An Angel You Have Become


Author: Arantxa Antoninus (@ara_0919)
Character: U-KISS’ Lee Kiseop & Park Jaemee (OC) (main), other U-KISS members
Genre: Angst, tragedy, romance
Rating: G
Disclaimer: I only own the plot and OC

 


Apa yang terpikir olehmu ketika mendengar kata “hidup”?

Mungkin kau akan mengatakan bahwa hidup itu nyawa, dunia, detak jantung, hidup itu bernafas. Tetapi bagiku, hidup adalah mensyukuri dan menghargai apa yang kita miliki. Hidup adalah perasaan di dalam hati kita yang mengatakan bahwa kita memang hidup, kita berjiwa, kita bukan robot yang bila raganya mati, maka jiwanya akan mati juga. Ketika raga manusia mati, jiwanya akan tetap hidup. Seperti hukum kekekalan energi yang menyatakan bahwa energi tidak bisa hilang.

Kalau dipikir-pikir, hidup juga adalah energi. Semua hal yang hidup di dunia ini membutuhkan energi. Kita secara jasmaniah mendapatkan energi dari makanan, tetapi secara rohaniah kita bisa saja mendapatkan energi dari orang-orang di sekitar kita, seperti aku yang mendapatkan energi dan kekuatan untuk hidup dari seorang gadis yang sepanjang hidupnya selalu tabah dan selalu mensyukuri apa yang ia miliki. Nama gadis itu Jaemee; Park Jaemee.

Ia telah mengajariku bagaimana caranya menjalani hidup dengan senyuman, dengan penuh semangat, dan dengan penuh harapan bahwa di ujung sana, sesuatu yang luar biasa tengah menantiku. Aku mencintai Jaemee yang telah mengajariku hal tersebut. Tanpanya, hidupku tidak akan berwarna, dan aku akan menjadi sekedar manusia tanpa jiwa.

Sayangnya, Jaemee yang telah mengajariku banyak hal tentang kehidupan…

Sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Sebelum aku mulai bercerita, aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Lee Kiseop dan aku hanyalah seorang mahasiswa di kota Seoul yang besar; tahun ini usiaku menginjak dua puluh satu tahun. Aku bisa dibilang seorang yang agak pendiam dan tidak suka banyak bicara, aku lebih suka memendam perasaanku sendiri sampai-sampai banyak sahabatku—Soohyun Hyung, Jaeseop, Eli, Kevin, dan si bocah Dongho— yang merasa frustrasi karena tidak tahu apa yang sedang kurasakan dan itu membuat mereka bingung—harus bersikap seperti apa di hadapanku.

Lee Kiseop yang tertutup ini mulai terbuka hatinya saat bertemu dengan seorang gadis yang sudah kusebut namanya tadi; Park Jaemee. Kami bertemu di sebuah taman kota, dan singkat cerita kami saling jatuh cinta. Sahabat-sahabatku sangat senang melihat kami berdua. Mereka bilang Jaemee telah mencairkan hatiku yang beku—padahal hatiku tidak beku, hanya wajahku saja yang sulit untuk berekspresi.

Jaemee adalah gadis manis bertubuh kecil; ia lebih pendek dariku sekitar dua-puluh sentimeter, dan usianya lebih muda empat tahun dariku. Rambutnya hitam sebahu, dan agak bergelombang. Kedua matanya yang berwarna coklat tua selalu memancarkan rasa keingintahuan dan kemauan yang tinggi. Senyum Jaemee adalah senyum termanis yang pernah kulihat di dunia ini; ia selalu menunjukkan senyum yang tulus dan penuh semangat.

Terkadang aku tidak habis pikir bagaimana caranya ia bisa tersenyum seperti itu, padahal ia pasti sering merasa kesepian. Orang tua Jaemee sudah meninggal dalam kecelakaan mobil ketika Jaemee masih berumur sepuluh tahun. Sejak saat itu, ia dirawat oleh adik ibunya yang tinggal di luar negeri. Jaemee sendiri tidak mau begitu bergantung pada bibinya, maka sambil bersekolah, ia mencari kerja sambilan dan sekarang ia secara rutin menjadi pianis di sebuah restauran yang cukup bergengsi di Seoul.

Aku tahu bahwa diam-diam, mungkin Jaemee menangis seorang diri, tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya. Tidak ada yang bisa melihat rasa sakit yang ia pendam di dalam matanya; hanya aku yang sesekali menyadarinya. Dan setiap kali cahaya di matanya meredup, satu-satunya hal yang ingin kulakukan adalah membuatnya bahagia.

Lamunanku terpecah ketika seseorang menepuk pundakku dan berkata, “Hei, jangan bengong di sini!” Katanya dengan nada jail.

Aku menoleh ke atas dan mendapati Jaemee sedang tersenyum lebar. Sebenarnya, bukan kebetulan aku memikirkan dia, karena aku memang sedang bersamanya saat itu.

“Sudah selesai?” tanyaku.

Siang itu kami sedang berada di suatu rumah sakit di Seoul. Jaemee memintaku mengantarnya karena ia sering merasa sesak nafas dan itu sangat mengganggunya, maka ia memutuskan untuk menemui dokter.

Jaemee mengangguk. “Sudah, nanti aku akan ditelepon lagi. Makan siang, yuk!” ajaknya sambil mengaitkan tangannya di lenganku, kemudian ia menarikku keluar rumah sakit.

“Apa yang dokter katakan, Jaemee-yah? Sudah kubilang, kau terlalu memaksakan diri; tidur malam, bangun pagi, pulang sore…!” aku sedikit memarahinya. Tapi mendengar aku berkata begitu, Jaemee justru tertawa. “Kok tertawa?!” protesku.

“Habis, kau menasehatiku seperti ibuku saja!” balasnya masih sambil tertawa kecil. Aku memang meminta Jaemee untuk tidak memanggilku dengan embel-embel “oppa” dan kami sepakat untuk bicara dengan bahasa informal.

“Enak saja, ini kan demi kebaikanmu!” aku tambah memprotes.

Makan siang kami pun berlanjut dengan penuh canda tawa, tanpa menyadari bahwa mungkin itu terakhir kalinya kami bisa bercanda bersama.

Beberapa minggu berlalu setelah kami terakhir kali pergi ke rumah sakit bersama. Aku dan Jaemee memiliki kesibukan masing-masing. Kami jarang bertemu langsung, dan hanya mengandalkan teknologi SMS dan telepon untuk berkomunikasi setiap hari; sekedar menyapa dan memberi semangat.

Di situlah kesalahannya.

Aku tidak tahu-menahu dan bodohnya lupa menanyakan hasil pemeriksaan Jaemee di rumah sakit minggu yang sudah lalu itu. Aku tidak tahu bahwa selama kami tidak bertemu, pernafasan Jaemee masih terganggu, kalau tidak mau dibilang semakin parah.

Aku baru mengetahui hal itu ketika aku berniat memberi kejutan dengan menjemput Jaemee di sekolahnya. Kebetulan, Jaemee satu sekolah dengan Dongho. Kebetulan lagi, aku langsung bertemu dengan Dongho di gerbang sekolah.

“Kiseop Hyung!” sapanya sambil melambaikan tangan.

Aku membalas lambaian tangannya. “Hai, Dongho. Kau lihat Jaemee?” tanyaku langsung.

Seketika wajah Dongho berubah menjadi wajah iseng. “Wah, tumben sekali pangeran mau menjemput permaisurinya…!” godanya sambil tertawa, membuatku menghadiahinya pukulan main-main di lengannya. “Kurasa Jaemee sedang ada di laboratorium lantai tiga.” jawab Dongho akhirnya.

Setelah mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa, aku segera menuju laboratorium yang disebut Dongho barusan. Saat mengintip melalui jendelanya, aku melihat sosok Jaemee yang sedang duduk membelakangiku, dan tanpa sadar sebuah senyum tersungging di bibirku.

Namun senyum itu langsung lenyap seketika saat aku menyadari bahwa Jaemee berusaha mengumpulkan oksigen bagi paru-parunya.

“Jaemee-yah?!” teriakku sambil berlari mendekatinya dan memeluknya erat. “Kau kenapa?!” Tanyaku panik. Saat itu aku memang belum mengetahui kondisi Jaemee yang sakit.

Nafas Jaemee tersengal dan ia tidak mampu mengatakan satu patah kata pun. Aku semakin panik, tetapi untungnya masih mampu berpikir jernih dan teringat bahwa ini adalah sebuah laboratorium.

“Jaemee-yah, apa ada botol oksigen di sini??”

Dalam kesakitannya, Jaemee masih bisa mengangguk dan menunjuk lemari penyimpanan di ujung ruangan. Tanpa membuang waktu, aku segera berlari ke sana dan mengambil botol oksigen kecil yang terlihat jelas dari luar.

Aku kembali ke tempat Jaemee duduk dan langsung menempelkan ujung botol tersebut di sekitar hidung dan mulutnya, lalu memberinya cukup banyak oksigen sampai akhirnya nafas Jaemee kembali teratur dan ia bisa bernafas sendiri.

Aku segera merengkuh Jaemee yang tampak lemas ke dalam pelukanku dan menenangkannya.

“Kita ke rumah sakit, ya?” kataku pelan. Namun Jaemee menggeleng, membuatku mengerutkan alisku. “Kenapa tidak mau? Kau butuh perawatan yang baik, Jaemee-yah. Sekali ini saja, ya?” bujukku lagi. Dengan enggan, akhirnya Jaemee mengangguk.

Saat itu lah aku baru tahu bahwa Jaemee mengidap emfisema; sebuah penyakit paru-paru yang cukup akut dan penyakit inilah yang membuat Jaemee sulit bernafas. Baru saat itu juga aku melihat bahwa Jaemee menjadi jauh lebih kurus dan ia juga mengaku bahwa ia mudah lelah.

Saat itu aku tengah berhadapan dengan dokter yang memeriksa Jaemee—Jaemee sendiri diminta menunggu di luar.

“Apakah ada sesuatu yang harus saya ketahui, Dokter?” tanyaku dengan perasaan yang tidak enak.

“Ya, satu hal saja.” jawabnya. Aku tidak membalas dan membiarkan ia melanjutkan kata-katanya. Aku agak menyesal membiarkannya terus berbicara, karena apa yang ia katakan sungguh mengoyak hatiku. “Dengan berat hati saya harus katakan bahwa kemungkinan bagi Jaemee-ssi untuk sembuh total nyaris tidak ada.”

Aku diam membatu. Seluruh tubuhku mati rasa, aku bahkan tidak tahu apakah aku sedang bernafas atau tidak. Kalau saja dokter tadi tidak menepuk pundakku untuk memberi dukungan, mungkin aku sudah kehilangan kesadaran.

“Saya mohon maaf. Tetapi saya tidak mengatakan bahwa kemungkinan itu benar-benar tidak ada. Saya akan terus berusaha untuk menyembuhkannya, dan untuk itu saya butuh semangat juang Jaemee-ssi untuk sembuh juga. Anda adalah orang terdekatnya, maka saya harap anda bisa menumbuhkan semangat itu dalam diri Jaemee-ssi.” jelasnya.

Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah mengangguk. Dan setelah mengucapkan terima kasih, aku mempersiapkan diri untuk bertemu Jaemee dengan senyuman lalu mengantarnya pulang.

Walaupun kukatakan bahwa Jaemee adalah seseorang yang selalu tersenyum dan selalu penuh semangat, tetapi Jaemee juga manusia. Ia bukannya tidak pernah menangis karena penyakit yang dideritanya.

Waktu itu adalah hari di mana Jaemee harus kembali ke rumah sakit untuk diperiksa lagi, dan aku menawarkan diri untuk mengantarnya. Supaya tidak terburu-buru, aku sampai di rumah Jaemee sekitar satu setengah jam sebelum waktu yang dijanjikan dengan dokter.

“Jaemee-yah?” panggilku sambil menutup pintu depan rumahnya. Aku memang memegang cadangan kunci pintu rumah Jaemee untuk berjaga-jaga.

Jaemee tidak menjawab panggilanku, maka aku memutuskan untuk naik ke kamarnya di lantai dua. Mungkin ia sedang siap-siap atau masih tertidur karena saat kutelepon satu jam yang lalu, ia berkata bahwa ia mengantuk dan ingin tidur sebentar.

Dugaanku benar karena Jaemee masih berbaring dengan kedua mata yang tertutup di tempat tidurnya. Aku tersenyum dan berjalan mendekat, lalu berlutut di samping tempat tidur tersebut.

Sambil mengelus rambutnya, aku berkata pelan, “Jaemee-yah, aku sudah sampai. Ayo bangun.”

Perlahan, kedua mata itu terbuka, membuat senyumku semakin lebar, namun tidak bertahan lama karena Jaemee membalikkan badannya membelakangiku.

“Jaemee-yah? Masih mengantuk, ya?” tanyaku lembut. “Kalau begitu tidurlah lagi sebentar, nanti kubangunkan. Masih ada satu jam sebelum kita harus berangkat.” tambahku.

Terdengar bisikan dari Jaemee, tetapi aku tidak mendengarnya dengan jelas. Aku berdiri dan duduk di sisi tempat tidurnya.

“Kenapa, Jaemee-yah?”

“Tidak mau pergi…”

Kata-katanya membuat alisku berkerut. “Kok tidak mau?”

Tanpa kusangka, Jaemee yang biasanya kuat mulai menangis. Sudah lama sejak terakhir kali aku melihat air matanya, maka aku sedikit panik. “Jaemee-yah?? Kenapa??” tanyaku sambil menyentuh pundaknya, namun Jaemee menutup wajah dengan kedua tangannya.

Dengan perlahan dan sehati-hati mungkin, aku membalikkan lagi tubuhnya menghadapku lalu memeluknya erat. Pelukanku justru membuat tangisannya semakin kuat, dan hatiku tersayat.

Kami diam dalam pelukan sampai Jaemee kembali tenang. Baru saat itulah ia berkata bahwa ia capek bolak-balik ke rumah sakit, dan ia capek terus mendapat hasil negatif dari pemeriksaannya.

Aku teringat perkataan dokter yang memintaku untuk menumbuhkan semangat juang untuk sembuh dalam diri Jaemee.

“Aku mengerti, Jaemee-yah. Pasti sangat melelahkan bagimu, tapi Jaemee mau sembuh kan?” kataku sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.

“Memangnya aku bisa sembuh?” balasnya tajam, membuatku sedikit terkejut.

“Jangan bicara begitu! Kalau kau mau sembuh, pasti akan ada jalan. Jangan menyerah, Jaemee-yah. Jaemee yang aku tahu adalah Jaemee yang kuat, tegar, dan kata menyerah tidak ada dalam kamusnya!”

Jaemee kembali memelukku, dan aku mencium bagian atas kepalanya dengan lembut. “Jaemee mau sembuh kan?” tanyaku lagi.

Gadis kecilku akhirnya mengangguk.

Selama peperangan yang Jaemee hadapi dengan penyakitnya, aku berusaha untuk tidak meninggalkannya seorang diri. Sahabat-sahabat kami pun selalu memberi dukungan untuknya.

Namun itu semua tidak bisa menghentikan kehendak Tuhan.

Keadaan Jaemee bertambah parah setiap harinya, dan sekarang ia harus dirawat di rumah sakit. Aku meminta—lebih tepatnya memohon—pada teman-temanku supaya mereka terus bergiliran menjenguk Jaemee dan sebisa mungkin tidak membiarkannya sendirian di rumah sakit.

Untungnya, aku memiliki teman-teman yang selera humornya cukup untuk membuat Jaemee tertawa setiap hari. Aku cukup senang melihat Jaemee bisa tersenyum dan tertawa lepas; paling tidak ia bisa memikirkan hal lain selain kesehatannya yang memburuk.

“Jaemee-yah, kau sendirian?” tanyaku saat memasuki kamar Jaemee dan mendapatinya sedang menonton TV seorang diri.

Ia tersenyum padaku. “Tadi Soohyun Oppa baru saja pulang.” jawabnya.

Aku mengangguk mengerti dan duduk di samping tempat tidurnya. “Ini, kubelikan buku yang kau minta.” kataku sambil memberikan satu tas yang berisikan beberapa buku novel. Jaemee sungguh, sangat bosan diam di rumah sakit dan ia memintaku membelikannya buku-buku itu.

Jaemee kembali tersenyum lebar sambil menerima apa yang kuberikan. “Wah, terima kasih!” serunya.

Aku ikut tersenyum dan menepuk kepalanya pelan. “Jangan tidur malam-malam ya.” pesanku yang dijawabnya dengan anggukan patuh.

Jaemee meletakkan buku-buku itu di atas meja kecil di sisinya. “Kiseop menginap di sini, tidak?” tanyanya.

Aku nyaris menjawab tidak karena aku harus berangkat pagi keesokan harinya, tetapi sesuatu menahan diriku untuk berkata demikian. Mungkin itu karena aku melihat sorot mata penuh harapnya, tetapi aku yakin aku merasakan sesuatu yang lain yang membuatku tidak bisa menolak permintaan yang ada di balik pertanyaan itu.

Aku tersenyum dan mengangguk. “Iya, aku menginap.” jawabku, membuat Jaemee tersenyum lebar.

Aku tidak menyesali keputusanku untuk menemani Jaemee sepanjang malam, karena keesokan harinya kondisi Jaemee menurun drastis. Tabung dan selang oksigen menjadi penopang hidupnya, dan ia terlalu lemah untuk melakukan apa pun sendirian. Untuk berbicara pun sudah sangat sulit baginya.

Hari itu kuhabiskan dengan menemani Jaemee di rumah sakit. Aku memutuskan untuk tidak mengajaknya bicara, dan pada malam hari kami hanya saling berpandangan sambil tersenyum.

“Tidurlah, istirahat yang banyak.” kataku.

Tangan kanan Jaemee bergerak, dan aku langsung menggenggamnya.

“Aku tidak akan pergi.”

Sejak saat itu, kondisi Jaemee bertambah parah setiap harinya, dan dokter bahkan sudah memperingatiku untuk bersiap menghadapi skenario terburuk.

Keadaan emosionalku pun semakin kacau, dan tanpa sadar aku sudah menelepon Soohyun Hyung.

“Halo?” sapanya di seberang sana.

Aku terdiam sesaat.

“Halo, Kiseop?”

“Hyung,”

“Ya, ada apa?”

“Hyung bisa datang ke sini, tidak?”

“Ke rumah sakit? Kenapa?”

Aku menahan nafas untuk menghentikan air mata yang sudah siap untuk jatuh kapan saja.

“Tolong… Biarkan Jaemee melihatmu sekali saja untuk terakhir kalinya.”

Saat itu Soohyun Hyung memarahiku. Katanya, dan kukutip, “Bagaimana Jaemee mau kuat kalau kau jadi lemah begini?!”

Tetapi sungguh, salah satu tujuanku meminta teman-temanku untuk menemui Jaemee adalah untuk memberinya semangat. Maka, mulai hari itu, satu per satu dari mereka mengunjungi Jaemee secara bergiliran.

Hari pertama, Soohyun Hyung datang.

“Kau harus tetap semangat, Jaemee-yah. Kalau sudah sembuh nanti, kita main ke Lotte World, ya!” katanya sambil mengelus rambut Jaemee.

Hari kedua, giliran Hoon yang datang.

“Cepatlah sembuh, gadis manis! Oppa akan traktir apa pun yang kau inginkan!”

Hari ketiga, Eli berjanji untuk datang.

“Jangan tinggalkan Kiseop, Jaemee-yah. Nanti hatinya beku lagi, lho. Atau bisa-bisa wajahnya ikutan membeku.” kata-katanya berhasil membuat Jaemee tertawa kecil, dan Kiseop berjanji dalam hati bahwa ia akan mentraktir Eli.

Hari keempat, Kevin akhirnya punya waktu untuk datang setelah sekian lama.

“Hei, Jaemee-yah. Aku ingin sekali datang setiap hari, sayangnya akhir-akhir ini entah kenapa aku semakin sibuk. Karena itu, cepatlah sembuh! Supaya aku bisa lebih sering bertemu denganmu!”

Hari kelima, Dongho yang berwajah sedih juga datang.

“Jaemee-yah, kau harus cepat sembuh… Nanti kubelikan cokelat yang banyak! Kalau kau tidak sembuh, nanti pangeran Kiseop harus menjemput siapa? Kau kan permaisurinya…!” walaupun kata-katanya mengesalkan, tapi Dongho juga berhasil membuat Jaemee tertawa, jadi Kiseop berjanji untuk mentraktirnya bersama Eli.

Hari keenam, salah satu sahabatku yang paling dekat dengan Jaemee, Jaeseop, datang.

“Jaemee-yah, kau tahu, tidak? Akhir pekan ini ada diskon di Myeong-dong. Cepatlah sembuh, nanti kita shopping bersama!”

Kiseop sungguh berterima kasih pada sahabat-sahabatnya yang menyempatkan diri untuk bertemu dengan Jaemee dan menyemangatinya. Mungkin fisiknya tidak terpengaruh, tetapi paling tidak emosinya menjadi lebih stabil dan ia lebih tenang.

Namun, sebuah keajaiban—yang entah keajaiban atau bukan—terjadi.

Beberapa hari setelah Jaeseop datang, keadaan Jaemee membaik, sampai-sampai para dokter tidak percaya akan apa yang terjadi. Penyakit itu seakan tidak pernah ada dalam tubuh Jaemee, dan ia sehat sesehat-sehatnya.

“Kiseop-ah! Aku sangat bosan, aku mau jalan-jalan!” pintanya dengan sedikit manja.

Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Aku ingin menemaninya jalan-jalan, tapi ada urusan yang tidak bisa kutinggalkan.

Tepat ketika aku hendak menjawab, handphone-ku berbunyi dengan nama Hoon tertera di layarnya.

“Halo?” sapaku.

“Hei, Kiseop! Kudengar keadaan Jaemee membaik, ya?”

“Oh, iya. Terima kasih sudah mau datang waktu itu, ya!”

“Tidak masalah. Aku mau mengajaknya jalan-jalan, sudah boleh belum?”

Bagiku telepon dari Hoon adalah sebuah berkah yang tak terhingga. “Boleh, boleh! Kebetulan dia sangat bosan dan aku harus mengurus sesuatu. Kau datanglah ke sini dan jemput dia, ya? Tapi jangan pulang terlalu malam!” pesanku. Selama aku mengatakannya, mata Jaemee terlihat berbinar.

Aku menutup telepon dan tersenyum padanya. “Hoonmin akan menjemputmu dan mengajakmu jalan-jalan.” kataku.

“Yaay!!” serunya bersemangat sambil turun dari tempat tidur dan langsung memilih baju apa yang akan ia kenakan. Aku tersenyum melihatnya.

Dalam seminggu, tidak hanya Hoon yang mengajak Jaemee pergi. Sesuai janjinya, Dongho mentraktir Jaemee ke sebuah kafe yang khusus menjual chocolate cake. Kami juga pergi berempat dengan Eli dan Kevin keliling kota, bahkan Jaeseop juga menepati janjinya dengan mengajak Jaemee shopping  di Myeong-dong.

Dua hari setelah itu, Soohyun Hyung pun mengajak Jaemee jalan-jalan ke Lotte World. Jaemee sebenarnya ingin aku untuk ikut, tetapi waktu itu kakek-nenekku sedang ada di rumah dan aku tidak mungkin pergi-pergi.

“Maaf ya, Jaemee. Besok aku pasti akan menemanimu jalan-jalan, janji!” kataku berusaha menghiburnya.

Meskipun masih terlihat kecewa, senyum Jaemee sedikit mengembang dan ia mengangguk.

Hari itu mereka berdua habiskan dengan bermain di Lotte World dari pagi sampai sekitar pukul enam sore. Soohyun Hyung mengantarnya pulang, dan ia menceritakan apa yang terjadi malam itu.

Mereka sampai di depan rumah Jaemee pukul delapan malam dan Soohyun Hyung mengantar Jaemee sampai ke pagar rumahnya.

“Terima kasih untuk hari ini, Oppa!” kata Jaemee senang.

Soohyun Hyung mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih kembali, Jaemee-yah!” balasnya. “Aku pulang dulu, ya? Selamat tidur!” lanjutnya sambil melambaikan tangan dan berbalik untuk berjalan ke mobilnya.

Sebelum Soohyun Hyung hilang dari pandangan, Jaemee memanggilnya. “Soohyun Oppa!”

Yang dipanggil kembali menghadapnya. “Ya, ada apa?”

Jaemee terdiam sesaat sebelum tersenyum lagi. “Tolong jaga Kiseop.”

Soohyun Hyung mengaku ia diam membatu saat itu, dan kata-kata yang Jaemee ucapkan, juga senyumnya yang begitu tulus, masih terbayang dengan jelas di ingatannya sampai saat ini.

Sebelum Soohyun Hyung bisa bereaksi, Jaemee berkata, “Selamat tidur, Oppa.” dan ia pun masuk ke dalam rumahnya.

Satu hari setelah itu, sesuai janji, aku menemani Jaemee jalan-jalan keliling Seoul—dan ia juga sempat membanggakan baju yang dihadiahkan Jaeseop waktu itu. Mulai dari makan pagi di kafe dekat rumah sakit, menikmati udara pagi di sisi sungai Han, makan siang di Hongdae, main ke pantai, bersepeda di sebuah taman besar, sampai melihat matahari terbenam. Jaemee terlihat menikmati petualangan kecil kami, dan aku cukup senang akan hal itu.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan aku memutuskan untuk membawa Jaemee pulang ke rumah sakit.

“Jaemee-yah, sudah malam. Kita kembali ke rumah sakit, ya?” ajakku.

Senyum Jaemee menghilang dan ia tampak enggan. Karena tahu resiko apa yang menanti kalau ia tidak segera pulang, aku berusaha membujuknya lagi.

“Jangan cemberut begitu,” kataku sambil menepuk kepalanya pelan. “Besok kita jalan-jalan lagi, oke?” Tambahku.

Walaupun masih terlihat tidak rela, perlahan Jaemee mengangguk, membuatku tersenyum.

Kami memasuki daerah rumah sakit yang luas, dan berjalan menuju gedung tempat kamar Jaemee berada dengan melewati taman rumah sakit.

Ketika kami sudah agak dekat, tiba-tiba Jaemee berhenti dan tangannya yang berada dalam genggamanku mencengkeram lebih kuat. Aku menoleh khawatir dan mendapati ia menunduk menatap lantai batu di bawah kami.

“Ada apa, Jaemee-yah?” aku mendekatinya. Saat itulah aku menyadari bahwa tubuhnya agak gemetar dan air mata sudah siap menetes dari kedua matanya yang baru seminggu ini mendapatkan kembali cahayanya yang lama.

Jaemee ketakutan.

Tanpa menjawab pertanyaanku, ia menutup celah di antara kami dan memelukku erat, membenamkan wajahnya di pundakku sambil menahan tangis. Seketika itu juga aku mendapati perasaan—yang mungkin sedang dirasakan Jaemee juga—menjalar di seluruh tubuhku.

Takut.

Aku takut kehilangan malaikat kecilku.

Pelukan Jaemee kubalas dengan erat. Berbagai pertanyaan melintas di benakku.

Apakah aku masih bisa memeluknya seperti ini besok? Apakah aku masih bisa melihat senyum Jaemee besok?

Mataku terasa panas, dan dalam beberapa detik, wajahku sudah basah oleh air mata.

Aku merasa malu pada diriku sendiri. Selama ini, Jaemee selalu kuat, ia tabah menghadapi penderitaannya. Ia tidak menangis walaupun ia punya seribu alasan untuk menangis. Sedangkan aku justru menjadi rapuh dan tidak sanggup menghentikan air mataku, juga air mata Jaemee yang pada akhirnya ia tunjukkan. Di saat seperti ini, aku malah menjadi lemah. Berani-beraninya aku mengatakan bahwa aku akan melindungi Jaemee, padahal untuk menghapus air matanya pun aku tidak bisa.

Dengan susah payah kuhentikan air mataku. Namun itu tidak menghentikan satu pertanyaan memprotes yang kuteriakkan dalam hati sambil menatap langit.

Tuhan, mengapa Kau lakukan ini pada malaikat kecilku?

“Jangan takut, Jaemee-yah. Apa pun yang terjadi, kau tidak sendirian.” bisikku pelan dengan suara bergetar.

Hanya itu yang bisa kukatakan padanya. Sebesar apa pun cintaku padanya, sebesar apapun rasa sayangku padanya, aku tetap tidak bisa berbuat apa pun jika Tuhan sudah menghendaki.

Baru saat itu aku teringat, mungkin aku dan sahabat-sahabatku secara tidak sadar tahu bahwa seminggu ini adalah saat-saat terakhir kami bersama Jaemee.

Entah sudah berapa lama kami lalui tanpa berkata-kata saat Jaemee menarik diri dari pelukanku. Ada bekas air mata di pipinya yang langsung kuhapus dengan ibu jariku.

“Maaf, aku menangis. Ayo kembali, Kiseop-ah.” katanya sambil tersenyum kecil.

Sesungguhnya hatiku terasa sakit melihat senyumannya, tetapi aku tidak mau membuatnya lebih sedih ataupun ketakutan lagi, maka aku membalas senyumannya dengan senyuman juga. Setelah mencium keningnya lembut, aku menggandeng Jaemee dan kami kembali ke kamarnya.

“Selamat tidur, Jaemee. Mimpi indah, ya.” kataku sambil mengelus rambutnya penuh sayang.

Ia kembali tersenyum padaku. “Selamat tidur, Kiseop-ah. Boleh… aku minta satu pelukan saja?” tanyanya sedikit malu-malu.

Aku tersenyum lebar dan menunduk mendekatinya. “Jangankan pelukan, lautan pun akan kuberikan padamu.” balasku sambil memeluknya, membuatnya tertawa.

“Aku sayang sama Kiseop.”

“Aku juga sayang padamu, lebih dari yang kau tahu.”

Ia melepaskan diri dari pelukanku dan kembali berbaring. Beberapa menit sebelum ia terlelap kami habiskan dengan berpegangan tangan dan saling tersenyum pada satu sama lain, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sampai akhirnya Jaemee tertidur.

Habis sudah kesempatan yang diberikan Tuhan pada kami.

Malam itu juga, kondisi Jaemee kembali memburuk dan keesokan paginya ia dinyatakan koma.

Malaikat kecilku telah berhenti bernafas, namun jantungnya masih berdetak, seakan ia masih memiliki alasan dan keinginan untuk bertahan hidup.

Aku meyakinkan diri bahwa Jaemee pasti sedang bermimpi indah.

Satu persatu sahabatku kembali mengunjungi Jaemee, berbicara padanya dengan harapan ia masih bisa mendengar suara kami.

Lima hari sudah berlalu sejak terakhir kali Jaemee membuka matanya, dan hari itu giliran Kevin yang datang menjenguk.

“Apa kau masih punya harapan bahwa ia akan kembali, Kiseop-ah?” tanya Kevin pelan.

Aku mengangguk untuk menjawabnya.

Kevin terlihat sedih dan ia menggenggam tangan Jaemee. “Tubuhnya sudah tidak sanggup menanggung beban duniawi lagi,” ia berkata. “Tetapi jiwanya masih ingin berada di sini, mungkin itu yang membuat jantungnya masih berdetak.”

Kami terdiam selama beberapa saat sampai Kevin kembali berbicara padaku. “Ia takut kau akan jatuh kalau ia pergi, Kiseop-ah. Apa kau sudah merelakannya?”

Pertanyaan Kevin membuatku sedikit tersentak.

Apa aku sudah merelakannya? Kupikir sudah, tetapi ternyata belum.

Aku masih ingin melihat senyum Jaemee, aku masih ingin memeluknya, aku belum rela melepaskannya.

“Jangan perpanjang penderitaannya, Kiseop-ah…” kata Kevin membuyarkan lamunanku.

Beberapa saat kemudian, aku meminta Kevin meninggalkan kami berdua. Ia tersenyum dan tanpa berkata apa pun pergi keluar dari kamar Jaemee.

Keheningan menyelimutiku dan dengan perasaan bercampur aduk, aku berkata pada diriku sendiri; aku harus rela melepaskannya.

Maka aku mendekat, dan menggenggam tangannya yang saat itu kupikir tidak akan pernah menggenggam balik tanganku.

“Jaemee-yah…,” panggilku. “Aku tidak tahu apa kau bisa mendengarku atau tidak, tetapi cobalah dengarkan.” aku mengambil nafas dan dengan pelan menghembuskannya, sedikit merasa sakit ketika aku sadar bahwa Jaemee saat ini tidak bisa melakukan hal yang terlihat sangat sepele itu.

“Apa… Jaemee sudah bertemu dengan Tuhan?” tanyaku. “Kalau sudah, kumohon genggamlah tanganku.”

Entah itu halusinasiku atau bukan, tetapi aku melihat dan merasakan tangan Jaemee menggenggam tanganku erat.

Seketika itu juga aku dilanda perasaan lega. Lega karena Jaemee pasti tenang di sana bersama Penciptanya.

Dengan air mata yang mulai mengalir menuruni wajahku, aku tersenyum. “Kalau Jaemee mau pergi, kalau Jaemee harus pergi, pergilah. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk bisa kembali tersenyum seperti biasa, tetapi aku janji aku pasti akan tersenyum lagi. Sudah cukup, jangan siksa dirimu sendiri hanya karena aku.”

Perlahan, bunyi alat yang menunjukkan detak jantung Jaemee melambat. Interval antara satu detak ke detak yang lain semakin lebar, sampai akhirnya alat itu berbunyi nyaring.

Malaikat kecilku telah tertidur untuk selama-lamanya.

Aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri bahwa aku merasakan kesedihan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku. Aku menangis dan tidak mau melepaskan tangan Jaemee, sampai akhirnya Soohyun Hyung, Jaeseop, dan Eli harus melepaskanku dengan agak paksa, dan Soohyun Hyung memelukku erat, berusaha menguatkanku.

“Hyung…! Jaemee sudah pergi…!” kataku setengah histeris, masih sambil menangis.

“Iya, dia sudah pergi dan sudah tenang di sana. Jaemee akan menangis kalau melihatmu menangis, Kiseop-ah. Kau harus kuat…!” balas Soohyun Hyung. “Jaemee berpesan padaku untuk menjagamu, kau tahu? Kata-kata terakhir yang ia ucapkan padaku adalah, ‘Tolong jaga Kiseop.’ Ia pasti ingin kau bahagia!”

Kata-kata Soohyun Hyung cukup membuatku merasa tenang, tetapi air mataku tetap tidak bisa dihentikan. Dalam hati aku berkata, “Sekali ini saja aku menangis, Jaemee-yah. Sekali ini saja.”

Dan selanjutnya aku akan tersenyum karena kau sudah bebas di Surga sana.

Satu setengah tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang gadis yang mengubah duniaku.

Saat itu, aku tidak tahu bahwa ia akan menjadi bagian yang penting dalam hidupku. Tetapi sedikit demi sedikit, kami menjadi dekat dan hatiku telah melekat padanya, dan sampai sekarang aku masih mencintainya.

Aku tidak tahu apakah cerita kami akan berakhir dengan menyenangkan atau tidak, tetapi saat itu aku tidak begitu peduli. Satu-satunya yang kuinginkan adalah membuatnya tersenyum, membuatnya bahagia. Ia telah menjadi salah satu alasanku untuk tetap hidup, karena hidup ini indah bersama ia yang berada di sisiku.

Aku belum sempat membuat mimpinya menjadi kenyataan. Ia pernah memberitahuku bahwa ia ingin memiliki pernikahan yang indah, dan ia ingin pergi ke Verona—kota Romeo dan Juliet—paling tidak sekali saja. Ia ingin menulis surat kepada Juliet, ia ingin mengunjungi taman bunga di sana, dan ia ingin berbaring di atas rumputnya yang hijau, memandang berjuta bintang di langit malam Verona bersamaku. Kalau aku memikirkannya sekarang, satu-satunya yang kurasakan adalah penyesalan. Seharusnya aku sudah mengabulkan impiannya, seharusnya aku sudah membuatnya bahagia…

Maafkan aku, malaikatku. Maafkan aku karena kau harus bertemu orang sepertiku. Kalau saja kita tidak bertemu satu sama lain, mungkin kau sudah mendapatkan hidup yang lebih baik, walaupun hidupmu singkat. Kumohon, maafkan aku… dan terima kasih untuk segalanya.

안녕히주무세요, 내 천사.

다음 세상에서, 우리 다시 만나고, 다시 사랑하자.

사랑해.

 

[Selamat tidur, malaikatku.

Di kehidupan berikutnya, mari kita bertemu dan saling mencintai lagi.

Aku mencintaimu.]

 

 

“Bila tiba saatnya bagimu untuk pergi,

Di saat kau terlelap dalam tidur yang lebih dalam daripada kehidupan,

Ingatlah aku sebagai seseorang yang mencintaimu sepenuh hatiku.

 

Ke manapun kau pergi,

Hatiku akan berada di tempat itu.”

(—U-KISS – When Love Stops)

 

[Extra Scene]

Lee Kiseop menajamkan penglihatannya untuk mencari sosok Park Jaemee di balik pintu kaca sebuah restauran. Laki-laki berusia dua puluh satu tahun itu kemudian melihat ke arah jam tangannya dan memutuskan untuk masuk dan menunggu di dalam.

Ia duduk di salah satu meja yang tidak jauh dari bagian tengah ruangan tempat sebuah piano terletak, dan piano itu tengah dimainkan oleh seorang gadis yang sangat disayanginya.

Setelah setengah jam dan setelah tujuh buah lagu selesai dimainkannya, gadis itu berdiri dari kursi piano dan berjalan ke arah Kiseop.

“Maaf, sudah menunggu lama, ya?” Tanyanya sambil tersenyum.

Kiseop balas tersenyum dan berdiri dari kursinya. “Tidak apa-apa, yang barusan tidak terhitung menunggu karena aku terhibur.” Jawabnya, membuat Jaemee tertawa kecil.

Kiseop menggandeng tangan Jaemee dan mereka berdua berjalan keluar ruangan.

“Kau mau ke mana dulu?” Tanya Kiseop.

Jaemee diam untuk berpikir sejenak, kemudian ia berkata, “Ada kafe yang baru dibuka di dekat rumahku, kita ke sana, ya!”

Kiseop mengangguk setuju dan mereka berjalan bergandengan tangan menuju kafe yang disebut oleh Jaemee sambil bercanda.

“Sekolahmu tidak terganggu dengan pekerjaanmu?” Tanya Kiseop.

“Tidak, kok. Lagipula aku senang melakukannya.” Jawab Jaemee ringan.

Kiseop tersenyum, kemudian ia mendekatkan dirinya pada Jaemee, melingkarkan lengannya di sisi kepala Jaemee dan menunduk untuk mencium keningnya. “Lagipula permainan pianomu sungguh indah dan sungguh menggambarkan dirimu, sampai rasanya kalau kita terpisah, aku bisa menemukan dirimu asalkan kau memainkan piano.” Kataku berumpama.

Jaemee tertawa kecil. “Kurasa itu tidak akan terjadi,” Lalu ia menatapku sambil tersenyum.

“Karena kita kan akan selalu bersama!”

Bogor, 3 Juni 2012

18:03

 

 

 

An Angel You Have Become

Apa yang terpikir olehmu ketika mendengar kata “hidup”?

Mungkin kau akan mengatakan bahwa hidup itu nyawa, dunia, detak jantung, hidup itu bernafas. Tetapi bagiku, hidup adalah mensyukuri dan menghargai apa yang kita miliki. Hidup adalah perasaan di dalam hati kita yang mengatakan bahwa kita memang hidup, kita berjiwa, kita bukan robot yang bila raganya mati, maka jiwanya akan mati juga. Ketika raga manusia mati, jiwanya akan tetap hidup. Seperti hukum kekekalan energi yang menyatakan bahwa energi tidak bisa hilang.

Kalau dipikir-pikir, hidup juga adalah energi. Semua hal yang hidup di dunia ini membutuhkan energi. Kita secara jasmaniah mendapatkan energi dari makanan, tetapi secara rohaniah kita bisa saja mendapatkan energi dari orang-orang di sekitar kita, seperti aku yang mendapatkan energi dan kekuatan untuk hidup dari seorang gadis yang sepanjang hidupnya selalu tabah dan selalu mensyukuri apa yang ia miliki. Nama gadis itu Jaemee; Park Jaemee.

Ia telah mengajariku bagaimana caranya menjalani hidup dengan senyuman, dengan penuh semangat, dan dengan penuh harapan bahwa di ujung sana, sesuatu yang luar biasa tengah menantiku. Aku mencintai Jaemee yang telah mengajariku hal tersebut. Tanpanya, hidupku tidak akan berwarna, dan aku akan menjadi sekedar manusia tanpa jiwa.

Sayangnya, Jaemee yang telah mengajariku banyak hal tentang kehidupan…

Sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Sebelum aku mulai bercerita, aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Lee Kiseop dan aku hanyalah seorang mahasiswa di kota Seoul yang besar; tahun ini usiaku menginjak dua puluh satu tahun. Aku bisa dibilang seorang yang agak pendiam dan tidak suka banyak bicara, aku lebih suka memendam perasaanku sendiri sampai-sampai banyak sahabatku—Soohyun Hyung, Jaeseop, Eli, Kevin, dan si bocah Dongho— yang merasa frustrasi karena tidak tahu apa yang sedang kurasakan dan itu membuat mereka bingung—harus bersikap seperti apa di hadapanku.

Lee Kiseop yang tertutup ini mulai terbuka hatinya saat bertemu dengan seorang gadis yang sudah kusebut namanya tadi; Park Jaemee. Kami bertemu di sebuah taman kota, dan singkat cerita kami saling jatuh cinta. Sahabat-sahabatku sangat senang melihat kami berdua. Mereka bilang Jaemee telah mencairkan hatiku yang beku—padahal hatiku tidak beku, hanya wajahku saja yang sulit untuk berekspresi.

Jaemee adalah gadis manis bertubuh kecil; ia lebih pendek dariku sekitar dua-puluh sentimeter, dan usianya lebih muda empat tahun dariku. Rambutnya hitam sebahu, dan agak bergelombang. Kedua matanya yang berwarna coklat tua selalu memancarkan rasa keingintahuan dan kemauan yang tinggi. Senyum Jaemee adalah senyum termanis yang pernah kulihat di dunia ini; ia selalu menunjukkan senyum yang tulus dan penuh semangat.

Terkadang aku tidak habis pikir bagaimana caranya ia bisa tersenyum seperti itu, padahal ia pasti sering merasa kesepian. Orang tua Jaemee sudah meninggal dalam kecelakaan mobil ketika Jaemee masih berumur sepuluh tahun. Sejak saat itu, ia dirawat oleh adik ibunya yang tinggal di luar negeri. Jaemee sendiri tidak mau begitu bergantung pada bibinya, maka sambil bersekolah, ia mencari kerja sambilan dan sekarang ia secara rutin menjadi pianis di sebuah restauran yang cukup bergengsi di Seoul.

Aku tahu bahwa diam-diam, mungkin Jaemee menangis seorang diri, tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya. Tidak ada yang bisa melihat rasa sakit yang ia pendam di dalam matanya; hanya aku yang sesekali menyadarinya. Dan setiap kali cahaya di matanya meredup, satu-satunya hal yang ingin kulakukan adalah membuatnya bahagia.

Lamunanku terpecah ketika seseorang menepuk pundakku dan berkata, “Hei, jangan bengong di sini!” Katanya dengan nada jail.

Aku menoleh ke atas dan mendapati Jaemee sedang tersenyum lebar. Sebenarnya, bukan kebetulan aku memikirkan dia, karena aku memang sedang bersamanya saat itu.

“Sudah selesai?” tanyaku.

Siang itu kami sedang berada di suatu rumah sakit di Seoul. Jaemee memintaku mengantarnya karena ia sering merasa sesak nafas dan itu sangat mengganggunya, maka ia memutuskan untuk menemui dokter.

Jaemee mengangguk. “Sudah, nanti aku akan ditelepon lagi. Makan siang, yuk!” ajaknya sambil mengaitkan tangannya di lenganku, kemudian ia menarikku keluar rumah sakit.

“Apa yang dokter katakan, Jaemee-yah? Sudah kubilang, kau terlalu memaksakan diri; tidur malam, bangun pagi, pulang sore…!” aku sedikit memarahinya. Tapi mendengar aku berkata begitu, Jaemee justru tertawa. “Kok tertawa?!” protesku.

“Habis, kau menasehatiku seperti ibuku saja!” balasnya masih sambil tertawa kecil. Aku memang meminta Jaemee untuk tidak memanggilku dengan embel-embel “oppa” dan kami sepakat untuk bicara dengan bahasa informal.

“Enak saja, ini kan demi kebaikanmu!” aku tambah memprotes.

Makan siang kami pun berlanjut dengan penuh canda tawa, tanpa menyadari bahwa mungkin itu terakhir kalinya kami bisa bercanda bersama.

Beberapa minggu berlalu setelah kami terakhir kali pergi ke rumah sakit bersama. Aku dan Jaemee memiliki kesibukan masing-masing. Kami jarang bertemu langsung, dan hanya mengandalkan teknologi SMS dan telepon untuk berkomunikasi setiap hari; sekedar menyapa dan memberi semangat.

Di situlah kesalahannya.

Aku tidak tahu-menahu dan bodohnya lupa menanyakan hasil pemeriksaan Jaemee di rumah sakit minggu yang sudah lalu itu. Aku tidak tahu bahwa selama kami tidak bertemu, pernafasan Jaemee masih terganggu, kalau tidak mau dibilang semakin parah.

Aku baru mengetahui hal itu ketika aku berniat memberi kejutan dengan menjemput Jaemee di sekolahnya. Kebetulan, Jaemee satu sekolah dengan Dongho. Kebetulan lagi, aku langsung bertemu dengan Dongho di gerbang sekolah.

“Kiseop Hyung!” sapanya sambil melambaikan tangan.

Aku membalas lambaian tangannya. “Hai, Dongho. Kau lihat Jaemee?” tanyaku langsung.

Seketika wajah Dongho berubah menjadi wajah iseng. “Wah, tumben sekali pangeran mau menjemput permaisurinya…!” godanya sambil tertawa, membuatku menghadiahinya pukulan main-main di lengannya. “Kurasa Jaemee sedang ada di laboratorium lantai tiga.” jawab Dongho akhirnya.

Setelah mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa, aku segera menuju laboratorium yang disebut Dongho barusan. Saat mengintip melalui jendelanya, aku melihat sosok Jaemee yang sedang duduk membelakangiku, dan tanpa sadar sebuah senyum tersungging di bibirku.

Namun senyum itu langsung lenyap seketika saat aku menyadari bahwa Jaemee berusaha mengumpulkan oksigen bagi paru-parunya.

“Jaemee-yah?!” teriakku sambil berlari mendekatinya dan memeluknya erat. “Kau kenapa?!” Tanyaku panik. Saat itu aku memang belum mengetahui kondisi Jaemee yang sakit.

Nafas Jaemee tersengal dan ia tidak mampu mengatakan satu patah kata pun. Aku semakin panik, tetapi untungnya masih mampu berpikir jernih dan teringat bahwa ini adalah sebuah laboratorium.

“Jaemee-yah, apa ada botol oksigen di sini??”

Dalam kesakitannya, Jaemee masih bisa mengangguk dan menunjuk lemari penyimpanan di ujung ruangan. Tanpa membuang waktu, aku segera berlari ke sana dan mengambil botol oksigen kecil yang terlihat jelas dari luar.

Aku kembali ke tempat Jaemee duduk dan langsung menempelkan ujung botol tersebut di sekitar hidung dan mulutnya, lalu memberinya cukup banyak oksigen sampai akhirnya nafas Jaemee kembali teratur dan ia bisa bernafas sendiri.

Aku segera merengkuh Jaemee yang tampak lemas ke dalam pelukanku dan menenangkannya.

“Kita ke rumah sakit, ya?” kataku pelan. Namun Jaemee menggeleng, membuatku mengerutkan alisku. “Kenapa tidak mau? Kau butuh perawatan yang baik, Jaemee-yah. Sekali ini saja, ya?” bujukku lagi. Dengan enggan, akhirnya Jaemee mengangguk.

Saat itu lah aku baru tahu bahwa Jaemee mengidap emfisema; sebuah penyakit paru-paru yang cukup akut dan penyakit inilah yang membuat Jaemee sulit bernafas. Baru saat itu juga aku melihat bahwa Jaemee menjadi jauh lebih kurus dan ia juga mengaku bahwa ia mudah lelah.

Saat itu aku tengah berhadapan dengan dokter yang memeriksa Jaemee—Jaemee sendiri diminta menunggu di luar.

“Apakah ada sesuatu yang harus saya ketahui, Dokter?” tanyaku dengan perasaan yang tidak enak.

“Ya, satu hal saja.” jawabnya. Aku tidak membalas dan membiarkan ia melanjutkan kata-katanya. Aku agak menyesal membiarkannya terus berbicara, karena apa yang ia katakan sungguh mengoyak hatiku. “Dengan berat hati saya harus katakan bahwa kemungkinan bagi Jaemee-ssi untuk sembuh total nyaris tidak ada.”

Aku diam membatu. Seluruh tubuhku mati rasa, aku bahkan tidak tahu apakah aku sedang bernafas atau tidak. Kalau saja dokter tadi tidak menepuk pundakku untuk memberi dukungan, mungkin aku sudah kehilangan kesadaran.

“Saya mohon maaf. Tetapi saya tidak mengatakan bahwa kemungkinan itu benar-benar tidak ada. Saya akan terus berusaha untuk menyembuhkannya, dan untuk itu saya butuh semangat juang Jaemee-ssi untuk sembuh juga. Anda adalah orang terdekatnya, maka saya harap anda bisa menumbuhkan semangat itu dalam diri Jaemee-ssi.” jelasnya.

Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah mengangguk. Dan setelah mengucapkan terima kasih, aku mempersiapkan diri untuk bertemu Jaemee dengan senyuman lalu mengantarnya pulang.

Walaupun kukatakan bahwa Jaemee adalah seseorang yang selalu tersenyum dan selalu penuh semangat, tetapi Jaemee juga manusia. Ia bukannya tidak pernah menangis karena penyakit yang dideritanya.

Waktu itu adalah hari di mana Jaemee harus kembali ke rumah sakit untuk diperiksa lagi, dan aku menawarkan diri untuk mengantarnya. Supaya tidak terburu-buru, aku sampai di rumah Jaemee sekitar satu setengah jam sebelum waktu yang dijanjikan dengan dokter.

“Jaemee-yah?” panggilku sambil menutup pintu depan rumahnya. Aku memang memegang cadangan kunci pintu rumah Jaemee untuk berjaga-jaga.

Jaemee tidak menjawab panggilanku, maka aku memutuskan untuk naik ke kamarnya di lantai dua. Mungkin ia sedang siap-siap atau masih tertidur karena saat kutelepon satu jam yang lalu, ia berkata bahwa ia mengantuk dan ingin tidur sebentar.

Dugaanku benar karena Jaemee masih berbaring dengan kedua mata yang tertutup di tempat tidurnya. Aku tersenyum dan berjalan mendekat, lalu berlutut di samping tempat tidur tersebut.

Sambil mengelus rambutnya, aku berkata pelan, “Jaemee-yah, aku sudah sampai. Ayo bangun.”

Perlahan, kedua mata itu terbuka, membuat senyumku semakin lebar, namun tidak bertahan lama karena Jaemee membalikkan badannya membelakangiku.

“Jaemee-yah? Masih mengantuk, ya?” tanyaku lembut. “Kalau begitu tidurlah lagi sebentar, nanti kubangunkan. Masih ada satu jam sebelum kita harus berangkat.” tambahku.

Terdengar bisikan dari Jaemee, tetapi aku tidak mendengarnya dengan jelas. Aku berdiri dan duduk di sisi tempat tidurnya.

“Kenapa, Jaemee-yah?”

“Tidak mau pergi…”

Kata-katanya membuat alisku berkerut. “Kok tidak mau?”

Tanpa kusangka, Jaemee yang biasanya kuat mulai menangis. Sudah lama sejak terakhir kali aku melihat air matanya, maka aku sedikit panik. “Jaemee-yah?? Kenapa??” tanyaku sambil menyentuh pundaknya, namun Jaemee menutup wajah dengan kedua tangannya.

Dengan perlahan dan sehati-hati mungkin, aku membalikkan lagi tubuhnya menghadapku lalu memeluknya erat. Pelukanku justru membuat tangisannya semakin kuat, dan hatiku tersayat.

Kami diam dalam pelukan sampai Jaemee kembali tenang. Baru saat itulah ia berkata bahwa ia capek bolak-balik ke rumah sakit, dan ia capek terus mendapat hasil negatif dari pemeriksaannya.

Aku teringat perkataan dokter yang memintaku untuk menumbuhkan semangat juang untuk sembuh dalam diri Jaemee.

“Aku mengerti, Jaemee-yah. Pasti sangat melelahkan bagimu, tapi Jaemee mau sembuh kan?” kataku sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.

“Memangnya aku bisa sembuh?” balasnya tajam, membuatku sedikit terkejut.

“Jangan bicara begitu! Kalau kau mau sembuh, pasti akan ada jalan. Jangan menyerah, Jaemee-yah. Jaemee yang aku tahu adalah Jaemee yang kuat, tegar, dan kata menyerah tidak ada dalam kamusnya!”

Jaemee kembali memelukku, dan aku mencium bagian atas kepalanya dengan lembut. “Jaemee mau sembuh kan?” tanyaku lagi.

Gadis kecilku akhirnya mengangguk.

Selama peperangan yang Jaemee hadapi dengan penyakitnya, aku berusaha untuk tidak meninggalkannya seorang diri. Sahabat-sahabat kami pun selalu memberi dukungan untuknya.

Namun itu semua tidak bisa menghentikan kehendak Tuhan.

Keadaan Jaemee bertambah parah setiap harinya, dan sekarang ia harus dirawat di rumah sakit. Aku meminta—lebih tepatnya memohon—pada teman-temanku supaya mereka terus bergiliran menjenguk Jaemee dan sebisa mungkin tidak membiarkannya sendirian di rumah sakit.

Untungnya, aku memiliki teman-teman yang selera humornya cukup untuk membuat Jaemee tertawa setiap hari. Aku cukup senang melihat Jaemee bisa tersenyum dan tertawa lepas; paling tidak ia bisa memikirkan hal lain selain kesehatannya yang memburuk.

“Jaemee-yah, kau sendirian?” tanyaku saat memasuki kamar Jaemee dan mendapatinya sedang menonton TV seorang diri.

Ia tersenyum padaku. “Tadi Soohyun Oppa baru saja pulang.” jawabnya.

Aku mengangguk mengerti dan duduk di samping tempat tidurnya. “Ini, kubelikan buku yang kau minta.” kataku sambil memberikan satu tas yang berisikan beberapa buku novel. Jaemee sungguh, sangat bosan diam di rumah sakit dan ia memintaku membelikannya buku-buku itu.

Jaemee kembali tersenyum lebar sambil menerima apa yang kuberikan. “Wah, terima kasih!” serunya.

Aku ikut tersenyum dan menepuk kepalanya pelan. “Jangan tidur malam-malam ya.” pesanku yang dijawabnya dengan anggukan patuh.

Jaemee meletakkan buku-buku itu di atas meja kecil di sisinya. “Kiseop menginap di sini, tidak?” tanyanya.

Aku nyaris menjawab tidak karena aku harus berangkat pagi keesokan harinya, tetapi sesuatu menahan diriku untuk berkata demikian. Mungkin itu karena aku melihat sorot mata penuh harapnya, tetapi aku yakin aku merasakan sesuatu yang lain yang membuatku tidak bisa menolak permintaan yang ada di balik pertanyaan itu.

Aku tersenyum dan mengangguk. “Iya, aku menginap.” jawabku, membuat Jaemee tersenyum lebar.

Aku tidak menyesali keputusanku untuk menemani Jaemee sepanjang malam, karena keesokan harinya kondisi Jaemee menurun drastis. Tabung dan selang oksigen menjadi penopang hidupnya, dan ia terlalu lemah untuk melakukan apa pun sendirian. Untuk berbicara pun sudah sangat sulit baginya.

Hari itu kuhabiskan dengan menemani Jaemee di rumah sakit. Aku memutuskan untuk tidak mengajaknya bicara, dan pada malam hari kami hanya saling berpandangan sambil tersenyum.

“Tidurlah, istirahat yang banyak.” kataku.

Tangan kanan Jaemee bergerak, dan aku langsung menggenggamnya.

“Aku tidak akan pergi.”

Sejak saat itu, kondisi Jaemee bertambah parah setiap harinya, dan dokter bahkan sudah memperingatiku untuk bersiap menghadapi skenario terburuk.

Keadaan emosionalku pun semakin kacau, dan tanpa sadar aku sudah menelepon Soohyun Hyung.

“Halo?” sapanya di seberang sana.

Aku terdiam sesaat.

“Halo, Kiseop?”

“Hyung,”

“Ya, ada apa?”

“Hyung bisa datang ke sini, tidak?”

“Ke rumah sakit? Kenapa?”

Aku menahan nafas untuk menghentikan air mata yang sudah siap untuk jatuh kapan saja.

“Tolong… Biarkan Jaemee melihatmu sekali saja untuk terakhir kalinya.”

Saat itu Soohyun Hyung memarahiku. Katanya, dan kukutip, “Bagaimana Jaemee mau kuat kalau kau jadi lemah begini?!”

Tetapi sungguh, salah satu tujuanku meminta teman-temanku untuk menemui Jaemee adalah untuk memberinya semangat. Maka, mulai hari itu, satu per satu dari mereka mengunjungi Jaemee secara bergiliran.

Hari pertama, Soohyun Hyung datang.

“Kau harus tetap semangat, Jaemee-yah. Kalau sudah sembuh nanti, kita main ke Lotte World, ya!” katanya sambil mengelus rambut Jaemee.

Hari kedua, giliran Hoon yang datang.

“Cepatlah sembuh, gadis manis! Oppa akan traktir apa pun yang kau inginkan!”

Hari ketiga, Eli berjanji untuk datang.

“Jangan tinggalkan Kiseop, Jaemee-yah. Nanti hatinya beku lagi, lho. Atau bisa-bisa wajahnya ikutan membeku.” kata-katanya berhasil membuat Jaemee tertawa kecil, dan Kiseop berjanji dalam hati bahwa ia akan mentraktir Eli.

Hari keempat, Kevin akhirnya punya waktu untuk datang setelah sekian lama.

“Hei, Jaemee-yah. Aku ingin sekali datang setiap hari, sayangnya akhir-akhir ini entah kenapa aku semakin sibuk. Karena itu, cepatlah sembuh! Supaya aku bisa lebih sering bertemu denganmu!”

Hari kelima, Dongho yang berwajah sedih juga datang.

“Jaemee-yah, kau harus cepat sembuh… Nanti kubelikan cokelat yang banyak! Kalau kau tidak sembuh, nanti pangeran Kiseop harus menjemput siapa? Kau kan permaisurinya…!” walaupun kata-katanya mengesalkan, tapi Dongho juga berhasil membuat Jaemee tertawa, jadi Kiseop berjanji untuk mentraktirnya bersama Eli.

Hari keenam, salah satu sahabatku yang paling dekat dengan Jaemee, Jaeseop, datang.

“Jaemee-yah, kau tahu, tidak? Akhir pekan ini ada diskon di Myeong-dong. Cepatlah sembuh, nanti kita shopping bersama!”

Kiseop sungguh berterima kasih pada sahabat-sahabatnya yang menyempatkan diri untuk bertemu dengan Jaemee dan menyemangatinya. Mungkin fisiknya tidak terpengaruh, tetapi paling tidak emosinya menjadi lebih stabil dan ia lebih tenang.

Namun, sebuah keajaiban—yang entah keajaiban atau bukan—terjadi.

Beberapa hari setelah Jaeseop datang, keadaan Jaemee membaik, sampai-sampai para dokter tidak percaya akan apa yang terjadi. Penyakit itu seakan tidak pernah ada dalam tubuh Jaemee, dan ia sehat sesehat-sehatnya.

“Kiseop-ah! Aku sangat bosan, aku mau jalan-jalan!” pintanya dengan sedikit manja.

Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Aku ingin menemaninya jalan-jalan, tapi ada urusan yang tidak bisa kutinggalkan.

Tepat ketika aku hendak menjawab, handphone-ku berbunyi dengan nama Hoon tertera di layarnya.

“Halo?” sapaku.

“Hei, Kiseop! Kudengar keadaan Jaemee membaik, ya?”

“Oh, iya. Terima kasih sudah mau datang waktu itu, ya!”

“Tidak masalah. Aku mau mengajaknya jalan-jalan, sudah boleh belum?”

Bagiku telepon dari Hoon adalah sebuah berkah yang tak terhingga. “Boleh, boleh! Kebetulan dia sangat bosan dan aku harus mengurus sesuatu. Kau datanglah ke sini dan jemput dia, ya? Tapi jangan pulang terlalu malam!” pesanku. Selama aku mengatakannya, mata Jaemee terlihat berbinar.

Aku menutup telepon dan tersenyum padanya. “Hoonmin akan menjemputmu dan mengajakmu jalan-jalan.” kataku.

“Yaay!!” serunya bersemangat sambil turun dari tempat tidur dan langsung memilih baju apa yang akan ia kenakan. Aku tersenyum melihatnya.

Dalam seminggu, tidak hanya Hoon yang mengajak Jaemee pergi. Sesuai janjinya, Dongho mentraktir Jaemee ke sebuah kafe yang khusus menjual chocolate cake. Kami juga pergi berempat dengan Eli dan Kevin keliling kota, bahkan Jaeseop juga menepati janjinya dengan mengajak Jaemee shopping  di Myeong-dong.

Dua hari setelah itu, Soohyun Hyung pun mengajak Jaemee jalan-jalan ke Lotte World. Jaemee sebenarnya ingin aku untuk ikut, tetapi waktu itu kakek-nenekku sedang ada di rumah dan aku tidak mungkin pergi-pergi.

“Maaf ya, Jaemee. Besok aku pasti akan menemanimu jalan-jalan, janji!” kataku berusaha menghiburnya.

Meskipun masih terlihat kecewa, senyum Jaemee sedikit mengembang dan ia mengangguk.

Hari itu mereka berdua habiskan dengan bermain di Lotte World dari pagi sampai sekitar pukul enam sore. Soohyun Hyung mengantarnya pulang, dan ia menceritakan apa yang terjadi malam itu.

Mereka sampai di depan rumah Jaemee pukul delapan malam dan Soohyun Hyung mengantar Jaemee sampai ke pagar rumahnya.

“Terima kasih untuk hari ini, Oppa!” kata Jaemee senang.

Soohyun Hyung mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih kembali, Jaemee-yah!” balasnya. “Aku pulang dulu, ya? Selamat tidur!” lanjutnya sambil melambaikan tangan dan berbalik untuk berjalan ke mobilnya.

Sebelum Soohyun Hyung hilang dari pandangan, Jaemee memanggilnya. “Soohyun Oppa!”

Yang dipanggil kembali menghadapnya. “Ya, ada apa?”

Jaemee terdiam sesaat sebelum tersenyum lagi. “Tolong jaga Kiseop.”

Soohyun Hyung mengaku ia diam membatu saat itu, dan kata-kata yang Jaemee ucapkan, juga senyumnya yang begitu tulus, masih terbayang dengan jelas di ingatannya sampai saat ini.

Sebelum Soohyun Hyung bisa bereaksi, Jaemee berkata, “Selamat tidur, Oppa.” dan ia pun masuk ke dalam rumahnya.

Satu hari setelah itu, sesuai janji, aku menemani Jaemee jalan-jalan keliling Seoul—dan ia juga sempat membanggakan baju yang dihadiahkan Jaeseop waktu itu. Mulai dari makan pagi di kafe dekat rumah sakit, menikmati udara pagi di sisi sungai Han, makan siang di Hongdae, main ke pantai, bersepeda di sebuah taman besar, sampai melihat matahari terbenam. Jaemee terlihat menikmati petualangan kecil kami, dan aku cukup senang akan hal itu.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan aku memutuskan untuk membawa Jaemee pulang ke rumah sakit.

“Jaemee-yah, sudah malam. Kita kembali ke rumah sakit, ya?” ajakku.

Senyum Jaemee menghilang dan ia tampak enggan. Karena tahu resiko apa yang menanti kalau ia tidak segera pulang, aku berusaha membujuknya lagi.

“Jangan cemberut begitu,” kataku sambil menepuk kepalanya pelan. “Besok kita jalan-jalan lagi, oke?” Tambahku.

Walaupun masih terlihat tidak rela, perlahan Jaemee mengangguk, membuatku tersenyum.

Kami memasuki daerah rumah sakit yang luas, dan berjalan menuju gedung tempat kamar Jaemee berada dengan melewati taman rumah sakit.

Ketika kami sudah agak dekat, tiba-tiba Jaemee berhenti dan tangannya yang berada dalam genggamanku mencengkeram lebih kuat. Aku menoleh khawatir dan mendapati ia menunduk menatap lantai batu di bawah kami.

“Ada apa, Jaemee-yah?” aku mendekatinya. Saat itulah aku menyadari bahwa tubuhnya agak gemetar dan air mata sudah siap menetes dari kedua matanya yang baru seminggu ini mendapatkan kembali cahayanya yang lama.

Jaemee ketakutan.

Tanpa menjawab pertanyaanku, ia menutup celah di antara kami dan memelukku erat, membenamkan wajahnya di pundakku sambil menahan tangis. Seketika itu juga aku mendapati perasaan—yang mungkin sedang dirasakan Jaemee juga—menjalar di seluruh tubuhku.

Takut.

Aku takut kehilangan malaikat kecilku.

Pelukan Jaemee kubalas dengan erat. Berbagai pertanyaan melintas di benakku.

Apakah aku masih bisa memeluknya seperti ini besok? Apakah aku masih bisa melihat senyum Jaemee besok?

Mataku terasa panas, dan dalam beberapa detik, wajahku sudah basah oleh air mata.

Aku merasa malu pada diriku sendiri. Selama ini, Jaemee selalu kuat, ia tabah menghadapi penderitaannya. Ia tidak menangis walaupun ia punya seribu alasan untuk menangis. Sedangkan aku justru menjadi rapuh dan tidak sanggup menghentikan air mataku, juga air mata Jaemee yang pada akhirnya ia tunjukkan. Di saat seperti ini, aku malah menjadi lemah. Berani-beraninya aku mengatakan bahwa aku akan melindungi Jaemee, padahal untuk menghapus air matanya pun aku tidak bisa.

Dengan susah payah kuhentikan air mataku. Namun itu tidak menghentikan satu pertanyaan memprotes yang kuteriakkan dalam hati sambil menatap langit.

Tuhan, mengapa Kau lakukan ini pada malaikat kecilku?

“Jangan takut, Jaemee-yah. Apa pun yang terjadi, kau tidak sendirian.” bisikku pelan dengan suara bergetar.

Hanya itu yang bisa kukatakan padanya. Sebesar apa pun cintaku padanya, sebesar apapun rasa sayangku padanya, aku tetap tidak bisa berbuat apa pun jika Tuhan sudah menghendaki.

Baru saat itu aku teringat, mungkin aku dan sahabat-sahabatku secara tidak sadar tahu bahwa seminggu ini adalah saat-saat terakhir kami bersama Jaemee.

Entah sudah berapa lama kami lalui tanpa berkata-kata saat Jaemee menarik diri dari pelukanku. Ada bekas air mata di pipinya yang langsung kuhapus dengan ibu jariku.

“Maaf, aku menangis. Ayo kembali, Kiseop-ah.” katanya sambil tersenyum kecil.

Sesungguhnya hatiku terasa sakit melihat senyumannya, tetapi aku tidak mau membuatnya lebih sedih ataupun ketakutan lagi, maka aku membalas senyumannya dengan senyuman juga. Setelah mencium keningnya lembut, aku menggandeng Jaemee dan kami kembali ke kamarnya.

“Selamat tidur, Jaemee. Mimpi indah, ya.” kataku sambil mengelus rambutnya penuh sayang.

Ia kembali tersenyum padaku. “Selamat tidur, Kiseop-ah. Boleh… aku minta satu pelukan saja?” tanyanya sedikit malu-malu.

Aku tersenyum lebar dan menunduk mendekatinya. “Jangankan pelukan, lautan pun akan kuberikan padamu.” balasku sambil memeluknya, membuatnya tertawa.

“Aku sayang sama Kiseop.”

“Aku juga sayang padamu, lebih dari yang kau tahu.”

Ia melepaskan diri dari pelukanku dan kembali berbaring. Beberapa menit sebelum ia terlelap kami habiskan dengan berpegangan tangan dan saling tersenyum pada satu sama lain, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sampai akhirnya Jaemee tertidur.

Habis sudah kesempatan yang diberikan Tuhan pada kami.

Malam itu juga, kondisi Jaemee kembali memburuk dan keesokan paginya ia dinyatakan koma.

Malaikat kecilku telah berhenti bernafas, namun jantungnya masih berdetak, seakan ia masih memiliki alasan dan keinginan untuk bertahan hidup.

Aku meyakinkan diri bahwa Jaemee pasti sedang bermimpi indah.

Satu persatu sahabatku kembali mengunjungi Jaemee, berbicara padanya dengan harapan ia masih bisa mendengar suara kami.

Lima hari sudah berlalu sejak terakhir kali Jaemee membuka matanya, dan hari itu giliran Kevin yang datang menjenguk.

“Apa kau masih punya harapan bahwa ia akan kembali, Kiseop-ah?” tanya Kevin pelan.

Aku mengangguk untuk menjawabnya.

Kevin terlihat sedih dan ia menggenggam tangan Jaemee. “Tubuhnya sudah tidak sanggup menanggung beban duniawi lagi,” ia berkata. “Tetapi jiwanya masih ingin berada di sini, mungkin itu yang membuat jantungnya masih berdetak.”

Kami terdiam selama beberapa saat sampai Kevin kembali berbicara padaku. “Ia takut kau akan jatuh kalau ia pergi, Kiseop-ah. Apa kau sudah merelakannya?”

Pertanyaan Kevin membuatku sedikit tersentak.

Apa aku sudah merelakannya? Kupikir sudah, tetapi ternyata belum.

Aku masih ingin melihat senyum Jaemee, aku masih ingin memeluknya, aku belum rela melepaskannya.

“Jangan perpanjang penderitaannya, Kiseop-ah…” kata Kevin membuyarkan lamunanku.

Beberapa saat kemudian, aku meminta Kevin meninggalkan kami berdua. Ia tersenyum dan tanpa berkata apa pun pergi keluar dari kamar Jaemee.

Keheningan menyelimutiku dan dengan perasaan bercampur aduk, aku berkata pada diriku sendiri; aku harus rela melepaskannya.

Maka aku mendekat, dan menggenggam tangannya yang saat itu kupikir tidak akan pernah menggenggam balik tanganku.

“Jaemee-yah…,” panggilku. “Aku tidak tahu apa kau bisa mendengarku atau tidak, tetapi cobalah dengarkan.” aku mengambil nafas dan dengan pelan menghembuskannya, sedikit merasa sakit ketika aku sadar bahwa Jaemee saat ini tidak bisa melakukan hal yang terlihat sangat sepele itu.

“Apa… Jaemee sudah bertemu dengan Tuhan?” tanyaku. “Kalau sudah, kumohon genggamlah tanganku.”

Entah itu halusinasiku atau bukan, tetapi aku melihat dan merasakan tangan Jaemee menggenggam tanganku erat.

Seketika itu juga aku dilanda perasaan lega. Lega karena Jaemee pasti tenang di sana bersama Penciptanya.

Dengan air mata yang mulai mengalir menuruni wajahku, aku tersenyum. “Kalau Jaemee mau pergi, kalau Jaemee harus pergi, pergilah. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk bisa kembali tersenyum seperti biasa, tetapi aku janji aku pasti akan tersenyum lagi. Sudah cukup, jangan siksa dirimu sendiri hanya karena aku.”

Perlahan, bunyi alat yang menunjukkan detak jantung Jaemee melambat. Interval antara satu detak ke detak yang lain semakin lebar, sampai akhirnya alat itu berbunyi nyaring.

Malaikat kecilku telah tertidur untuk selama-lamanya.

Aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri bahwa aku merasakan kesedihan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku. Aku menangis dan tidak mau melepaskan tangan Jaemee, sampai akhirnya Soohyun Hyung, Jaeseop, dan Eli harus melepaskanku dengan agak paksa, dan Soohyun Hyung memelukku erat, berusaha menguatkanku.

“Hyung…! Jaemee sudah pergi…!” kataku setengah histeris, masih sambil menangis.

“Iya, dia sudah pergi dan sudah tenang di sana. Jaemee akan menangis kalau melihatmu menangis, Kiseop-ah. Kau harus kuat…!” balas Soohyun Hyung. “Jaemee berpesan padaku untuk menjagamu, kau tahu? Kata-kata terakhir yang ia ucapkan padaku adalah, ‘Tolong jaga Kiseop.’ Ia pasti ingin kau bahagia!”

Kata-kata Soohyun Hyung cukup membuatku merasa tenang, tetapi air mataku tetap tidak bisa dihentikan. Dalam hati aku berkata, “Sekali ini saja aku menangis, Jaemee-yah. Sekali ini saja.”

Dan selanjutnya aku akan tersenyum karena kau sudah bebas di Surga sana.

Satu setengah tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang gadis yang mengubah duniaku.

Saat itu, aku tidak tahu bahwa ia akan menjadi bagian yang penting dalam hidupku. Tetapi sedikit demi sedikit, kami menjadi dekat dan hatiku telah melekat padanya, dan sampai sekarang aku masih mencintainya.

Aku tidak tahu apakah cerita kami akan berakhir dengan menyenangkan atau tidak, tetapi saat itu aku tidak begitu peduli. Satu-satunya yang kuinginkan adalah membuatnya tersenyum, membuatnya bahagia. Ia telah menjadi salah satu alasanku untuk tetap hidup, karena hidup ini indah bersama ia yang berada di sisiku.

Aku belum sempat membuat mimpinya menjadi kenyataan. Ia pernah memberitahuku bahwa ia ingin memiliki pernikahan yang indah, dan ia ingin pergi ke Verona—kota Romeo dan Juliet—paling tidak sekali saja. Ia ingin menulis surat kepada Juliet, ia ingin mengunjungi taman bunga di sana, dan ia ingin berbaring di atas rumputnya yang hijau, memandang berjuta bintang di langit malam Verona bersamaku. Kalau aku memikirkannya sekarang, satu-satunya yang kurasakan adalah penyesalan. Seharusnya aku sudah mengabulkan impiannya, seharusnya aku sudah membuatnya bahagia…

Maafkan aku, malaikatku. Maafkan aku karena kau harus bertemu orang sepertiku. Kalau saja kita tidak bertemu satu sama lain, mungkin kau sudah mendapatkan hidup yang lebih baik, walaupun hidupmu singkat. Kumohon, maafkan aku… dan terima kasih untuk segalanya.

안녕히주무세요, 내 천사.

다음 세상에서, 우리 다시 만나고, 다시 사랑하자.

사랑해.

 

[Selamat tidur, malaikatku.

Di kehidupan berikutnya, mari kita bertemu dan saling mencintai lagi.

Aku mencintaimu.]

 

 

“Bila tiba saatnya bagimu untuk pergi,

Di saat kau terlelap dalam tidur yang lebih dalam daripada kehidupan,

Ingatlah aku sebagai seseorang yang mencintaimu sepenuh hatiku.

 

Ke manapun kau pergi,

Hatiku akan berada di tempat itu.”

(—U-KISS – When Love Stops)

 

[Extra Scene]

Lee Kiseop menajamkan penglihatannya untuk mencari sosok Park Jaemee di balik pintu kaca sebuah restauran. Laki-laki berusia dua puluh satu tahun itu kemudian melihat ke arah jam tangannya dan memutuskan untuk masuk dan menunggu di dalam.

Ia duduk di salah satu meja yang tidak jauh dari bagian tengah ruangan tempat sebuah piano terletak, dan piano itu tengah dimainkan oleh seorang gadis yang sangat disayanginya.

Setelah setengah jam dan setelah tujuh buah lagu selesai dimainkannya, gadis itu berdiri dari kursi piano dan berjalan ke arah Kiseop.

“Maaf, sudah menunggu lama, ya?” Tanyanya sambil tersenyum.

Kiseop balas tersenyum dan berdiri dari kursinya. “Tidak apa-apa, yang barusan tidak terhitung menunggu karena aku terhibur.” Jawabnya, membuat Jaemee tertawa kecil.

Kiseop menggandeng tangan Jaemee dan mereka berdua berjalan keluar ruangan.

“Kau mau ke mana dulu?” Tanya Kiseop.

Jaemee diam untuk berpikir sejenak, kemudian ia berkata, “Ada kafe yang baru dibuka di dekat rumahku, kita ke sana, ya!”

Kiseop mengangguk setuju dan mereka berjalan bergandengan tangan menuju kafe yang disebut oleh Jaemee sambil bercanda.

“Sekolahmu tidak terganggu dengan pekerjaanmu?” Tanya Kiseop.

“Tidak, kok. Lagipula aku senang melakukannya.” Jawab Jaemee ringan.

Kiseop tersenyum, kemudian ia mendekatkan dirinya pada Jaemee, melingkarkan lengannya di sisi kepala Jaemee dan menunduk untuk mencium keningnya. “Lagipula permainan pianomu sungguh indah dan sungguh menggambarkan dirimu, sampai rasanya kalau kita terpisah, aku bisa menemukan dirimu asalkan kau memainkan piano.” Kataku berumpama.

Jaemee tertawa kecil. “Kurasa itu tidak akan terjadi,” Lalu ia menatapku sambil tersenyum.

“Karena kita kan akan selalu bersama!”

Bogor, 3 Juni 2012

18:03

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s