Broken Heart Tragedy


Author: Tasya/ funtasya
 
Length: Ficlet
 
Cast: Oh Sehun, Han Eunbi(OC), Byun Baekhyun
 
Rating: General
 
Genre: Romance, Family 
 
 
Eunbi POV
 
Entah sudah berapa lama aku berdiri di depan cermin. Memeriksa ada tidaknya cacat pada penampilanku dari atas sampai bawah. Simple make up, ponytail hair, orange mini dress, flat shoes. Perfect, gumamku.
 
Flashback
 
“Eunbi-ah, sudah berapa lama ya kita jalan bareng setelah kita ketemu pertama kali?” tanya namja bernama Oh Sehun itu saat kami sedang berjalan mengitari Hangang Park di sore hari.
 
“Uhm, tak terhitung,” jawabku. “Memang kenapa, Sehun-ah? Kau merasa tidak nyaman denganku ya?”
 
“Tidak nyaman katamu?” Sehun tertawa kecil, “Kau sok tahu. Justru aku ingin bilang, aku merasa jauh lebih nyaman ketika bersamamu dibanding dengan teman yeojaku yang lain. Kau orangnya asik, supel, to do point, nyambung, cantik pula.”
 
Ini bukan pertama kalinya Sehun memujiku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Kami lalu memutuskan untuk berhenti dan duduk di rerumputan dan menghadap ke Sungai Han.
 
“Aku ingat saat pertama kali kita bertemu. Kau menabrakku di Supermarket dengan belanjaanmu, dan saat itu kau tampak sangat kebingungan,” kata Sehun. Kami berdua kemudian tertawa mengingat kejadian memalukan itu.
 
“Dan yang paling kuingat, belanjaan kita tertukar saat itu! Bodohnya….” Ia lanjut berkata dan tertawa.
 
“Tapi, kalau bukan karena belanjaan tertukar, kita tak akan seperti ini bukan?” Sehun berhenti tertawa.
 
“Seperti ini? Maksudmu, berteman? Ya, kurasa,” jawabku. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan lagi.
 
“Eunbi-ah, kita kan sudah kenal cukup lama. Jadi, aku boleh nggak berbicara hal yang serius padamu?” tiba-tiba Sehun merubah topic. Aku bingung. Ini pertama kalinya Sehun bicara serius denganku setelah berapa lama kami saling kenal. Lihat saja nada bicaranya, ekspresi wajahnya. Berbeda.
 
“Malhaebwa, Sehun-ah,” aku mempersilakan. Tapi Sehun tidak bicara.
“Sehun-ah, kau mau bilang apa? Kau berdosa telah membuatku  penasaran….” Keluhku padanya yang tidak kunjung bercerita.
 
“Aku belum siap mengatakannya saat ini.” kata Sehun. “Begini saja. Temui aku di Coffee Shop hari Sabtu jam 1 siang, bagaimana?”
 
End of Flashback
 
Oh Sehun, namja yang telah membuatku mematung di cermin seperti ini. Namja tampan yang belum lama ini kukenal, namun sudah berani membuatku tertarik akan dirinya. Aku sangat menunggunya mengatakan hal itu. Makanya aku harus tampil sempurna di hadapannya.
 
“Namja mana yang akan kau temui, dongsaengku sayang?” terdengar suara namja dari pintu kamarku. Ia kemudian masuk dan menghampiriku, melihatku yang masih bercermin.
 
“Hm. Ada deh. Yang jelas lebih tampan darimu, Baek Oppa,” jawabku pada kakak laki-laki semata wayangku itu yang biasa menggangguku. Aku beranjak dari cermin, mengambil tas dan jaketku.
 
“Chakaman” Oppa mencegatku. “Aku tak mau kau mengulang tragedi patah hati lagi!” perintah Oppa. Tragedi patah hati adalah tragedy dimana aku mengunci diri, melakukan hal apapun yang bisa mengobati patah hatiku.
 
“Hahaha, Baekhyun Oppaku yang ganteng, paling ganteng di kecamatan Bojongkenyot, kali ini aku nggak salah pilih namja. Percaya deh. Udah ya aku berangkat dulu, byeeee…..” aku melengos dan keluar, kemudian berjalan menuju Coffee Shop yang letaknya dekat dari rumahku.
**
 
“Kau sudah disini rupanya,” ujarku pada namja yang tengah duduk di sofa dan menikmati minumannya. Aku menghampirinya lalu duduk di hadapannya.
 
“Kau cantik sekali, Eunbi-ah. As always,” pujinya lagi. Ah, tak sia-sia aku berdandan lama.
 
“Jadi, apa yang akan kau katakan tentang hal yang serius itu, Sehun-ah?” tanyaku. Sesuai sifatku, to do point.
 
Sehun merubah posisi kakinya yang tadi diangkat, menurunkannya, dan mencondongkan tubuhnya. Ia terlihat mengerti kalau aku tidak suka bertele-tele.
“Uhm, aku tahu mungkin ini terlalu cepat tapi…………………” ia menghentikan ucapannya.
 
“Tapi apa?” tanyaku yang sudah penasaran. Ayo Sehun ayo Sehun cepat katakan hal itu, katakan kalau kau punya perasaan itu padaku…
 
“Aku mohon kau jangan marah ya,” pinta Sehun. Aku mengangguk. Mana mungkin aku marah? Aku juga punya perasaan yang sama denganmu, Sehun-ah. Malhaebwa.
“Sebenarnya, aku………”
 
Kajja, Sehun-ah. Saranghanda malhaebwa.
 
“Uhm, aku………..”
Perkataannya terhenti lagi. Tiba-tiba matanya terpaku pada sesuatu di hadapannya. Aku? Dia terpaku memandangiku? Kurasa tidak. Tapi pasti ada sesuatu dibelakangku.
 
Aku kemudian menoleh ke belakangku. Yang kulihat hanya beberapa meja dan kursi yang dipenuhi tamu dan lalu lalang orang yang lewat. Tapi tunggu, ada seorang namja yang berjalan menghampiri tempat aku dan Sehun duduk. Namja berambut pirang dengan kemeja kotak-kotak merah dan jeans hitam. Tampan, gumamku. Tapi ini siapanya Sehun?
 
“Maaf aku terlambat, Sehun-ah,” ujar namja itu pada Sehun. Sehun menyambutnya, mereka saling menepuk bahu layaknya kawan lama. “Ayo duduk,” suruh Sehun pada namja itu. Dia siapa sih?
 
“Oh, my bad. Luhan, kenalkan ini temanku, Han Eunbi. Eunbi, ini Luhan.” Kata Sehun saling mengenalkan.
 
“Ah, ne. Xi Luhan imnida,” ucap namja tampan itu sambil mengulurkan tangan. Aku dengan ragu membalas ulurannya. “Han Eunbi imnida,” ucapku.
 
“Jadi ini yeoja yang kau ceritakan itu, Sehunnie?” tanya Luhan. Apa? Jadi selama ini Sehun bercerita pada Xi Luhan tentangku? Ah, sudah pasti. Makanya cepat Sehun katakan hal itu padaku. Kalau saja Xi Luhan ini tidak datang pasti Sehun sudah mengatakannya padaku.
 
“Kau sudah bilang padanya belum?” tanya Luhan. Ah, benar! Cepat Sehun cepat bilang kalau kau menyukaiku.
 
“Uhm , Eunbi-ah, sebenarnya……………………..” Sehun menghentikan ucapannya. Dan tiba-tiba ia menarik tangan Luhan.
 
“Sebenarnya, aku sudah punya pacar.”  Dengan agak kikuk dan malu, Sehun mengacungkan genggaman tangannya dengan Luhan.
 
Aku pasti bermimpi.
 
“Maaf aku baru mengatakannya, Eunbi-ah. Aku sangat malu jujur padamu, apalagi mengenai hal serius seperti ini. Jadi, aku tunda-tunda terus,” ujar Sehun.
 
Michigesseo.
 
“Tidak apa kan, Eunbi-sshi? Oiya, kami sudah pacaran selama setengah tahun lho! Iya kan, Sehunnie?” tanya Luhan memastikan.
 
Aku terpaksa tersenyum.
“Ah, begitu ya. Hahaha. Hahaha. Kalian sangat………………………cocok,”
Dengan refleks aku mengucapkan kalimat itu. Sesungguhnya, aku lebih pantas menggantikan Luhan untuk menggenggam tanganmu, dan lebih pantas memanggilmu Sehunnie.
 
“Jincha? Thank you, Eunbi-sshi! Kami memang sangat cocok,” kata Luhan dengan bangga.
 
Dengan langkah gontai aku meninggalkan Coffee Shop. Haruskah aku mengulangi tragedi patah hati lagi?
 
***
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s