The Second Miracle


Author/Twitter    : Amelia Kartika Widodo / @ameliakartikaAW          

Genre                     : Sad, Romance, Fantasy

Length                   : One Shot

Rating                    : General

Main Casts            : Super Junior’s Choi Siwon

                                 Park MaeRi (OC)

Support Casts       : Super Junior’s Donghae

                                 Super Junior’s EunHyuk

                                 SNSD’s Yoona

Disclaimer             : This Fanfiction is MINE!

Note                      : Semoga nggak bosen bacanya! Happy Reading! 🙂

 

[Park MaeRi POV]

“Kau berbohong padaku!!” Untuk kesekian kalinya aku berteriak di dalam mobilnya yang kini telah terparkir manis di pinggir trotoar jalan raya. Kulihat raut wajahnya kebingungan, maafkan aku, Choi Siwon.

“Percayalah padaku, itu bukan seperti yang kau pikirkan! Aku dan Yoona hanya sebatas partner kerja! Kami menjadi guru vokal di tempat les yang sama,” jelas Siwon, ia mati-matian meyakinkanku. Aku tahu kalau kau tidak pernah mengkhianatiku! Aku tahu! Maafkan aku telah melakukan ini padamu, aku benar-benar minta maaf.

“Pergi! Aku ingin kita berpisah,” ucapku terisak, lalu aku segera membuka pintu mobil Siwon dan keluar ke tengah dinginnya hembusan angin malam ini.

Siwon ikut keluar, dia mencengkeram lenganku, mencoba menahanku. “Tunggu dulu, percayalah padaku. Aku tidak pernah mengkhianatimu, aku sangat menyayangimu dan kau tahu itukan selama dua tahun ini? Kenapa semudah itu kau mengucapkan kata pisah?” cerocosnya. Aku benar-benar tidak tega melihat ekspresinya saat ini, tapi aku tidak bisa terus bersamanya.

“Aku tidak bisa, aku mau putus! Mianhae, Oppa,” ucapku meregangkan cengkeraman tangannya, kulihat matanya sendu, sepertinya ia mulai menyerah.

Justru karena dia terlalu menyayangiku, dia jadi sangat percaya padaku dan selalu berprasangka baik padaku, padahal akulah yang telah mengkhianatinya. Aku memang jahat. Tapi aku tidak mungkin mengakui pengkhianatanku ini, jadi kuputuskan untuk mencari-cari kesalahannya, menuduhnya berselingkuh agar aku bisa putus dengannya. Semua ini karena sebuah alasan…aku bosan dengannya yang terlalu baik.

Ketika aku bertemu EunHyuk Oppa, temanku di kantor, aku merasa nyaman dengannya. Sifat EunHyuk yang konyol, jahil dan juga sering menggodaku, aku suka semuanya, berbeda jauh dengan Siwon yang terlalu dingin. Awalnya aku hanya sering dinner bersama EunHyuk, tapi lama kelamaan hubungan kami menjadi semakin dekat. Saat aku sudah berhasil memutuskan Siwon, aku rasa aku akan segera berpacaran dengan EunHyuk. Meskipun kadang aku berpikir bahwa mungkin ini hanyalah cinta sesaat saja. AH, tapi aku tidak peduli! Aku tahu aku jahat! Tapi aku benar-benar bosan dengan Siwon Oppa.

Aku berjalan menjauhi Siwon, aku menyeberangi jalanan bermaksud untuk pergi ke halte seberang jalan dan menunggu datangnya bus. Pikiranku sangat kacau, rasa bersalah, penyesalan dan kebimbangan merasuki jantungku. Wajah Siwon masih membayangi pikiranku dan aku yakin saat ini dia pasti sedang memandang punggungku di belakang sana.

TIIIIIIIIIN! TIIIIIIIN!

Tiba-tiba aku  mendengar suara klakson yang sangat keras. Kulihat sebuah truk melaju kencang, seakan siap untuk menghempaskanku. Aku takut, sangat takut, sepertinya aku akan mati. Apa ini karma untukku karena telah menyia-nyiakan namja sebaik Choi Siwon? Aku merasa tidak bisa menghindar lagi, tubuhku terasa kaku di tengah jalan ini. Aku pasrah dan hanya menutup mataku yang basah ini, menunggu seseorang dari langit datang menjemput.

“MaeRiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!” Aku bisa mendengar teriakan itu, Siwon. Kurasakan seseorang mendorongku ke pinggir jalan hingga aku tersungkur, lututku terbentur dengan keras ke aspal. Rasanya sakit sekali, tapi ini tidak seberapa  jika dibandingkan dengan apa yang ada dihadapanku saat ini.

JEDAR~~~~~

Tubuh itu terhempas, tubuh yang selama dua tahun ini selalu memelukku dengan kehangatan dan cinta, tubuh yang pernah menggendongku ketika aku hampir saja pingsan karena belum sarapan, tubuh itu…tubuh pria yang seharusnya tidak aku perlakukan kasar seperti tadi.

“Oppaaaa!!!” teriakku sambil berlari memeluk tubuhnya yang lemah, lumuran darah segar membanjiri wajah tampannya.

“Aku mohon jangan seperti ini! Jangan tinggalkan aku!” isakku. Aku sudah tidak memikirkan lututku lagi yang sakit, kini ada yang jauh lebih sakit dari itu, hatiku.

“Jeongmal mianhae…”

Aku hanya bisa menangis, aku tahu seberapa keras aku menangis dan berteriak dia tetap tidak akan bangun lagi. Tubuhnya dingin, tak ada tanda kehidupan. Tapi aku masih tetap berharap sebuah keajaiban, aku berjanji akan memperbaiki kesalahanku padanya. Aku akan memutuskan hubunganku dengan EunHyuk, jika dia sadar kembali.

“Tuhan, aku tahu aku telah melakukan banyak kesalahan, tapi aku mohon berikan aku sebuah keajaiban untuk namja ini. Seharusnya aku yang dihukum, bukan dia,” isakku.

“Nona, sudahlah. Dia sudah tidak ada,” ucap seseorang yang ada di antara gerombolan ‘penonton’ kecelakaan ini. Aku hanya diam dan menatap Siwon-ku ini, aku tidak peduli dengan orang-orang yang berusaha melepaskan Siwon dari pelukanku.

“Nona, kita harus membawa jenazahnya ke rumah sakit,” ucap seorang pria paruh baya, aku rasa dia adalah polisi, terlihat dari seragam yang dikenakannya.

Aku mulai sadar bahwa ternyata tidak ada keajaiban itu ketika aku mendengar seseorang telah menyebutnya sebagai ‘jenazah’. Aku rasa orang sepertiku tidak pantas menerima keajaiban atau ampunan apapun. Akhirnya aku menyerah, aku meregangkan pelukanku dari Siwon.

“Oppa?” desisku kaget saat aku merasa tangan Siwon bergerak diantara genggaman tanganku yang erat ini. Apakah aku mendapatkan keajaibanku? Ah, tidak, maksudku keajaiban untuk Siwon. Apakah keajaiban benar-benar datang?

***

Aku berlari-lari kecil di lorong rumah sakit, menyeimbangkan langkahku dengan Siwon yang kini sudah terbaring lemah di atas dipan beroda.

“Bertahanlah, Oppa. Kau pasti bisa,” ucapku sambil tak hentinya terisak. Aku tahu Siwon mendengarnya karena dia menyunggingkan sebuah senyum di kedua sudut bibirnya, meskipun matanya masih tertutup.

Dua jam kemudian…

Aku ada di ruang perawatan menjaga kekasihku ini, setelah tadi keluarga Choi menjenguk Siwon, mereka sangat sibuk dengan urusan bisnis sehingga saat mengetahui keadaan Siwon membaik, mereka langsung memutuskan untuk pergi lagi. Mungkin aku menyadari kenapa Siwon bertingkah dingin dan serius seperti selama ini, karena dia kesepian. Namun dengan bodohnya aku malah sempat inin meninggalkannya.

Aku memandang tiap lekuk wajahnya dengan intens, matanya yang biasa memandangiku itu kini sedang tertutup, tubuhnya juga masih lemah. Betapa bodohnya aku! Kenapa aku tega menyakiti pria sebaik dan setampan Choi Siwon hanya demi cinta sesaatku, EunHyuk.

“Maafkan aku, ini kesalahanku. Aku sengaja menuduhmu sembarangan. Bertahanlah Oppa. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi padamu,” ucapku sambil tetap menggengam tangan kanan Siwon, sementara aku duduk di samping ranjangnya.

Tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku. “Park MaeRi…”

“Oppa?” Bola mataku membesar. EunHyuk ada disini.

EunHyuk mengelus punggungku. “Kau harus tabah, mianhae aku telah mengganggu hubungan kalian,” ucapnya penuh sesal, aku tahu ini tulus. Mungkin ia terenyuh karena melihat keadaan Siwon sekarang.

“Pulanglah, kita berakhir, Oppa. Aku akan kembali pada Siwon.”

EunHyuk mengangguk. “Baiklah, aku tahu.”

“Ini juga bukan sepenuhnya salahmu, ini salahku juga yang tidak mensyukuri apa yang aku miliki,” gumamku lemah.

“Sudahlah. Aku harap Siwon akan segera sembuh,” ucap Hyuk, lalu berlalu keluar kamar pasien. Aku menunduk lemas, mengenang semua kebodohan dan kejahatanku pada Siwon, mengenang saat-saat kami masih bersama dulu. Tiba-tiba aku merasa tangan Siwon kembali bergerak didalam genggamanku. Jangan-jangan dia mendengar semua pembicaraanku dengan Hyuk?

***

Keesokanharinya, aku mengerjap-ngerjapkan mataku, membiasakan cahaya masuk menyusup kedalamnya. “Dimana Siwon?” gumamku setelah melihat ranjang dihadapanku kosong. Aku beranjak dari sofa tempatku tidur semalaman, lalu keluar kamar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Kulihat beberapa suster di rumah sakit sedang sibuk membawa seseorang di atas dipan beroda, tubuh orang itu sudah ditutupi selimut putih.

“Apa ini? Ini bu-bu-bukan seperti yang aku pi-pi-pikirkan kan?” Aku tergagap, aku takut menerka apa yang sedang terjadi.

“Oppaaaaa!!!!!” teriakku pecah ketika melihat Keluarga Choi sedang menangis sesenggukan diujung ranjang itu.

Aku menelan ludah, menelan pahit kenyataan ini. Keajaiban kami hanya bertahan beberapa jam, sepertinya dia benar-benar telah pergi. Choi Siwon.

***

Beberapa hari kemudian….

Aku menendang sembarangan sebuah kaleng minuman ringan di sepanjang trotoar jalan menuju apartement-ku, hari sudah mulai gelap dan pikiranku masih melayang kemana-mana. Bimbang.

Kresek-kresek…

Aku menoleh ke belakang, aku mendengar suara-suara mencurigakan disana, tapi aku sama sekali tidak takut karena aku tahu siapa yang sedang mengikutiku, pasti dia. Choi Siwon.

Saat aku membalikkan tubuhku ke depan, seorang namja tampan sudah berdiri tepat di hadapanku, aroma tubuhnya benar-benar meneduhkanku. “Mau apa? Apa kurang jelas tadi?” tanyaku sambil mendongakkan kepalaku menatap wajahnya, namja ini memang jauh lebih tinggi dariku.

“Kau serius ingin ikut denganku?” tanyanya memastikan.

Aku mengangguk mantap, tapi jauh dalam lubuk hatiku sebenarnya aku masih ragu.

“Kau tidak akan menyesal meninggalkan orang-orang yang kau sayangi demi aku?” Aissh! Kenapa dia harus bertanya itu, ini membuatku semakin ragu dan takut.

“Tidak, aku kan juga akan bertemu kedua orangtuaku disana,” ucapku meyakinkannya. Aku harus ikut dengannya, karena aku sadar segala ketidakbiasaan ini bersumber dariku. Aku merasa harus bertanggung jawab dan menebusnya.

Siwon tersenyum lembut, ia menggenggam tanganku sambil menatapku sendu. Ah, tangannya masih saja dingin, apa ditempatnya tidak ada sarung tangan!

“Aku ingin beli sesuatu, kajja,” ajakku, lalu menggandeng tangannya. Aku tidak percaya bisa melihatnya lagi, dia memang sangat spesial, sampai-sampai seseorang dari langit pun memberikannya toleransi yang tak biasa.

***

“Aku membelikan sarung tangan untukmu, kurasakan tanganmu dingin jadi kuputuskan untuk membeli ini agar kau merasa hangat,” cerocosku sambil memasangkan sarung tangan pada kedua tangannya.

Kudengar Siwon terkekeh. “Kau ini! Itu tidak akan berpengaruh, MaeRi-ya. Aku memang berbeda darimu, setebal apapun pakaian yang aku pakai, kulitku akan tetap dingin.”

“Oh ya?” tanyaku polos.

Lalu Siwon mengarahkan kedua telapak tanganku ke kedua pipinya, aku menangkup wajah tampannya itu. Benar, sangat dingin. Beberapa menit mata kami saling bertemu.

“Saranghae,” bisiknya pelan. Aku hanya menyambutnya dengan senyum. Lalu dia mulai menundukkan tubuhnya, kedua telapak tangannya kini juga menangkup wajahku yang mungkin sudah basah. Yah, aku menangis.

CHUUU~~~~~

Siwon mencium bibirku sekilas. Aku tidak percaya ini, dua orang dari dunia yang berbeda bisa saling menyentuh. Seperti yang aku katakan, Siwon memang sangat spesial, dia mendapatkan lima hari yang sangat berharga untuk bersamaku dan juga bisa menyentuh tanganku, bahkan menciumku.

Aku yakin wajahku pasti sudah memerah karena ciumannya tadi. “Oh iya, aku juga akan membelikanmu sebuah gitar baru, agar disana kita bisa bernyanyi bersama setiap malam,” ucapku sembarangan, berusaha menetralkan kecanggungan akibat ciumannya tadi.

“Aww! Kenapa menoyor kepalaku?” gerutuku pada Siwon.

“Kau gila hah? Kau pikir kau hanya akan pindah rumah? Kau ini akan pindah dunia, babo!” omelnya padaku.

Aku melongo. “Oh ternyata beda ya?” tanyaku polos.

“Ternyata aku masih jauh lebih pintar darimu, seharusnya kau duluan yang pergi, bukan aku,” ucapnya dengan nada guyon. Tapi kalimatnya ini menyerang hatiku.

Aku melotot padanya. “Aku tidak menyuruhmu menyelamatkanku waktu itu, seharusnya kau biarkan saja aku yang mati,” kataku, air mataku mengalir lagi.

“Bukan…bukan itu maksduku, MaeRi-ya. Aku hanya bercanda tadi.” Siwon kelihatan sangat merasa bersalah.

Seseorang dari langit, sebut saja Angel, ia memberikan lima hari pada Siwon untuk bertemu denganku agar kami bisa saling menyelesaikan kesalahpahaman. Sekarang Siwon sudah tahu bahwa aku hanya memfitnahnya berselingkuh dan dia juga tahu aku berselingkuh dengan Hyuk, tapi Siwon memaafkanku, dia memang sangat menyayangiku.

“Sudahlah, jeongmal mianhae.” Siwon membenamkanku didalam tubuh atletisnya, sangat hangat dan aku tidak mau kehilangan moment indah ini, jadi aku memutuskan akan ikut mati bersamanya. Angel memberikanku pilihan, jika aku ingin abadi bersama Siwon, maka sebelum lima hari ini berakhir, aku harus mati. Dan baru tiga jam bertemu lagi dengan Siwon, aku memutuskan untuk ikut mati. Lagipula aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini, aku memang sejak lahir sudah menjadi yatim piatu dan tinggal di panti asuhan.

***

Hari kedua…

Malam ini aku berdiri di atas sini dengan sejuta keraguan, diatas atap gedung sebuah rumah sakit dimana Siwon dirawat dulu sebelum ia meninggal. Aku telah mengambil keputusan sekarang, aku akan mati dan abadi bersamanya di alam yang lain.

“Kau yakin?” tanya Siwon sambil menatap dalam mataku, seolah ia sedang meragukan niatku.

Kenapa dia harus bertanya seperti itu! Sejujurnya aku sangat tidak yakin, tapi aku harus menebus kesalahanku padanya. Aku segera mengalihkan pandanganku dari mata Siwon, aku takut kalau dia sampai menyadari bahwa aku masih sangat ragu untuk mengakhiri hidupku sendiri malam ini, aku takut dia menganggapku egois.

“Aku yakin!” seruku memantapkan diri. Aku mulai berjalan ke ujung gedung, menundukkan kepalaku, kulihat banyak sekali kendaraan sedang melaju di bawah sana, akupun mulai menelan ludahku, gedung lima belas lantai ini tampaknya cukup membuatku bergidik ngeri saat membayangkan kondisi tubuhku nanti ketika aku sudah dinyatakan mati, pasti akan luar biasa remuk.

“Aku akan melakukannya sekarang, Oppa,” kataku. Selama beberapa menit, tak kudengar sedikitpun tanggapan meluncur dari bibir Siwon, aku rasa dia sudah menungguku untuk menepati janji. Walaupun aku tahu dia tidak pernah memaksaku secara langsung untuk ikut dengannya, tapi aku yakin jauh dalam lubuk hatinya dia pasti ingin aku untuk melakukan ini.

Perlahan aku semakin melangkah mendekati ujung kematianku, semakin dekat sampai aku merasa kepalaku mulai pusing ketika hembusan angin menyapa pori-pori kulitku.

“Selamat tinggal,” gumamku pelan sambil memejamkan kedua mataku. Akhirnya aku melakukannya, kurasakan aliran air membasahi kedua pipiku, kenapa aku menangis? Aku akan bersama dengan orang yang paling mencintaiku di dunia ini, Choi Siwon. Seharusnya aku tidak boleh menangis! Aku akan menyakiti perasaannya kalau menangis seperti ini.

Tiba-tiba sesaat sebelum aku menghempaskan diriku, kurasakan seseorang menahan tubuhku lalu dengan cepat menarikku ke dalam pelukannya, Siwon.

“Jangan sekarang jika kau masih takut, pikirkan lagi. Aku tidak memaksamu,” ujarnya sambil terus membenamkan tubuhku ke dalam dada bidangnya. Aku tidak bisa merasakan kehangatan lagi di dalam sini, yang aku rasakan hanya hawa dingin, tubuhnya dingin karena dia bukanlah Siwon yang sempurna seperti dulu, dia tidak benar-benar nyata.

Aku terisak, tidak tahu harus merespon apa, dia memang sangat mengerti perasaanku. Tapi kenapa aku tidak pernah bisa mengerti perasaannya! “Aku…”

“Kau takut! Aku tahu itu, MaeRi-ya,” selanya memotong kalimatku yang terdengar menggantung tadi. Dia sudah bukan manusia, tapi kenapa masih saja pengertian seperti ini! Seharusnya tadi dia dorong saja tubuhku ke bawah sana, kenapa kebaikannya tidak pernah berubah padahal dia sudah tiada, kenapa dia tidak menjadi egois saja dengan cara membunuhku atau semacamnya agar aku ikut mati bersamanya!  Ini membuatku semakin merasa bersalah, bersalah, bersalah, sangat bersalah.

“Mianhae, aku berjanji akan melakukan itu secepatnya,” isakku makin kencang dalam pelukannya. Aku merasakan detakan jantungku berdegup kencang saat berada di peluknya, ini tandanya bahwa aku masih mempunyai rasa cinta teramat besar untuk Siwon, aku tahu itu. Tapi kadang aku berpikir bahwa dia terlalu baik untukku, bahkan hidupnya dia korbankan untuk menyelamatkan yeoja yang telah menyakitinya, aku merasa menjadi wanita paling jahat di dunia ini.

“Jangan membuat janji yang belum tentu bisa kau tepati,” ucapnya dengan nada lembut yang terkesan tidak menghakimi, tapi cukup membuatku sadar bahwa Siwon sedang meragukanku.

“Ya!! Kau tidak percaya padaku?” seruku sambil melepas pelukannya dan memasang tampang kesal.

“Aku percaya,” jawabnya sambil membelai pipi basahku. “Jangan menangis lagi,” lanjutnya masih sibuk membelai pipiku dan memandang mataku lekat-lekat.

“Dari ekspresimu kau sedang meragukanku, Oppa!” protesku.

“Aku hanya sedang menasehatimu, jangan sembarangan mengumbar janji.” Siwon tetap pada kalimatnya, dia mungkin sudah menaruh firasat buruk padaku, mungkin dia tidak yakin bahwa aku akan ikut dengannya. Begitu juga aku, aku sendiri tidak yakin dengan diriku sendiri.

***

Hari ketiga…

Pagi-pagi sekali aku datang lagi ke atap gedung rumah sakit kemarin karena aku tahu bahwa Siwon hanya bisa muncul di malam hari dan itu artinya dia tidak akan mengganggu keyakinanku untuk melakukan bunuh diri ini dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Aku mulai berjalan ke ujung gedung, kembali menatap lalu lintas kota Seoul di bawah sana. Sama seperti tadi malam, aku bergidik ngeri, tapi inilah saatnya, aku harus melakukannya, demi cintaku pada Siwon. Bukan, lebih tepatnya demi rasa bersalahku padanya.

Aku ingin menghempaskan tubuhku segera, tapi tiba-tiba kudengar suara berat namja mulai mendekatiku. Tidak mungkin Siwon, lalu siapa?

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan nada curiga sambil berjalan mendekatiku.

Aku menoleh ke arah namja itu, namun secara tak sengaja kakiku terpeleset hingga aku hampir saja menghadang maut di bawah sana. Untunglah aku bisa menyeimbangkan tubuhku lagi lalu aku mulai mundur teratur darisana dan mencari tempat yang aman untuk berdiri. Fiuuuh, ternyata aku masih takut mati. AAAA!!! Siwon!!! Aku benar-benar belum siap meninggalkan kehidupan ini.

“Kenapa mundur? Katanya kau ingin mati, ingin abadi bersama kekasihmu itu?” cerocos namja tadi sambil memandangku seolah sedang menghakimiku di dalam ruang sidang.

Aku terkejut mendengarnya. “Kau-kau-kau melihat kami tadi malam? Kau bisa..bisa melihat Siwon juga?” tanyaku terbata-bata.

“Aku punya indra keenam sejak kecil, tidak sulit untukku,” jawabnya tanpa menatapku, ia terlihat sibuk memainkan ponselnya.

Aku hanya memandangnya malas, tidak berniat bercerita apapun dengannya, kurasakan hasrat bunuh diriku menjadi hilang saat mendapati ada orang lain disini. Kemudian segera aku melangkahkan kakiku untuk pergi dari tempat ini, mungkin aku ingin mencari tempat lain untuk bunuh diri, tapi kedengar namja sok tahu itu mulai bersuara lagi.

“Jangan menyiakan-nyiakan hidupmu,” celetuknya.

Aku hanya diam dan kembali melangkah menjauhinya, namun ia membuka suara lagi. “Banyak orang diluar sana yang sedang berjuang untuk tetap hidup, jadi hargailah hidupmu selagi kau punya kesempatan untuk tetap ada dalam kehidupan ini.”

Aku mengepalkan tanganku, mencoba menahan emosiku, aku benar-benar mulai tak nyaman dengan omongannya, sedetik kemudian aku segera membalikkan tubuhku lalu berteriak kasar padanya. “Apa pedulimu? Kau tidak berhak ikut campur!”

“Aku hanya menasehatimu, masih banyak namja di luar sana yang mempunyai jiwa lengkap, kenapa kau harus mengejar yang sudah tidak ada?” sindirnya diiringi tawa meremehkan.

Namja yang kuakui memiliki paras tampan dan berpakaian rapi ini terus menerus mengeluarkan nasihat-nasihatnya padaku dan itu semua membuatku muak. Aku hanya diam memandangnya dengan sinis, kuputuskan untuk tidak lagi merespon kalimatnya dan segera melangkah semakin jauh. Dia pikir dia siapa berani menasehatiku? Dia tidak ada dalam posisiku saat ini!

***

Aku berjalan dengan terhuyung keluar dari pintu utama rumah sakit ini, pikiranku kalut sekali. Benar kata Siwon, aku takut, aku belum siap meninggalkan kehidupan ini, tapi aku harus tetap mati, aku tidak boleh membiarkan Siwon sendirian disana, kebimbangan ini terus merasuki batinku. Beberapa meter berjalan di sekitar trotoar, kulihat ada  sebuah taksi, kemdian aku bermaksud ingin menyetopnya tapi tiba-tiba EunHyuk datang menghampiriku dari arah lain.

“MaeRi-ya, mari kuantar, mobilku ada disana,” tawarnya ramah, pria ini kenapa harus muncul lagi! Bukankah dia sudah setuju untuk mengakhiri hubungannya denganku!

Aku menggeleng dan tersenyum seadanya. “Tidak usah, gomawo.” Lalu aku berjalan kembali untuk menyusuri trotoar dan mataku mulai mencari-cari sebuah taksi lagi. Jujur ketika melihat Hyuk Oppa rasanya hatiku malah semakin sakit, rasa bersalah pada Siwon karena perselingkuhanku, ini membuatku benar-benar stress dan hampir gila.

“Apa yang kau lakukan!” seruku saat merasakan Hyuk menarik tanganku dengan kasar dan menyeretku menuju mobilnya yang terparkir di ujung sana.

“Lepaskan!” teriakku, sambil mencoba melepas gandengannya, tapi Hyuk tetap bergeming, dia masih fokus pada jalanan di depan kami, menerobos orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar kami, tatapan mata Hyuk sangat berebeda jauh dari terakhir kali aku melihatnya beberapa jam sebelum Siwon meninggal, tidak lembut seperti dulu lagi.

“Aku tidak mau berhubungan denganmu lagi!” teriakku kencang sambil tetap berusaha menepis tangan Hyuk dengan kasar. Akhirnya Hyuk mau berhenti dan memandang wajahku dengan tatapan marah.

“Siwon sudah tidak ada, tidak ada penghalang lagi kan? Aku benar-benar jatuh cinta padamu! Aku ingin kita bersama,” ucapnya. Semudah itukah dia berkata bergitu? Aku tahu bahwa memang dulu aku juga tertarik pada Hyuk, tapi aku tidak akan pernah bersamanya meski Siwon sudah tidak ada sekalipun.

Melihatku hanya diam, kemudian Hyuk melanjutkan kalimatnya. “Aku tahu kau sedang berkabung. Aku akan menunggu, yang jelas jangan jauhi aku,” pintanya dengan nada menekanku. Ini benar-benar rumit, kepalaku pusing, keringat mulai membanjiri dahiku.

“Jangan menunggu apapun! Aku tidak akan pernah mau bersamamu, melihat wajahmu sudah cukup membuatku merasa bersalah pada Siwon atas apa yang kita lakukan dulu,” ujarku dingin.

“Tapi aku ingin bersamamu!” seru Hyuk sambil menarik tanganku lagi dan memaksaku masuk ke dalam mobilnya. “Oppa!! Lepaskan!!” teriakku sambil meronta-ronta.

“Jangan kasar padanya!” Sebuah suara gertakan menghinggapi telingaku dan Hyuk, namja yang kutemui di atap tadi?

Dengan cepat, namja ini menarik tanganku dan langsung mensejajarkan tubuhku dalam rangkulan lengan kanannya. Aku hanya diam, kuakui bahwa sekarang aku sedang membutuhkan pertolongan semacam ini untuk menghindari sikap Hyuk yang terus menekanku daritadi.

“Dia namja barumu? Dasar munafik!” tuduh Hyuk Oppa menatapku penuh benci. Sementara aku hanya diam tidak merespon apa-apa, setidaknya aku bersyukur jika Hyuk benar-benar membenciku, jadi dia tidak perlu mengejarku lagi.

Aku segera melepas tangan namja ini setelah kurasa Hyuk sudah menjauh dari hadapan kami bersama mobilnya.

“Gomawoyo,” ucapku datar sambil membungkuk sopan pada namja tadi. Aku tidak terlalu memperhatikan ekspresi wajahnya, rasanya kepalaku sudah cukup pusing memikirkan permasalahan yang sedang kuhadapi. Siwon, Hyuk, mereka membuatku hampir gila, mungkin lebih baik aku cepat-cepat mengakhiri hidupku saja agar tidak ada masalah baru yang datang membelit kehidupanku.

“Mari kuantar pulang, kau tidak takut pulang sendirian?” Pertanyaan namja ini membuyarkan lamunanku.

Aku menatap wajahnya datar. “Aku lebih takut padamu! Kau penguntit! Kau mengikutiku sejak tadi kan?”

Kulihat namja ini hanya diam tersenyum memandangiku, apanya yang lucu? Kalau dia berniat ingin menggodaku, aku rasa bukan sekarang saatnya, aku sedang tidak berselera meladeni namja manapun yang ingin berusaha mendekatiku, bahkan jika Yesung Super Junior pun mendekatiku, aku tidak akan mau! Yang aku mau hanya melihat Siwon hidup kembali! Sehingga kehidupanku akan berjalan normal seperti dulu, tanpa harus berpikir tentang kematian!

“Dokter Donghae!” Seorang wanita berpakaian suster datang menghampiri kami, ia membawa sebuah map yang terbungkus rapi di tangan kanannya.

“Map anda tetinggal di ruangan tadi,” ucapnya sopan sambil menyerahkan map tersebut ke namja tadi. Oh, ternyata dia adalah seorang dokter muda di rumah sakit ini.

Kulihat sekilas yeoja berpakaian suster itu melirikku dengan tatapan sinis, aku hanya bergeming dan pura-pura tidak menyadarinya. Ada apa dengan wanita itu? Seperti sedang cemburu karena melihatku disini bersama Dokter Donghae-nya itu, ah, aku tidak peduli. Aku segera melangkah menjauh dan berniat pulang ke rumah untuk tidur seharian dan menetralkan racun yang mengganjal di pikiranku.

“Jangan pergi dulu, MaeRi-ya!” seru pria bernama Donghae itu.

“Lepaskan tanganmu!” seruku sinis sambil menepis tangannya dengan kasar. “Sejak kapan kau tahu namaku? Dan siapa yang mengijinkanmu memanggil namaku!” bentakku. Aku rasa aku sudah hampir seperti orang gila karena berteriak-teriak terus sejak tadi. Kulihat Donghae tidak menunjukkan kemarahan apapun ketika aku membentaknya, malah kedua matanya terlihat sedang menatapku penuh kelembutan.

“Aku peduli padamu,” ujarnya lirih.

“Kau gila!” teriakku lagi sambil membalikkan tubuhku lalu berlari kecil menjauhinya, aku tidak mau dia mencegahku lagi untuk pergi.

“Aku peduli padamu…pada kehidupanmu!” teriaknya dari belakang tanpa menggeser posisi berdirinya seja tadi. Sementara aku masih terus berlari menerobos jalanan trotoar, sejujurnya aku sangat penasaran kenapa dia begitu peduli padaku, kenapa dia datang tiba-tiba saat kondisiku sedang bimbang mengenai Siwon. Inikah petunjuk dari Tuhan bahwa aku tidak boleh mengakhiri hidupku dengan sia-sia? Inikah petunjuk bahwa aku telah menemukan namja yang peduli padaku lebih dari Siwon? Atau ini hanya alasan karanganku sendiri karena aku memang benar-benar takut mati?

“Tolong aku, siapapun bantu aku untuk menemukan jawabanny!” isakku dalam hati, aku merasa air mataku sudah menetes deras membasahi setiap inchi wajahku. Aku terus berlari dan menundukkan kepalaku, berharap tidak akan berpapasan dengan orang yang aku kenal di jalan. Itu akan sangat menyedihkan dan memalukan!

***

[Siwon POV]

Malam ini aku menunggu MaeRi di atap gedung rumah sakit, tapi aku tidak melihat batang hidungnya muncul setelah hampir dua jam aku disini. Perasaan ragu pun mulai muncul dalam benakku, apa dia tidak akan ikut bersamaku? Apa ia masih tetap ingin hidup dan akan membiarkanku mati sendiri?

Tiba-tiba pikiranku seperti menggiringku untuk pergi ke suatu tempat, yang kurasa aku akan menemukan Park MaeRi disana. Sedetik kemudian aku segera beranjak menuju tempat itu, yang sungguh aku sangat membenci bila melihat seorang yeoja ada disana, apalagi kekasihku.

***

Kulihat MaeRi keluar dari sebuah tempat hiburan malam dengan tubuh terhuyung kesana-kemari. Hatiku rasanya sakit sekali, aku ingin marah padanya, sejak dulu aku selalu melarangnya pergi ke klub apalagi sampai minum-minum seperti sekarang ini. Tapi seketika aku mulai sadar ketika mendapati senyumnya yang terlihat frustasi, mungkinkah dia begitu tertekan atas tuntutan yang mengharuskannya mati dalam lima hari ini? Mungkinkah MaeRi-ku ingin mengingkari janjinya untuk ikut bersamaku?

“Oppa, kau tahu aku disini?” tanyanya dengan tubuh yang sempoyongan seperti ingin jatuh. Aku hanya diam, memandangnya penuh amarah dan kekesalan.

“Oppa, aku mencintaimu, cinta, cinta, cinta, maaf aku bodoh,” racaunya tak jelas sambil memukul-mukul kepalanya sendiri, ia terlihat sedang mabuk berat.

“Aku sangat sedih melihatmu seperti ini, dari dulu aku selalu melarangmu pergi ke klub! Kau seperti wanita murahan!” seruku akhirnya, aku sudah tidak bisa mengendalikan emosiku. Dia pergi ke klub dengan pakaian yang bisa saja mengundang pria hidung belang disana untuk melakukan hal buruk padanya.

Kulihat dia tersentak mendengar kata-kataku, MaeRi mulai menatap mataku lekat. Aku tidak tahu apakah kesadarannya sudah kembali 100% atau belum, yang jelas sepertinya dia menyadari kalimat kasar yang baru saja meluncur dari bibirku.

“Aku? Murahan?” ucapnya lemah dengan bibir bergetar. Kulihat kedua matanya mulai ditutupi butiran air, matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat lemah. “Benar! Kau benar, Oppa! Aku berselingkuh, memfitnahmu, bahkan aku membunuhmu! Aku wanita jahat! Benar!” serunya sambil memukul-mukul dadaku dengan kedua tangannya.

“MaeRi-ya, hentikan,” bisikku pelan. Aku mulai tidak tega melihatnya yang seperti menyalahkan dirinya sendiri atas kematianku. Kulihat air matanya tak berhenti mengalir, akhirnya beberapa saat kemudian kurasakan pukulan tangannya ke dadaku mulai melemah, lalu MaeRi jatuh tersungkur di bawah aspal jalan ini. Dengan sigap aku menahan tubuhnya yang aku yakin sudah tidak sanggup untuk berdiri lagi.

Aku segera menggendong MaeRi ke atas punggungku, lalu aku mulai berjalan dengan sedikit gontai menuju rumahnya. Yah, aku hanyalah arwah biasa, sama sekali tidak punya kekuatan apapun untuk terbang atau bahkan menghilang. Aku juga merasakan lelah ketika menggendong tubuh MaeRi seperti ini, sebenarnya aku belum sepenuhnya menjadi arwah, sisa-sisa sikap manusiaku masih ada dan terasa jelas di dalam hatiku, aku masih bisa menangis, sedih, juga tertawa.

“Oppa, bunuh saja aku agar aku bisa bersamamu,” bisik MaeRi tepat ditelingaku ketika kami ada dalam perjalanan pulang menuju rumahnya.

“Tidak akan, aku ingin kau melakukannya sesuai keinginanmu sendiri. Aku tidak akan memaksamu,” balasku sambil tersenyum kecil. Kulirik MaeRi hanya diam sambil tetap memejamkan kedua matanya di atas gendonganku dan kurasakan kedua lengannya semakin erat memeluk leherku. Sejujurnya aku ingin sekali MaeRi ikut mati bersamaku, tapi aku harus sadar bahwa aku tidak boleh egois, dia berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Aku juga hanya bisa menerima kenyataan jika memang dia memilih untuk tidak pergi bersamaku, aku harap itu tidak akan pernah terjadi.

***

Aku mengantarnya sampai rumah, MaeRi tinggal sendirian di rumah besar ini setelah keluar dari panti asuhan dan sejak dia terima menjadi pegawai di sebuah perusahaan ternama. Segera aku membawanya ke kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk kesayangannya.

“Chagi, ini adalah takdir, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri karena kematianku,” bisikku sambil membelai pipinya saat kulihat ia sudah benar-benar tertidur pulas. Tapi entah kenapa aku merasa bahwa sekarang MaeRi sedang ada pada sebuah mimpi buruk di dalam tidurnya, kuperhatikan keningnya berkerut dan juga tetesan keringat terus membasahi sekujur wajahnya.

“Aku harap kau tidak sedang bermimpi buruk tentang hubungan kita,” ujarku sambil mengecup keningnya dengan lembut, aku menahan bibirku di keningnya selama beberapa menit, rasanya aku tidak ingin melepas ciumanku, seolah ini adalah kecupan terakhir yang aku berikan untukknya.

***

[MaeRi POV]

Hari keempat…

Aku mengerjapkan kedua mataku dengan hati-hati sambil mulai mengumpulkan nyawaku sepenuhnya, kurasakan sinar matahari mulai masuk dari celah jendela kamarku, lalu aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar, tidak kutemukan siapapun disini.

“Siwon Oppa,” gumamku sambil beranjak dari ranjang dan aku menoleh ke jam digital yang terpasang di atas meja kerjaku. Pukul 08.00 KST, kemudian aku mulai ingat tentang kejadian semalam, ketika Siwon menghampiriku di klub, ketika dia memarahiku, ketika menggendongku, bahkan aku merasakan ketika dia mencium keningku dengan sangat lembut dan lama.

“Aku telah menyiakan satu harinya yang sangat berharga. Oppa, aku akan melakukannya hari ini,” janjiku pada diriku sendiri, lalu tanpa mencuci muka atau berganti pakaian, aku langsung keluar rumah dan berlari menuju suatu tempat.

***

Aku terus berlari tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarku yang memandang penuh cibiran, mungkin mereka mengira bahwa aku adalah gadis gila yang baru saja kabur dari rumah sakit jiwa karena saat ini aku hanya mengenakan kaos panjang yang kebesaran dan juga hot pants yang mengekspos kedua pahaku. Belum lagi rambut dan wajahku yang terlihat berantakan dan aku juga merasakan kedua mataku sembap akibat menangis semalaman. Aku tidak peduli!

Aku segera naik ke atap gedung rumah sakit tempatku dan Siwon biasa bertemu, tanpa berpikir panjang aku langsung berlari ke ujung dan berniat melompat menghempaskan tubuhku ini. Tapi tiba-tiba kurasakan sekelibat bayangan muncul jelas dari kedua lensa mataku, bayangan tentang kedua orangtua kandungku, teman-temanku, karirku, EunHyuk, bahkan aku membayangkan wajah dokter muda bernama Donghae itu.

Langkahku tiba-tiba menjadi melambat, kurasakan kakiku mulai kaku, otot-ototku mulai tak berfungsi sebagaimana mestinya, aku menyerah, akhirnya aku menghentikan langkahku dan jatuh terduduk lemas di atap gedung ini. Aku marah pada diriku sendiri, sangat marah.

“Ternyata cintaku tidak cukup besar untukmu, Oppa. Aku tidak bisa melakukan ini, padahal kau sudah menghilangkan nyawamu demi menyelamatkanku. Tapi aku?” Aku merutuki diriku sendiri dan mulai menangis sejadi-jadinya. Harus aku kuakui bahwa aku tidak ingin mengakhiri hidupku, aku belum mau mati.

“Jangan menangis, itu akan sia-sia.” Kudengar suara berat namja yang sepertinya tidak asing di telingaku, Donghae. Kurasakan ia memapah tubuhku agar berdiri, kemudian dia memegang kedua lenganku sambil menatap wajahku yang banjir air mata.

“Kenapa kau selalu muncul?” isakku dengan lemah, aku ingin mengusirnya pergi, tapi entah kenapa aku merasa sangat teduh ketika melihat tatapan mata Donghae yang begitu tulus.

Tiba-tiba dia memelukku, membawa tubuhku terbenam dalam dada bidangnya yang hangat, tidak seperti dada Siwon yang terasa dingin. Aneh sekali karena aku tidak berusaha meronta dengan perlakuannya ini, malah sebaliknya bahwa aku merasa sangat amat nyaman dan menikmati setiap aroma tubuhnya.

Deg…deg…deg…deg…

Suara apa ini? Kurasakan hatiku berdegup kencang lagi yang terakhir kali aku merasakannya pada Siwon saat dia memelukku beberapa hari lalu. Gila!!! Aku sudah gila!!

“Ini takdir Siwon, bukan salahmu. Tidak ada yang abadi, ingatlah itu. Siwon dan kau sudah berbeda alam, jangan biarkan dia memaksamu untuk ikut dengannya,” bisiknya sambil membelai lembut kepalaku.

“Kau tahu segala hal tentangku dan Siwon?” tanyaku sangat penasaran.

“Sudah kubilang bahwa aku punya indra ke enam, aku sangat peduli denganmu dan aku tahu semua tentangmu,” jawabnya sambil tersenyum dan melepaskan pelukannya, sedetik kemudian dengan lembut Donghae mengarahkan jari-jarinya untuk menghapus air mataku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, apa aku harus marah padanya atau harus berlindung padanya? Perasaanku semakin bimbang ketika bertemu dengan Donghae, aku tidak yakin bahwa aku bisa menepati janjiku pada Siwon.

***

Malam harinya, Donghae mengajakku makan bersama ke sebuah restoran, entah kenapa aku mau menerima ajakannya, jujur aku merasa sangat nyaman saat ada di dekatnya. Apa mungkin aku jatuh cinta lagi? Entahlah, kepalaku pusing.

“Ini restoran favoritku, aku hanya membawa seseorang yang spesial untuk makan disini,” ucap Donghae sambil mengulum senyum menatapku penuh arti.

“Mwo?” pekikku canggung. Apakah aku orang yang spesial untuknya?

“Aku tidak sedang merayumu,” celetuk Donghae sambil tertawa. Sementara aku hanya membalasnya dengan senyum malu-malu. Gila, aku benar-benar sudah gila! Donghae, kau membuatku gila!

[Siwon POV]

Aku menatap sendu pada mereka berdua yang sedang menikmati dinner romantis itu, kulihat MaeRi-ku yang cantik tersenyum sumringah, tidak ada guratan ketakutan atau tekanan seperti saat ia sedang bersamaku. Yah, seharusnya aku tidak berharap terlalu banyak, aku sudah berbeda alam dengan MaeRi, aku tidak pantas merebut kehidupannya, kurasa MaeRi-ku pantas untuk lebih bahagia bersama pria itu, sebaiknya aku segera menghilang dari kehidupannya.

“Ini sudah hari keempat dan besok adalah hari terakhirku bisa melihat MaeRi, setelah itu aku akan lebur bersamaan dengan angin. Inilah takdirku,” lirihku sambil mencoba menahan air mataku yang terus mendesak untuk keluar.

***

[Author POV]

Siwon berjalan mengikuti Donghae menuju sebuah rumah sakit, ia bermaksud ingin mengetahui tentang siapa sebenarnya lelaki itu karena sebelumnya Siwon tidak pernah melihat MaeRi berteman dengan laki-laki ini.

Tiba-tiba mata Siwon terbelalak saat mendapati Donghae berhenti di tempat parkir rumah sakit dimana ia dirawat sebelum meninggal dulu. Terlihat bahwa Donghae dengan wajah berlumuran senyum sedang memeluk seorang wanita berpakaian suster yang sebelumnya pernah dilihat MaeRi ketika yeoja itu menyerahkan map yang tertinggal pada Donghae.

“Apa yang dilakukan pria sialan itu?” gerutu Siwon penuh curiga.

Sesaat setelah Donghae memberikan kecupan perpisahan untuk yeoja itu, Siwon langsung menghampiri Donghae dengan tatapan ingin ‘membunuh’.

“Kau mempermainkan Park MaeRi?” tanya Siwon dingin, ia tahu bahwa Donghae memiliki kemampuan untuk melihatnya.

“Lalu kenapa? Aku memang tidak pernah mencintai MaeRi! Aku hanya ingin melihatmu pergi sendiri! Aku muak dengan sikapmu…kau sudah hilang, tapi masih saja menjadi beban untuk orang lain!” teriak Donghae yang kedengaran seperti sedang menantang.

“Kau tidak berhak mencampuri hubungan kami!” seru Siwon sambil mencoba menghempaskan tinjunya tepat di wajah Donghae, namun sayang Siwon tidak punya kekuatan untuk meninju siapapun, tangannya hanya menembus tubuh Donghae. Yah, Siwon adalah arwah dan Angel tidak pernah memberikannya kekuatan untuk melakukan sesuatu yang bersifat menyakiti orang lain.

Donghae tertawa meremehkan. “Lihatlah dirimu! Menghajarku saja tidak mampu! Payah!” cibirnya. “Kau! Menghilanglah!”

Siwon hanya diam merutuki keadaannya saat ini, Donghae benar, Siwon tidak punya apapun yang pantas dibanggakan lagi. Kalau semasa hidupnya ia adalah seorang guru vokal yang punya popularitas tinggi di antara murid-muridnya, sekarang ia hanya bagai butiran debu yang siap hilang diterjang angin kapan saja.

“Sadarlah!” cibir Donghae lagi sambil berlalu dari hadapan Siwon yang sekarang sedang mematung kaku.

Siwon hanya bisa menarik napasnya dalam sambil memandangi langit gelap yang menyelimuti malam dingin ini. “Tuhan, bolehkah aku menangis? Bolehkah aku menyerah sekarang?”

***

[MaeRi POV]

Hari kelima…

Aku dan Siwon memandangi hamparan malam yang dingin ini, masih di atas atap tertinggi gedung rumah sakit seperti biasanya. Kami duduk berdua di atas sebuah bangku panjang yang sejak dulu memang sudah tergeletak di tempat ini.

“Kemana saja kemarin malam? Aku tidak bisa menemukanmu dimanapun?” tanya Siwon padaku dengan nada penuh curiga. Aku tidak yakin apakah dia benar-benar tidak tahu kemana aku pergi semalaman? Sepertinya Siwon sedang mengetesku.

“Aku sedang ada lembur di kantor, jadi aku menginap disana,” jawabku berbohong dengan hati-hati, padahal selama beberapa hari sejak dia meninggal, aku belum pernah masuk kantor lagi. Tentu saja karena alasan sedang dalam situasi berkabung.

Siwon hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawabanku, sementara aku menahan napasku sejenak, aku sangat berharap bahwa dia tidak menyadari kebohonganku, meski aku ragu, mana mungkin dia tidak tahu kalau aku sedang berbohong?

‘Sebenarnya apa yang ada dalam otakku kini? Kenapa aku membohonginya demi pria yang baru saja aku kenal! Ada apa denganku ini!’ batinku tak mengerti.

“Aku melihatnya bersama wanita lain,” ucap Siwon tiba-tiba sambil menoleh ke arahku yang sekarang sedang menyandarkan kepala di bahu kanannya.

Aku tersentak, kemudian aku mulai berdiri dari dudukku dan memandang Siwon. Sepertinya firasatku benar, sepertinya Siwon tahu bahwa aku sedang berbohong. “A-a-apa?”

“Donghae. Dia tidak benar-benar menyukaimu, dia hanya ingin kau goyah pada pendirianmu, dia ingin memisahkan kita,” jelas Siwon tanpa menatap wajahku yang mungkin saat ini sudah pucat pasi.

“Aku begitu ingin bersamamu, tapi kurasa Donghae telah membuatmu bertambah bimbang dan goyah. Kau tidak akan menepati janjimu kan?” tekan Siwon padaku.

“Oppa, bukan seperti itu. Sebenarnya aku sudah lebih dulu goyah sebelum bertemu Donghae,” akuku jujur. Entah kenapa aku merasa tidak terima ketika Siwon menyalahkan Donghae atas segala perasaan kacauku ini.

“Jadi setelah aku pergi, kau akan bersamanya? Bersama orang yang mempermainkanmu?” cibir Siwon padaku.

“Donghae tidak mempermainkanku! Dia tulus peduli padaku! Dia menyayangiku!” teriakku. Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi padaku? Kenapa aku merasa seperti sedang berniat untuk mengkhianati Siwon lagi? Apa aku jatuh cinta pada Donghae?

Siwon tertegun melihat emosiku yang membuncah. “Aku tidak bohong, percayalah padaku,” ujarnya pelan sambil berdiri dari duduknya dan mulai menggenggam kedua tanganku.

“Sepertinya kau benar-benar ingin aku mati? Kau tidak peduli dengan aku yang tertekan selama ini? Kau tidak mau membiarkanku bahagia?” tanyaku bertubi-tubi yang malah kedengarannya bahwa aku seperti sedang memohon pada Siwon agar tidak mencabut nyawaku malam ini.

“Aku tidak mau kalau kau disakiti olehnya!” teriak Siwon penuh emosi sambil terus mengeratkan genggamannya di kedua tanganku. Belum pernah aku melihat Siwon semarah ini, dia yang biasanya begitu lembut, ada apa ini?

“Oppa, aku tidak bisa ikut denganmu, jeongmal mianhae,” ucapku dengan hati-hati lalu mulai melepaskan tangannya yang menggenggamku erat sejak tadi. Akhirnya aku mengungkapkan semua perasaan raguku padanya, aku tahu mungkin aku adalah yeoja jahat, tapi aku benar-benar takut mati, bahkan aku tidak mau berpisah dengan Donghae.

“Kau mengkhianatiku? Lagi?” tanya Siwon, aku menangkap ekspresi kesedihan dan kekecewaan mendalam dalam wajah tampannya. Aku minta maaf.

“Oppa, mianhae. Bukankah seharusnya kita sudah berpisah sejak kau meninggal?” tanyaku dengan sangat hati-hati, tapi aku tahu pasti ini akan sangat menyakitkan untuk Siwon.

Siwon tersenyum pedih mendengarku. “Sadarlah, MaeRi-ya! Kau sedang dipermainkan oleh Donghae!!” serunya meyakinkanku, Siwon mengguncang tubuhku, mungkin ia berharap bahwa aku akan percaya padanya dan mau ikut mati bersamanya.

“Siapa yang percaya pada setan sepertimu?” tanyaku sinis yang sukses membuatnya melemah. Astaga, apa lagi ini! Aku tidak bisa mengontrol bibirku yang terus mengeluarkan kata-kata menyakitkan, apa yang harus kulakukan!

“Baiklah, aku tahu. Mianhae telah mengusik kehidupanmu,” balas Siwon sambil mengelus lembut kepalaku. Dia masih saja sabar menghadapiku yang sudah menyakiti hatinya berulang kali, aku mengkhianatinya lagi, aku tidak percaya bahwa aku adalah yeoja sejahat ini.

Kulihat Siwon melangkah menjauh dariku, entah kenapa aku sama sekali tidak berniat mengejarnya atau bahkan mencegahnya pergi. Aku rasa aku sudah benar-benar akan mengikhlaskan kepergiannya, aku juga tidak mau mati konyol dan abadi bersamanya di alam lain. Siapa yang bisa menjamin bahwa kami akan bahagia di alam sana? Aku rasa itu semua hanyalah aturan-aturan tidak masuk akal yang telah dibuat seseorang dari langit yang mengaku dirinya sebagai Angel.

***

Pagi-pagi sekali aku mendapati seseorang memencet bel rumahku dengan sangat tidak sabaran, akupun segera membuka pintu dan betapa terkejutnya aku setelah tahu siapa yang datang.

“Yoona?”

“Aku kesini untuk membicarakan sesuatu denganmu,” ucap Yoona dengan nada serius. Aku melongo sebentar menatap wajahnya, kurasakan bahwa aku merasa bersalah ketika melihatnya, tentu saja karena dulu aku menggunakannya sebagai alasan untuk memutuskan Siwon.

“Masuklah,” suruhku dengan tersenyum canggung.

Yoona langsung duduk di atas sofa ruang tamu ku, matanya terlihat sembap, aku rasa dia sangat terpukul dengan kematian Siwon, tentu saja kaena dia adalah sahabat baik Siwon selama lebih dari lima tahun.

“Kau mau bicara apa?” tanyaku sambil meletakkan sebuah cangkir berisi teh hangat untuknya di atas meja.

“Sebelum kecelakaan itu, dia menitipkan sesuatu padaku. Ini untukmu,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah keping CD (bukan celana dalem).

“Apa ini?” tanyaku bingung sambil memperhatikan keping CD yang hanya terbungkus plastik bening ini.

“Selama beberapa minggu dia menghabiskan waktunya untuk membuat lagu itu di rumahku. Yang membuatku sedih, kudengar kalian sempat bertengkar karena aku,” jelas Yoona sambil memasang raut wajah penuh kesedihan.

“Aku minta maaf jika aku terlalu masuk mencampuri hubungan kalian, tapi sungguh…aku dan Siwon-ssi hanyalah sahabat,” lanjut Yoona lagi, berusaha meyakinkanku bahwa hubungan mereka hanyalah sepasang sahabat, tidak lebih.

Aku memandang Yoona dengan penuh sesal, aku yang seharusnya minta maaf, bukan dia. Untuk kesekian kalinya, aku merasa menjadi wanita yang paling jahat di dunia ini. “Yoona-ya, aku percaya padamu.”

“Baiklah, aku pulang dulu. Oh ya, Siwon belum selesai membuat liriknya, itu hanya sebagian,” pamit Yoona segera, aku tahu bahwa dia berusaha menghindar dari pembicaraan tentang Siwon, dia pasti akan menangis jika kami lebih lama mengenang tentang Siwon. Aku rasa Yoona mempunyai perasaan lebih untuk Siwon, tapi Siwon malah mencintaiku, seharusnya Yoona lah yang pantas bersanding dengannya, bukan wanita jahat sepertiku.

Aku mulai menitihkan air mataku saat aku mengingat peristiwa sebelum kecelakaan Siwon terjadi, saat itu dia berniat mengajakku ke suatu tempat untuk memberikan sesuatu padaku, tapi aku malah memutuskannya. Ah, babo! Aku benar-benar jahat!

You wearing the white bridal gown
Me wearing the suit
Both of us walking in sync towards the stars and moon, I swear
No lies, no suspicion
My dearest princess, stay with me

“Siwon Oppa, inikah yang kau buat selama ini di rumah Yoona, untukku?” gumamku sambil terus mendengarkan suara lembut kekasihku yang mengalun lembut dari CD yang dibawa oleh Yoona tadi.

Even if we are becoming older, we will smile and live on
Would you marry me? Are you willing to live the rest of your life with me?

The only thing that I can give you is love

“Oppa, kau ingin melamarku?” gumamku lagi, kali ini bibirku bergetar ketika mengatakannya. Tak terasa pipiku sudah basah dengan air hangat, terharu, dan juga pikiranku kini sedang membayangkan bagaimana saat dia melakukan perekaman lagu ini. Memetik gitar, mengalunkan lagu ini dengan sudut-sudut senyum di bibirnya, kedua matanya pasti sedang membayangkan wajahku juga, aku yakin pasti seperti itu ekspresinya ketika menyayikan lagu ini.

Although it’s insignificant
Even though there are areas which I lack
I will protect the love between us, me and you
Let’s make a promise, no matter what happens we will still be in love

Suara nyanyian lembutnya sudah tak terdengar, aku berdiri mendekati komputerku dan ingin segera mematikannya. Air mataku masih saja terus menetes, yang ada dalam bayanganku sekarang hanyalah wajah tampan Siwon, Siwon, Siwon.

Ketika aku ingin segera mengeluarkan CD tersebut dari tempatnya, tiba-tiba aku mendengar suara lagi dari dalam rekaman itu. “Ini belum selesai.”

“When everyone will leave me, when i dont have popularity, even if i can’t sing anymore or even if i am fat, will u still love me as me? U will…right?”

Suara Siwon yang terdengar sendu, menghinggapi seluruh ruangan kamarku. Aku lemas, tubuhku tak sanggup menumpuku untuk berdiri lagi, lidahku kelu, pikiranku kacau, hatiku remuk.  “I will!” seruku penuh emosi, akhirnya tangisku pecah. Aku terkulai lemas di lantai dingin kamarku, aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aku telah menyia-nyiakan seseorang yang begitu menyayangiku.

***

 Aku berlari sekuat tenaga menuju rumah sakit, aku tidak bisa mengontrol pikiranku lagi, aku ingin segera bertemu dengan Siwon. SANGAT INGIN!

Aku sampai di atap rumah sakit dan aku sadar bahwa ini masih tengah hari, Siwon tidak mungkin muncul sekarang. Akhirnya aku menantinya disini sampai malam tiba, bahkan aku belum sama sekali makan ataupun mandi sejak pagi. Yang aku butuhkan sekarang hanyalah Siwon! Siwon! Siwon!

Pukul 23.00 KST

Tiba-tiba hatiku seperti terserang sengatan yang memaksaku untuk sadar. “Bukankah ini sudah hari keenam? Kemarin hari terakhirnya?” ucapku sambil menelan ludahku dengan sangat hati-hati. Aku tidak akan bertemu dengan Siwon lagi, dia sudah lebur bersama angin, dia sudah benar-benar hilang?

“Siwoooooooon!!!!” teriakku sambil terisak. Suaraku terdengar serak, aku benar-benar telah kehilangannya. Kemudian mataku mulai menelisik ke awang-awang, aku mulai mengikuti pikiranku yang mulai kacau.

“Aku akan bunuh diri! Aku tidak peduli jika memang tidak bisa bertemu denganmu lagi! Aku tidak pantas hidup, aku tidak pantas diampuni!” seruku sambil tetap terisak. Aku mulai melangkahkan kakiku menuju ujung gedung, aku mantap melakukannya, aku panta mati.

“Jangan lakukan itu, aku mohon!” Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhku dari belakang, aku sangat berharap bahwa dia adalah Siwon, sangat berharap.

Kurasakan tubuhku melemah, aku terkulai lemas bersimpuh di atap gedung rumah sakit ini, aku menyesal, lima hari yang sangat berharga untuk Siwon hilang begitu saja karena aku yang egois dan juga seorang pengkhianat.

“Percuma, kau tidak akan bertemu dengannya disana jika kau mati sekarang. Bukankah Angel bilang kau harus mati dalam lima hari? Ini sudah hari ke enam,” ujar namja yang kini sedang memelukku erat. Kenapa dia begitu ingat tentang hitungan hari itu, sedangkan aku malah melupakan ini, Donghae, kau benar-benar membuatku semakin merasa bersalah pada Siwon.

Aku diam tidak merespon kalimat Donghae, aku hanya memejamkan kedua mataku dan membiarkan aliran air membasahi kedua pipiku. Aku berharap ini hanyalah sebuah mimpi, aku sangat berharap ini hanyalah mimpi.

‘Tuhan, berikan aku keajaibanmu yang kedua, seperti saat tangan Siwon bergerak waktu aku memeluknya di tengah jalan raya dulu, aku mohon,’ doaku dalam hati. Aku berharap masih ada keajaiban yang datang untukku dan Siwon, kalau keajaiban itu benar-benar datang aku tidak akan menuntut apa-apa lagi dalam kehidupanku, aku hanya ingin Siwon kembali, entah dia bersamaku ataupun bersama Yoona. Yang jelas aku hanya ingin melihatnya tersenyum, tertawa, menciptakan lagu, pergi fitness dan juga bermain basket seperti dulu, sungguh.

“Buka matamu, jangan menangis terus,” bisik Donghae di telingaku. Sementara aku masih memejamkan kedua mataku yang tergenang, terus berdoa meminta pada Tuhan agar mengembalikan Siwon-ku. Beberapa menit berlalu, sepertinya tidak terjadi sesuatu yang ajaib, aku masih terisak dalam pelukan Donghae, masih merutuki sikap jahatku dan masih saja mengharap keajaiban dari Tuhan. Dimana otakku! Seharusnya aku sadar bahwa masih banyak orang diluar sana yang lebih berhak mendapat keajaiban daripada wanita jahat sepertiku!

Aku merasakan seseorang membelai kepalaku dengan sangat lembut, sedetik kemudian belaiannya berpindah ke pipiku yang basah ini, entah kenapa sepertinya sentuhan ini bukanlah milik Donghae. Aku tahu pasti.

“Chagi, bukalah matamu.” Itu bukan suara Donghae, aku yakin. Aku masih diam, tidak berani membuka mataku, aku takut bila ternyata ini hanyalah halusinasiku saja.

“Chagi, saranghae,”ucap suara itu lagi.

Akhirnya kuberanikan diri untuk mengerjapkan kedua mataku dan membuka kedua mataku secara perlahan-lahan. Aku melihat semuanya putih, tercium aroma obat-obatan disini dan seorang namja tampan dengan senyum berlesung sedang memandangiku lembut.

“Siwon Oppa?”

Kulihat dia duduk atas sebuah kursi roda dengan kepalanya terbelit perban putih, sedangkan aku terbaring lemah di sebuah ranjang rumah sakit. Apa yang terjadi?

“Kau bangun?” serunya antusias, senyum tak henti-hentinya mengembang dari sudut-sudut bibirnya.  “Kau tidur hampir 20 jam dengan kondisi matamu yang terus mengeluarkan air mata dan tidak ada seorangpun yang bisa membangunkanmu, kau membuatku khawatir!” omel Siwon.

“Aku tidur selama itu?” tanyaku polos, kurasakan kepalaku pusing sekali dan ketika aku menyentuh pipiku, benar, basah, sangat basah.

“Kau membuatku dan keluargaku khawatir, teman-teman kantormu juga baru saja pulang setelah menjengukmu. Aku ynag baru saja mengalami kecelakaan, tapi kenapa kau yang pingsan selama itu!” Siwon terus-terusan mengomel, ia kelihatan begitu khawatir.

Aku hanya tersenyum menanggapi omelannya dan aku mulai menyadari bahwa ternyata yang aku alami hanyalah sebuah bunga tidur. Aku sangat lega. “Oppa, bolehkah aku memohon sesuatu padamu?”

“Apa? Katakan saja,” balas Siwon sambil membelai pipiku.

“Tolong peluk aku, jebal,” pintaku sambil menatap matanya lekat.

Aku segera memposisikan diriku bersandar ke head board ranjang, lalu kulihat Siwon tersenyum sambil berusaha berdiri untuk meraih tubuhku dalam pelukkannya.

“Mianhae, aku tidak pantas untukmu, bahkan di dalam mimpipun aku mengkhianatimu,” bisikku padanya.

“Apa yang kau bicarakan?” tanyanya tak mengerti.

“Aku tidak mau kau berubah, tolong jangan berubah, jangan bersikap canggung padaku, jangan menjadi seseorang yang aku inginkan, jadilah dirimu sendiri.”

“Kau pasti baru saja mengalami sebuah mimpi buruk.”

“Mianhae.”

“Jangan bicarakan tentang perpisahan ataupun pengkhianatan lagi. Setiap orang punya kekurangannya masing-masing, meskipun orang-orang berkata bahwa aku sempurna, tapi aku sadar bahwa aku belum bisa mencintaimu dengan sempurna. Aku sadar bahwa aku adalah pria yang membosankan,” ucap Siwon terdengar merasa bersalah.

“Jangan bicara seperti itu, kau membuatku semakin merasa bersalah,” ujarku sambil melepaskan pelukannya. Kulihat Siwon hanya tersenyum memandangku dengan tatapan penuh cinta.

“Kau memaafkanku?” tanyaku lagi untuk memastikan karena aku tahu betul bahwa Siwon telah mengetahui perselingkuhanku dengan Hyuk Oppa.

“Tuhan saja bisa memaafkan siapa saja yang bersalah, sedangkan aku kan  hanya manusia biasa, tentu saja aku memaafkanmu. Asal kau jangan mengulanginya lagi,” tutur Siwon-ku yang sangat religius itu.

“Gomawoyo. Saranghae,” bisikku di telinganya.

“Nado,” balasnya sambil mencium pipi kananku dengan lembut.

***

Seminggu kemudian…

Kesehatan kami berdua sudah sama-sama pulih, kini kami menjalani hubungan cinta yang mulus, tidak ada lagi aura pengkhianatan dalam diriku, tiada lagi aku yang menipu diriku sendiri dengan berkata ‘Siwon terlalu baik sehingga aku bosan’ Cih! Itu adalah kalimat terbodoh yang pernah aku ucapkan sepanjang perjalanan hidupku.

Saat ini aku ada di dalam studio musik milik Siwon, tumben sekali suasananya sangat sepi, padahal biasanya murid-murid les vokal-nya yang genit itu selalu mencari perhatian dengan mengunjungi Siwon disini. Tidak hanya wanita, tetapi juga pria. Aigo! Siwon-ku, kau benar-benar incaran setiap makhluk di muka bumi ini.

“The only thing that I can give you is love,

Although it’s insignificant,

Kudengar Siwon melantunkan sebuah lagu sambil memainkan gitanya dengan lembut, aku seperti mengenal lagu ini.

Tiba-tiba aku melihat sebuah cahaya terpancar dari belakang tempat Siwon duduk bernyanyi, Donghae. Aku masih terpaku, tidak tahu harus bicara apa, antara takut dan juga terkejut. Aku memandang Donghae yang kuperhatikan memiliki sepasang sayap yang menggantung di punggungnya, mata kami bertemu selama beberapa saat dan kami seperti melakukan komunikasi batin.

‘Ketika kau mendapatkan keajaiban yang tak terduga, itu berarti kau adalah orang yang spesial.’

‘Aku mendapatkan keajaibanku yang kedua?’

‘Kau mendapatkannya, yang terjadi bukanlah sebuah mimpi, kau dan Siwon mengalaminya. Tapi dia sudah tidak ingat lagi.’

‘Terima kasih, Angel.’

‘Waktu berputar terus, selagi ada kesempatan bersama mereka yang kau sayangi, maka gunakan waktu itu sebaik-baiknya.’

Kulihat Donghae menghilang lagi, ternyata dia adalah seseorang dari langit yang mengatur semua ini. Sedetik kemudian aku segera menatap wajah Siwon lekat dan mulai mendengarnya bernyanyi lagi.

Even though there are areas which I lack,

I will protect the love between us, me and you…”

“Let’s make a promise, no matter what happens we will still be in love,” sambungku ikut mendendangkan lagu itu.

Siwon terkejut setengah mati mendengarku hafal dengan lirik lagu ciptaannya. “Kau tahu tentang lagu ini? Yoona memberitahumu?” tanyanya sambil berjalan mendekatiku, ia terlihat begitu kaget.

“Ah, tidak, aku hanya menebak,” ucapku menggodanya lalu aku mulai tertawa terbahak-bahak melihat wajahnya yang seperti orang bodoh.

“Aneh,” cibirnya padaku sambil mendengus kesal.

“Oppa,” panggilku.

“Ya, sayang?”

“Dengarkan aku baik-baik,” ucapku penuh keseriusan dan sukses membuat Siwon memasang tampang bodohnya lagi.

“Apa?” tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya ke atas. Aigo! Dia tampan sekali, aku sangat suka dengan ekspresi bodohnya yang khas itu.

“When everyone will leave me, when i dont have popularity, even if i cant sing anymore or even if i am fat, will u still love me as me? U will…right?”

Siwon mengejang mendengar perkataanku. “Kau…sejak kapan kau punya indra ke enam?? Kau tahu tentang CD itu?” tanyanya terbata-bata.

“I will, Oppa!” kataku menjawab kalimat-kalimat yang tadi. Aku tertawa terbahak-bahak melihat wajah bodoh Siwon, menyenangkan sekali menggodanya seperti ini.

“Kalo lagunya sudah selesai, aku menunggumu menyanyikan lagu itu secara langsung di hadapanku. Aku tidak mau dalam bentuk CD!” tukasku semakin menggodanya.

Siwon masih memasang tambang bodoh, malah sekarang bertambah bodoh.

“Oppa?” panggilku lagi padanya.

“A-a-a-pa lagi?” tanyanya terbata-bata.

“Bolehkah aku bersikap agresif satu kali saja,” pintaku sambil mengedipkan sebelah mataku.

“Apa maksudmu?” tanyanya tak mengerti.

Aku pun segera meraih tengkuknya lalu menciumnya tepat di bibir, aku mulai menjinjitkan kedua kakiku karena postur tubuh Siwon yang tinggi membuatku kesulitan untuk meraih bibirnya.

Dia melongo setelah aku melepaskan ciumanku. “Napeun!!!” teriaknya sambil memukul kepalaku dengan ujung gitarnya yang menurutku lumayan keras.

“Awwww!!” teriakku. Lalu segera Siwon meraihku dalam pelukannya yang terasa lebih hangat dari sebelum dia mengalami kecelakaan itu.

Aku berpelukan dengannya sangat lama tanpa sepatah katapun yang meluncur dari mulut kami berdua, hening, sangat hening. Aku mendapat keajaibanku yang kedua, aku tidak tahu kenapa aku begitu spesial, tapi se-spesial apapun aku, yang pasti aku tidak akan pernah se-spesial sekarang ketika memilikinya, Choi Siwon. Terimakasih, Tuhan. END

 

Note    : FF ini udah pernah di publish di blog pribadi author…Semoga menghibur dan feel nya dapet pas baca..Thanks for reading :* Semoga ni FF bisa menang..amiiiin hoho. Komen, kritik dan saran yang pedas atau manis selalu d

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s