This is what I call “love”


FanFiction by; SitiZarah Jamil (@zaraheee)

Main Casts : yong jun hyun, kim  yuri (oc)

Genre: romance, dll.

“Jadilah namjachingu-ku, jun hyung-sunbae!” pinta yuri dengan lantang di hadapan seorang namja tampan yang begitu ia kagumi. Kebetulan pelajaran tlah usai dan sekolah pun sudah sepi, jadi meski ditolak pun tak akan membuat yuri terlalu merasa malu. Namun tampaknya namja itu tidak merasa kaget sama sekali dengan pernyataan cinta dadakan yuri, ia hanya menghela nafas kemudian berlalu meninggalkan yoeja yang ternyata adik kelasnya. “mwo? Apa aku diterima, sunbae???” teriak yuri yang butuh kejelasan. Namja itu tetap pergi membiarkan yuri diliputi rasa bingung.

“yuri-ah!!” panggil seorang yoeja yang berlari ke arah yuri. “hh..hh.h..yuri-ah, apa aku terlambat mencegahmu melakukan hal bodoh? Hhah..hh” ia menepuk pundak yuri diiringi dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Yuri hanya diam mematung memandangi namja idamannya pergi tanpa sepatah katapun. ‘cara pertama memang selalu gagal, ya sudah

kuduga’ pikirnya dengan pasti, tangan ia kepalkan sebagai tanda ia takkan menyerah untuk menyatakan cinta pada namja berwajah tampan itu. “kajja minhae kita makan, penolakan ini membuatku kelaparan!” yuri menanggapinya dengan polos. Biasanya kalau seseorang cintanya ditolak, minimal ia pasti akan menangis, tapi beda halnya dengan yuri, ia menanggapinya dengan santai seperti tak pernah terjadi apa-apa.

“yuri-ah..apa jun  hyung-sunbae itu seorang psikopat?” “mwo? Kau yang psikopat” DUK dengan sengaja yuri memukul kepala chingu-nya dengan sendok. “aish! Aku kan hanya bertanya” minhae meringis kesakitan, dengan sedikit tertawa meledek yuri mengelus-elus kepala minhae. “mian, minhae…hihi”.

Kim Yuri prov

Haha..jun hyung-sunbae seorang psikopat? Pada awalnya aku juga merasa begitu, tapi setelah aku menjadi penggemar rahasianya selama 2 tahun ini..aku rasa dia bukan namja yang seperti itu. Aku ingat pertama kali melihatnya, waktu itu aku terlambat pulang sekolah karena ada buku yang harus kucari dulu di perpustakaan. saat ku sedang menapaki lorong-lorong perpustakaan dan kudapatkan buku yang kucari, tiba-tiba seorang namja sudah berada di belakang ku. “tali sepatu” ada yang berbisik. Aku kaget dan langsung membalikkan badan. Mataku berpapasan dengan matanya yang kosong. Glek. Aku menelan ludah. “ikat tali sepatumu..” ia menunjuk ke arah sepatuku yang memang talinya terlepas. “n..ne, sunbae” aku mengangguk dengan suara yang terbata-bata dan  langsung mengikat kedua tali sepatuku. “gamsaham….” Baru saja aku mau mengucapkan terima kasih, ia sudah tidak ada. Aku mencarinya tapi tak kutemukan. Sedikit menyeramkan.

Hari berikutnya, saat ku sedang berjalan untuk pulang ke rumah, kulihat dia sedang berdiri di tepi jembatan yang akan ku sebrangi. Aku baru sadar kalu ternyata kami tinggal di daerah yang sama. Tadinya aku ingin menyapanya,  tapi aku terlalu takut. Baiklah, aku putuskan untuk tidak menyapa. Dan saat aku berjalan melewatinya, tak sengaja mata kami kembali bertemu. Tapi kali ini rasanya berbeda, aku tidak merasa takut, justru aku merasa ada sesuatu yang berbeda saat itu dalam dirinya. Aku seperti terhipnotis sampai tak bisa kulepaskan pandanganku darinya. Dan akibatnya, aku jatuh tersandung kakiku sendiri-__- babo! Dia menjulurkan tangannya dan membantuku untuk bangun, dan saat aku ingin berterima kasih, dia pergi meninggalkanku dengan rasa penasaran yang begitu besar. Sejak saat itulah, aku menyukai jun hyung yang misterius.

——————————————————————————————————–

Meskipun yuri belum menerima kejelasan dari  jun hyung, tapi ia tak patah semangat. Ia bertekad akan terus memperjuangkan cintanya. Ia sudah terlanjur jatuh cinta pada jun hyung, apapun akan ia lakukan agar jun hyung bisa menjadi namjachingu-nya. Berbagai usaha tlah ia lakukan, mulai dari mengirimi jun hyun surat cinta rahasia, makanan kesukaan jun hyun yang tak lupa ia sisipi surat yang berisikan “jadikan aku yoejachingu-mu, oppa <3”, sampai ia menyatakan kembali cintanya secara langsung berulang-ulang. Tapi tetap saja, hasilnya nihil. Jun hyung tetap bersikap dingin dan membiarkan pernyataan cinta yuri menggantung, tanpa ada jawaban “ya” atau “tidak”.

Kabar yuri yang terus mengejar-ngejar jun hyung pun tiba-tiba beredar luas. Entah siapa yang bilang, tapi sekarang seisi sekolah sudah tahu kalau ada adik kelas yang terus mengejar cinta sunbaenya. Hingga akhirnya suatu hari..

“kajja, yuri-ah..aku sudahh lapar..” “ne..ne..” bel tanda istirahat telah berbunyi, seperti biasanya kantin dipenuhi para siswa yang kelaparan. “huft~ rencanaku kemarin gagal minhae-ah..” keluh yuri sambil melahap makan siangnya. “wae? Sudah kuduga itu rencana terburuk seantero jagad!” ejek minhae. “harusnya yang menerima surat itu jun hyung, kenapa malah namja lain! Hoaaa..gawat!!!”.

Kecemasan yuri ternyata menjadi kenyataan hari itu, seorang namja yang tak sengaja menemukan surat yuri untuk jun hyung membacakan surat cinta itu dihadapan semua orang yang ada di kantin. “hey!! Coba lihat apa yang kutemukan!! ‘aku takkan menyerah, sunbae…sampai kapankun akan kuperjuangkan cintaku. Jadilah namjachingu-ku jun hyung-sunbae……muamuamuah..hahaha’ teriaknya lantang dengan dibubuhi sedikit ejekan. Serentak seisi kantin pun mentertawakan yuri yang menghentakkan kepalanya ke  meja. “tuhan….” Yuri hanya merintih, ia mencoba menahan air matanya agar tak jatuh. Betapa malunya yuri hari itu, ia tak bisa lagi menahan tangisnya untuk keluar. Seceria apapun ia, sesemangat apapun ia, jika ia sudah depermalukan seperti ini pada akhirnya ia akan tumbang juga. Yuri hanya bisa terdiam dalam tangisnya menerima segala ejekan dan cacian dari teman-temannya.

***

Keadaan menjadi semakin menyakitkan, ketika namja menyebalkan itu terus meledek jun hyung yang sedang menikmati makanannya di pojok kantin. “owww jun hyung-oppa~~~ terimalah cintaku oww owww” namja itu mengejek dengan muka memelas dan mengibas-ngibaskan surat yuri.

BRAK

Jun hyung menggebrak meja, ia mendorong namja itu dan langsung menghampiri yuri,ia genggam erat tangannya seraya berkata dengan lantang “aku tidak pernah menolaknya, aku tlah menjadi namjachingu-nya semenjak pertama kali ia menyatakan perasaannya!” mata yuri melotot seketika karena kaget mendengar perkataan jun hyung. Ia tak sempat berkata apa-apa karena jun hyung langsung menariknya pergi dari kerumunan orang yang sekarang malah meneriaki mereka berdua. “wuuuu….lihat akhirnya anak itu diterima hahahaha” “baru kali ini aku melihat jun berkata seromantis itu haha!!” teriak seorang yoeja yang rupanya dia iri  -___-.

Jun hyung membawa yuri ke sebuah kelas kosong, ia mulai mengusap pipi yuri yang dibanjiri air mata. Terlihat sekali raut wajah shock di wajah yuri, ia tak percaya dengan apa yang sedang ia alami sekarang ini. Yuri menghentikan tangan jun hyung yang sedari tadi mengusap pipinya, ditatapnya wajah namja yang begitu ia cintai. “oppa…aku tidak butuh kebohongan. Kau tidak usah mempermalukan dirimu sendiri seperti ini” yuri melepaskan tangan jun hyung dan segera meninggalkan jun hyung yang belum sempat berkata apa-apa.

Segera ia raih tangan yuri yang tak bisa lolos dengan semudah itu. “bukankah kau milikku? Kau yang memintaku untuk menjadi namjachingu-mu, arra?”  perkataan jun hyung benar-benar membuat mata yuri terbelalak, sungguh namja ini membuatnya semakin kebingungan. “ta..tapi.. a..aku.. tidak mengerti, oppa. Bahkan kau tak pernah berkata apa-apa jika aku menyatakan perasaanku….” Belum sempat yuri melanjutkan perkataannya, jun hung langsung mendekap tubuh yuri dengan tangan kanannya. “kalau begitu jadilah yoejachingu-ku!” yuri hanya terdiam dalam dekapan jun hyung.

“o..oppa?” tanyanya lirih. “aku anggap itu iya”.

‘tak pernah kusangka, dibalik dinginnya sikapmu aku bisa merasakan betapa hangatnya pelukanmu. Inikah jun hyung yang sebenarnya’ yuri  membatin. Ia seakan tak mau melepaskan pelukan jun hyung.

***

“apakah ini mimpi, oppa?” sebuah pertanyaan tanpa jawaban  yang ia ajukan pada namja yang sekarang menjadi miliknya itu, digandengnya erat tangan jun hyung menyusuri jalanan yang mulai gelap karena waktu sudah menunjukan pukul 5 lebih. Ini adalah moment yang sangat ia impikan, pulang sekolah bersama dengan namja yang selama ini selalu ada dalam mimpinya. Jun hyung yang dingin tetaplah jun hyun yang dingin, ia sedikit bicara dan jarang senyum, tapi yuri tetap mencintainya dengan tulus karena ia yakin inilah cara jun hyung mencintai.

“oppa, maukah kau pergi ke taman bersamaku besok?” pinta yuri dengan senyuman manis yang menyembul di wajah cantiknya.”ne” jawab jun hyung dengan mata terus memandangi jalan. Yuri hanya tersenyum menanggapi sikap namjachingu-nya ini.

Tibalah saat yang dinantikan yuri, kencan bersama jun  hyung ! Betapa senangnya ia hari ini, ia bisa menghabiskan waktu seharian dengan jun hyung. Ia melihat arlojinya, rupanya ia datang 15 menit lebih awal. Tak lama kenudian terlihat di ujung jalan sesosok pria dengan jaket hitam melambaikan tangannya. ‘itu jun hyung’ hati yuri mulai dag dig dug. “apa aku terlambat?” “ani, oppa. Kau tepat waktu” acungan jempol yuri berikan ditambah senyuman manisnya. Tergurat sedikit senyuman lega di wajah jun hyung, ia merasakan ketenangan jika melihat yuri tersenyum.

Seharian mereka habiskan waktu berdua, pergi ke bioskop, jalan-jalan ke taman hiburan, yuri sangat bahagia dengan apa  yang ia alami sekarang ini. Namun ada sesuatu  yang mengganjal dalam hatinya, sebuah pertanyaan yang ingin ia tanyakan semenjak jun hyung menjadi miliknya. Ia memberanikan diri untuk menanyakannya sebelum terlambat. Mereka duduk di kursi taman, yuri memberikan sepotong es krim yang baru saja ia beli pada jun hyung. Sesaat yuri memperhatikan jun hyung yang sedang menggigit ujung es krimnya, “apa aku jelek?” tanya jun hyung tanpa memalingkan pandangannya pada yuri. “mwo?” wajah yuri langsung memerah karena malu, ternyata jun hyung menyadari apa yang sedang yuri lakukan. Yuri menundukkan kepalanya dan langsung melahap es krimnya.

Tak banyak obrolan yang keluar, sebagian besar waktu dihabiskan dengan diam. “oppa..” ucapan yuri memecah kesunyian. “ne, yuri-ah..” jawab jun hyung singkat. “emmm..apa oppa menjadi namjachingu-ku karena kasihan?” tanyanya pelan dengan sedikit keraguan, ia tak berani mengangkat kepalanya yang tertunduk. Sesaat jun hyung hanya diam. Ia beranjak dari kursi dan balik bertanya “apa kau mencintaiku karena kasihan?” singkatnya, jun hyung berlalu meninggalkan yuri.

 

Jun hyung prov

Mungkin terlihat jahat bagi orang lain melihatku memperlakukan yuri sedingin ini. Memang pada awal ia menyatakan perasaannya padaku, aku menganggapnya sebagai lelucon. Aku tak percaya jika ada yoeja yang benar-benar mencintaiku, tapi kulihat usaha yang begitu keras ia lakukan, aku mulai merasakan seuatu yang aneh. Hatiku yang tadinya ku kunci rapat, tiba-tiba dapat ia buka dengan mudah. Perlahan-lahan aku bisa merasakan hangatnya kasih sayang yang dengan tulus ia berikan padaku. Sungguh bodoh jika ia menanyakan pertanyaan itu padaku, karena aku tak mungkin menginginkannya menjadi yoejachingu-ku jika aku tak mencintainya. Aku dapat merasakan besarnya rasa cinta itu saat aku memberanikan diri mendekap tubuhnya. Hangat. Kuharap ia mengerti, bahwa beginilah caraku mencintai seseorang.

——————————————————————————————————

Pertanyaan yang jun hyung berikan tadi sore terus terbayang dalam benak yuri. Sampai-sampai yuri tak bisa berfikir untuk mengerjakan tugas yang harus ia kumpulkan besok. “haaisshh!!! Aku pusing, aku mau tidur saja!” ia tutup wajahnya dengan bantal besar dan mulai memasuki alam mimpi.

Pagi yang mengejutkan bagi yuri. Ia tak pernah menyangka jun hyung tlah berdiri di depan halaman rumahnya. “yuri..cepatlah pergi.. jun hyung sudah menunggumu dari tadi!” panggil oema yang memudarkan rasa herannya. “ne oema, aku segera turun”

“setega itukah kau membiarkan namjachingumu menunggu lama?” kali ini jun hyung berbicara sambil menatap mata yuri, tapi tetap dengan wajah yang sama, wajah yang dingin. Sesuatu yang aneh dan membingungkan bagi yuri. Jun hyung mengangkat dagu yuri, menutup mulutnya yang dari tadi terbuka. “kajja yuri-ah, bengong bukanlah hobimu kan?” jun hyung menarik tangan yuri menyadarkan yuri dari kebingungannya. “ne” hanya kata itu yang mampu yuri ucapkan.

Menyadari tangannya digandeng jun hyung, yuri tersenyum begitu bahagia. Ia menyadari bahwa inilah arti dari pertanyaan jun hyung waktu itu. Yuri mungkin tidak berhasil mengubah sifat jun hyung menjadi seseorang yang lebih ceria, Ia mungkin tidak bisa membuat jun hyung memancarkan senyumnya hanya untuk ia seorang, keinginan untuk mengetahui seberapa tulus atau seberapa besar cinta jun hyung untuknya tak lagi ia pedulikan..karena hanya dari tindakannya sajalah yuri bisa melihat seberapa besar cinta jun hyung untuk dirinya. Jun hyung tidak mengasihani yuri, namun ia mengasihi yuri.

Dikecupnya pipi jun hyung sebagai ungkapan terima kasih atas cinta yang tlah ia berikan. Jun hyung terdiam sesaat. Semakin erat ia memegang tangan yuri dan semakin besar pula lah rasa cintanya pada yoeja bernama yuri itu.

***

Iklan

Satu pemikiran pada “This is what I call “love”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s