel yang sedari tadi kupegang dan tidak ada sms balasan apapun dari Thunder.

“Pekerjaan itu menyenangkan juga menurutku. Iya kan jagi?” Donghae menatap dan mendapati aku sedang risau tidak mendengarkan pembicaraanya.

“Jagi.” Panggil Donghae.

“Ah iya, ada apa oppa?”

“Kau kenapa? Sepertinya daritadi tidak berkonsentrasi. Ada apa?” Tanya Donghae cemas.

“Tidak oppa, hanya saja aku sedikit lelah.” Kataku.

“Begitu ya, baiklah lebih baik kau banyak istirahat. Jangan sampai sakit.” Kata Donghae.

“Iya oppa.” Ujarku sambil tersenyum.

“Aku pulang dulu kalau begitu. Jangan tidur terlalu larut.” Kata Donghae.

“Iya oppa.” Aku mengantarkan Donghae sampai di depan pagar. Setelah dia pergi aku segera masuk dan kembali memandangi ponsel yang tetap kosong. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Thunder.

“Ayo angkat.” Kataku sambil menunggu jawaban. Thunder sama sekali tidak mengangkat telepon itu. Aku berkali-kali menelepon tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya aku memutuskan untuk ke rumahnya. Segera aku memakai mantel berbulu dan berjalan ke rumah Thunder. Sesampainya di depan rumahnya aku langsung berteriak sekencang mungkin.

“Thunder-ssi kenapa tidak menjawab teleponku?” Teriakku dengan kencang di depan rumahnya. Tetap saja tidak ada jawaban.

“Thunder-ssi kalau kau tidak membukakan pintu aku akan terus menunggu disini sampai bsia bertemu denganmu. Aku tidak peduli dengan apapun. Aku tidak peduli orang-orang terganggu dengan suara. Kumohon keluarlah.” Teriakku lagi dengan suara lebih keras. Dan Thunder belum juga muncul.

“Thunder-ssi.” Aku berteriak dengan kencang. Aku menjongkokkan diri disana dan mendekap wajahku erat.

“Thunder-ssi, maafkan aku. Kumohon.” Kataku dengan suara terisak-isak.

“Aku disini.” Kata seseorang. Aku mendangakkan kepala dan mendapati Thunder berdiri tepat di depanku. Aku segera berdiri dan tersenyum kepadanya.

“Jangan begini kumohon.” Aku langsung saja memeluk Thunder dengan erat.

“Aku tersiksa.” Kataku sambil mengeluarkan airmata.

“Maaf.” Kata Thunder. Aku melepaskan pelukan itu dan menatap Thunder tajam.

“Maaf, aku sama sekali tidak menyangka dia akan datang tadi. Aku tidak bermaksud begitu padamu.” Kataku menjelaskan.

“Baiklah, aku mengerti.” Kata Thunder sambil memelukku lagi.

“Jangan berteriak-teriak seperti tadi lagi. Kau akan membuat dirimu malu.” Kata Thunder.

“Tidak apa, asal kau tidak marah denganku.” Ujarku.

“Iya, aku tidak marah denganmu.” Balas Thunder. “Aku antar kau pulang. Ini sudah malam.” Sambung Thunder.

“Iya, kau tidak marah denganku kan? Benar kan?” Tanyaku lagi.

“Iya aku sama sekali tidak marah denganmu. Maaf membuatmu khawatir.” Balas Thunder.  Kami pun berjalan bersama ke rumah. Setelah sampai aku melambaikan tangan kepada Thunder dan segera masuk ke rumah.

 

***

Hari ini hari Sabtu, sekolah libur dan aku bisa bersenang-senang di rumah dengan puas. Jam menunjukan pukul 8 pagi. Aku mengambil ponsel dan membuka sms yang masuk.

 

From : Donghae

Messages :

Good morning jagiyaa. Hope you have a great day

 

Aku tersenyum dan langsung membalas sms itu. “Good morning, have a blast day. Love yaa.” Setelah membaca sms itu aku segera membuka sms kedua.

 

From : Thunder

Messages :

Aku harus pergi dengan Jooeun kah?

Aku segera membalasnya. “Tentu saja, kau kan sudah berjanji dengannya.” Beberapa menit kemudian terdapat sms balasan dari Donghae.

 

From : Donghae

Messages :

Jagi maaf hari ini aku tidak menemanimu. Akan kuganti lain kali, maaf ya. Loveyou

 

Aku sedikit kecewa saat membaca sms itu. Lagi-lagi dia lebih mementingkan urusannya dari pada aku. Akhirnya hari ini pun aku jalan hanya dengan menonton TV saja di rumah tidak ada kerjaan lain.

 

***

Malam ini Jooeun dan Thunder akan bertemu dan pergi bersama. Pukul 6 Jooeun sudah menunggu di sebuah cafe cukup lama. Beberapa menit kemudian Thunder datang.

“Maaf membuatmu menunggu.” Kata Thunder sambil duduk.

“Tidak apa. Mau pesan apa?” Tanya Jooeun. Thunder pun mulai memesan makanan dan memberitaukannya kepada pelayan.

“Hari ini kau cantik.” Kata Thunder memuji.

“Oh benarkah? Terima kasih.” Kata Jooeun tersipu malu.

“Jadi kau itu sahabat baik Soojin?”

“Iya, kami sahabat dari kelas 1. Aku tidak menyangka ternyata kalian itu teman sejak kecil.”

“Oh ya, ngomong-ngomong kau sudah punya pacar?” Tanya Jooeun.

“Belum. Kenapa?”

“Tidak hanya bertanya. Tidak menyangka pria setampan kau belum punya pacar.”

“Karena aku sedang menunggu cintaku datang dengan sendirinya.”

“Ah iya, cinta itu akan datang dan pergi sendiri.” Balas Jooeun. Beberapa menit kemudian makanan telah datang. Mereka pun menikmati makanan sambil mengobrol bersama.

 

***

Aku terbangun karena suara ponsel yang terus berbunyi. Segera aku mengambil ponsel itu dan  tersenyum saat membaca nama yang tertera.

“Eomma.”

“Soojin-aa.” Kata wanita setengah baya itu dengan suara lemas.

“Kenapa suara eomma seperti itu? Keadaan disana baik-baik saja kan?”

“Soojin-aa.”

“Iya eomma, Ada apa?”

“Ada yang ingin eomma bicarakan dan ini penting.”

“Ok bicara saja eomma aku mendengarkan.”

“Kiseop…” Kata-kata itu terhenti sejenak. Perasaanku sedikit tidak enak saat eomma menyebut nama Kiseop oppa.

“Oppa kenapa?”

“Kiseop, oppamu dia baru saja meninggal.” Seketika itu juga aku langsung terkaget bagai disambar petir.

“Apa?”

“Iya, dia baru saja meninggal. Dia tidak bisa bertahan lagi. Kami akan membawanya pulang besok.” Aku langsung menjatuhkan ponsel itu dan terduduk lemas. Airmataku jatuh dengan sendirinya. Aku bangkit berdiri dan mengambil sebuah pigura foto. Pigura yang berisi fotoku dan Kiseop oppa. Aku menangis sambil memeluk pigura itu.

“Oppa, kenapa kau pergi begitu saja.” Kataku dengan suara terisak-isak. Dengan cepat aku langsung mengambil ponsel hendak menelepon Donghae tetapi dia tidak menjawabnya. Lagi-lagi dia terlalu sibuk sampai tidak mengangkat. Tidak peduli dengan situasi apapun akhirnya aku menelepon Thunder.

“Halo.”

“Halo.. Thunder-ssi.” Kataku dengan suara terisak-isak.

“Kau kenapa?”

“Thunder-ssi.”

 

To be continue

 

FF ( You’re My Endless Love) Part 3

 

“Thunder-ssi.” Kataku dengan suara terisak.

“Ya, ada apa denganmu?” Kata Thunder.

“Siapa?” Tanya Jooeun.

“Maaf aku akan menerima telepon dulu.” Thunder berjalan menjauh dan keluar dari cafe itu untuk mencari suasana hening.

“Soojin-aa ada apa?”

“Kau bisa datang kesini sekarang? Aku sangat sedih.”

“Baiklah, aku akan segera datang. Kau tunggu ya.” Thunder segera mematikan ponselnya dan masuk ke dalam untuk berpamitan dengan Jooeun.

“Ada masalah?” Tanya Jooeun saat melihat Thunder masuk dengan wajah bingung.

“Maaf, aku harus pergi sekarang.”

“Oh baiklah, semoga masalahmu cepat selesai.” Kata Jooeun.

“Iya, sekali lagi maaf harus membatalkan acara ini.” Ujar Thunder sambil membungkukan badan menyesal.

“Iya.” Jawab Jooeun sambil tersenyum. Thunder segera pergi. Ia menaiki mobilnya dan melaju dengan cepat menuju ke rumahku. Beberapa menit kemudian Thunder sampai. Dia segera membuka pintu pagar dan masuk ke dalam rumah. Thunder menaiki lantai 2 dan masuk ke kamarku.

“Soojin, apa yang terjadi?” Aku menoleh ke arah pintu dan mendapati Thunder telah berada disana. Dengan cepat aku menghampiri dia dan memeluknya dengan erat sambil menangis.

“Thunder.” Ujarku dengan suara tangisan yang semakin keras.

“Ya, tenang dulu dan ceritakan pelan-pelan. Apa yang sebenarnya terjadi.” Kata Thunder sambil mendudukkanku di atas kasur.

“Kiseop oppa.”

“Kiseop hyung? Ada apa dengannya?”

“Oppa sudah meninggal.” Kataku dengan suara terisak-isak.

“Apa?” Thunder langsung terkaget begitu mendengarkan berita itu.

“Darimana kau tahu?”

“Baru saja eommaku menelepon. Thunder, aku sangat kehilangan sekarang.” Ujarku sedih.

“Tenanglah, jangan menangis lagi. Kiseop hyung pasti tidak akan senang melihatmu seperti ini. Kau harus merelakan dia.” Kata Thunder sambil membelai rambutku.

“Bahkan disaat dia menghembuskan napas terakhirnya, aku tidak ada disana menemani dia.” Kataku lagi.

“Soojin, lebih baik sekarang kita berdoa saja untuk ketenangannya.” Aku pun kini sudah mulai sedikit tenang.

“Kau sudah memberitau Donghae?”

“Dia bahkan tidak mengangkat teleponku sejak tadi.” Kataku kesal.

 

***

Hari ini adalah hari pemakaman Kiseop oppa. Aku, ayah dan ibu bersama dengan tamu-tamu lain yang datang berdiri disana dan mendoakan Kiseop oppa. Thunder dengan senantiasa menemaniku. Disaat aku terpuruk dan disaat apapun. Pukul 12 siang acara pemakaman selesai. Aku bersama dengan ayah dan ibu pulang ke rumah untuk menenangkan diri. Dan selama 3 hari ini tidak ada kabar sama sekali dari Donghae. Setelah beberapa hari menenangkan diri di rumah sekarang aku sudah mulai masuk ke sekolah kembali. Walaupun masih terasa lemas dan tidak bersemangat tetapi aku tidak ingin terlalu banyak ketinggalan pelajaran. Aku masuk ke kelas dan berusaha untuk tersenyum kepada semua orang. Supaya tidak memperlihatkan bahwa aku sedang dalam keadaan sedih.

“Soojin, kenapa tidak masuk selama ini? Aku sangat merindukanmu.” Kata Jooeun.

“Maaf, aku sakit jadi tidak bisa masuk. Sekarang kan aku sudah disini. Kau tidak perlu merindukanku lagi.” Ujarku sambil tersenyum.

“Oh ya bagaimana kencanmu dengan Thunder Sabtu lalu?” Tanyaku.

“Sebenarnya semua lancar. Tapi dia tiba-tiba menerima telepeon dan pergi. Sepertinya ada suatu masalah.” Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu, saat aku panik dan menelepon Thunder itu adalah hari Sabtu. Berarti aku telah menganggu dia. Tapi kenapa dia mau datang ke tempatku saat itu? Bukankah dia sedang bersama dengan Jooeun?

“Kenapa melamun?” Tanya Jooeun sambil mengibaskan kedua tangannya di depan wajahku.

“Tidak apa.”

“Oh ya, hubunganmu dengan Donghae baik-baik saja kan?” Kata Jooeun.

“Sepertinya tidak terlalu baik.”

“Kenapa?”

“Aku berencana untuk putus dengannya.”

“Apa? Memang kenapa?”

“Dia sama sekali tidak mempunyai waktu untukku. Disat aku membutuhkan dia, dia tidak ada disampingku.” Ujarku.

“Benarkah? Lalu kapan kau akan mengatakannya?”

“Mungkin nanti sepulang sekolah.”

“Tidak bisa kau pikirkan lagi matang-matang?” Tanya Jooeun.

“Aku sudah memikirkannya semalam dan ini keputusan yang paling tepat.” Ujarku sambil tersenyum kecil. Aku mengeluarkan ponsel dan mengirimkan sms kepada Donghae.

 

From : Soojin

Messages :

Donghae, ada yang ingin kubicarakan sepulang sekolah. Kutunggu di depan ya.

 

***

Bel pulang berbunyi, aku segera membereskan barang dan menuju ke depan untuk menemui Donghae. Sekitar 15 menit aku menunggu disana akhirnya Donghae datang.

“Jagi maaf membuatmu menunggu.” Kata Donghae sambil tersenyum.

“Donghae-ssi.” Ujarku dengan wajah serius.

“Kenapa jagi?”

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Apa?” Tanya Donghae.

“Aku ingin kita akhiri saja hubungan ini.” Kataku.

“Apa? Kenapa jagi? Apakah aku bersalah denganmu? Kalau memang begitu, aku minta maaf.” Kata Donghae lemas.

“Kurasa hubungan ini memang tidak bisa dilanjutkan lagi. Kau terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri dan tidak memiliki waktu untukku.”

“Maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” Kata Donghae berusaha membujukku.

“Sudah terlambat. Bahkan disaat aku benar-benar terpukul, kau tidak ada bersamaku.”

“Jagi.”

“Kau tau kemarin Sabtu oppaku baru saja meninggal. Aku dengan cepat langsung menghubungimu tetapi kau tidak menjawabnya. Dan sampai beberapa hari pun kau tidak ada kabar. Saat pemakaman pun kau tidak hadir. Jadi kita memang harus berakhir.”

“Soojin, maafkan aku.” Kata Donghae menyesal.

“Aku tidak butuh maaf, semua itu sudah terlambat. Jadi kita jalani hidup kita masing-masing.” Kataku.

“Baiklah, maaf telah membuatmu begitu kecewa.” Jawab Donghae.

“Ok, tapi ingat jangan lakukan ini pada pacarmu selanjutnya.” Kataku sambil tertawa kecil.

“Iya.”

“Ok kalau begitu. Bye, semoga kau mendapatkan seseorang lebih baik.”

“Iya, kau juga.” Aku pun segera pergi meninggalkan Donghae.

 

***

“Soojin.” Kata Jooeun di telepon.

“Ada apa?”

“Hari ini aku berencana untuk menembak Thunder.”

“Apa?”

“Aku akan menembak Thunder hari ini.” Begitu mendengar kata-kata itu aku langsung terkaget. Kenapa aku merasa tidak rela menyerahkan Thunder kenapa Jooeun? Kenapa aku jadi merasa takut dan cemas. Apa yang akan terjadi nanti? Apakah Thunder akan menerimanya?

“Halo Soojin, kau masih disana?”

“Ah iya, maaf. Semoga kau berhasil.”

“Iya, aku juga berharap begitu. Oh ya, bagaimana dengan Donghae?”

“Aku baru saja putus dengannya tadi siang. Untung dia bisa menerima semuanya.”
“Tadi siang?”

“Iya, dan perasaanku jauh lebih tenang sekarang.”

“Baiklah, semoga kau segera menemukan pria yang cocok. Bye Soojin.”

“Ok Bye Jooeun.” Telepon pun terputus. Aku segera merebahkan badan di atas kasur dan memandang kosong ke arah langit-langit kamar.

“Ya Tuhan, kenapa aku menjadi begini? Kenapa aku tidak rela Thunder diambil oleh Jooeun? Apakah yang terjadi Tuhan? Apakah aku menyukai Thunder?” Kataku dengan suara keras. Aku berpikir cukup lama. Sambil sesekali mengingat kembali kenangan yang aku lakukan dengan Thunder. Semua kejadian yang selalu membuatku nyaman. Dan setelah lama berpikir, akhirnya aku sadar sebenarnya orang yang kusukai adalah Thunder.

 

***

“Ada apa memanggiku kemari?” Kata Thunder sambil berjalan menghampiri Jooeun di sebuah taman.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu?”

“Apa itu?”

“Thunder-ssi.” Kata Jooeun sambil menatap Thunder tajam.

“Iya?”

“Aku menyukaimu sejak dulu. Maukah kau menjadi pacarku?” Jooeun berkata dengan cepat sambil menundukan kepala berharap Thunder akan memberikan jawaban yang menyenangkan bukan mengecewakan.

“Apa?” Ujar Thunder kaget. Jooeun mendangakkan kepala dan menatap Thunder lagi. “Kau menyukaiku?” Sambung Thunder.

“Iya.” Jawab Jooeun.

“Jadi bagaimana jawabannya?” Tanya Jooeun.

“Maaf, aku menyukai orang lain.”

“Apa?” Ujar Jooeun kaget.

“Maaf Jooeun-aa, aku sudah menyukai orang lain.” Jelas Thunder.

“Siapa?”

“Soojin.”

“Jadi kau menyukai Soojin?”

“Iya sudah sejak lama tapi aku tidak berani mengungkapkannya.” Kata Thunder.

“Begitu ya, berarti cintaku bertepuk sebelah tangan.” Ujar ooeun sedikit kecewa dan sedih.

“Sekali lagi maaf.”

“Baiklah tidak apa, aku menghargai kepeutusanmu. Cepat tembak dia. Sebelum kau kehilangan Soojin.” Kata Jooeun.

“Tapi dia masih berpcaran dengan Donghae.”

“Tidak.”

“Apa?”

“Mereka sudah putus.” Jelas Jooeun. “Segera tembak dia. Aku pergi dulu ya.” Kata Jooeun lalu pergi dari taman itu. Thunder maish tidak bisa percaya tapi dengan segera ia mengeluarkan ponsel dan mengirimkan sms.

 

From : Thunder

Messages :

Aku tunggu di taman yaa.

 

From : Soojin

Messages :

Ada apa? Baiklah, aku akan segera datang.

 

Setelah membalas sms itu aku segera bersiap untuk keluar dan berjalan sendiri ditengah kesunyian malam itu menuju ke taman. Setelah sampai aku segera berjalan mencari Thunder. Kulihat dia sedang duduk diatas rerumputan sambil memandang dedaunan yang ada di depannya.

“Sudah lama?” Kataku sambil duduk menyebelahi Thunder. Ia menoleh dan tersenyum menatapku.

“Tidak.”

“Ada apa menyuruhku kemari?”

“Udara hari ini sangat sejuk dan segar. Aku ingin menikmatinya bersamamu.”

“Ya, sejak kapan kau menjadi romantis sepeti ini?” Kataku sambil tertawa kecil.

“Kenapa tertawa begitu? Aku ini juga pria, jadi pasti mempunyai sisi romantis.” Kata Thunder.

“Soojin.” Panggil Thunder.

“Ada apa?” Aku menoleh dan menatap Thunder.

“Boleh tidak aku bersama denganmu selamanya?”

“Apa?” Kataku kaget.

“Bisakah aku terus berada disisimu, melindungimu, memelukmu dan mencintaimu dengan sepenuh hatiku.” Kata Thunder sambil menatapku tajam. Aku masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Thunder itu.

“Aku menyukaimu Soojin. Jadi apakah boleh?”

“Jangan bilang kau sedang menembakku?”

“Ya, kau ini memang polos atau pura-pura polos? Apakah kurang keren?” Tanya thunder.

“Tidak, ini sudah keren.” Jawabku.

“Jadi bagaimana?”

“Bagiamana apa?”

“Tentu saja jawabannya? Boleh tidak aku bersama denganmu?”

“Boleh.” Jawabku singkat.

“Benarkah? Kau tidak bohong?” Ujar Thunder senang.

“Tentu saja. Tapi kau sudah berjanji selamanya ya?”

“Baiklah selamanya aku akan mencintai dan melindungimu.” Ujar Thunder. Aku tersenyum sambil menatap Thunder.

“Love ya.” Kataku sambil menyandarkan kepala di bahu Thunder.

“Love yaa.” Ujar Thunder sambil menyandarkan kepalanya tepat dikepalaku.

 

The End

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s