LIFE IS VALUEABLE


FanFiction by:  Via ( @vibsaff )

 

Cast                             : Sang He (OC/You)

Jinyoung (B1A4)

Gongchan (B1A4)

Sang He’s Eomma, Appa

Language                    :Bahasa

Ratting                                    : 13+ (T)

Length                         :One shoot (novlet)

Genre                          : Romance, Drama, Fiction.

********************************************

Gelap gulita
Menangis
Menunggu
Berbisik dalam hati dingin ini
Dan berkata..

Aku menunggu janji-Mu Dewa..

Cahaya menusuk mata terlihat dari ufuk timur
Sesuatu perkataan terdengar
“Apa kau yakin dan sanggup. Menjalani kehidupanmu sebagai sepasang kekasih dan tulus mencintai?”
Perkataan adalah Janji
Ya! Yakin dan Sanggup. Sebagai sepasang kekasih yang tulus mencintai.

Mulut tak terkunci
“Walaupun nyawa merenggutmu yang kedua kali?”
“ya ! walaupun itu yang ke sepuluh kalipun.

Cahaya menumpul dan hilang dari ufuk barat

Tak mengerti apa yang terjadi
Tertegun, dan…
“Apakau sadar? Please, open your eyes DEAR !”
“Iya, aku sudah sadar.. Please, Don’t go.. don’t leave me alone DEAR. Sorry for yesterday...”

(Via)

Sang He POV

Terasa atmosfer pagi masuk kedalam paru paruku ini. Terdengar kicauan burung pagi yang merdu. Terlihat hewan hewan mencari makan. Tak ku sangka, Tuhan masih memberikanku hidup untuk hari ini, juga memberiku keluarga yang manis seperti ini, aku sangat beruntung. Hatiku makin tak sabar untuk melihat hasil kelulusan tahun ini, aku sangat senang aku berharap. Aku bisa lulus dengan nilai terbaik.. ya, aku harap.

“Sang He.. ayo, berangkat! Sekolahmu dan kantor Eomma dan Appa -kan sama! Cepat, sudah telat loh.” teriakan Eomma terdengar sampai ke atas, tempat kamarku.

“Ah, nee Eomma ! Aku akan segera turun!”
Jawabku yang tergesa-gesa.  Aku segera turun kebawah, dan memasuki mobil. Ternyata Eomma dan Appa sudah menunggu, hatiku makin tak enak.

 

Mian Eomma, appa, aku agak telat sebentar.” Kataku segan.

Hmm.. Ne.. Gwaenchana, lain kali jangan telat lagi ya, bukannya sekarang hari pembagian nilai kelulusan? Kau harus semangat dan optimis Sang He! Appa yakin kau akan lulus!”
Kata Appa menyemangatiku, aku sangat bangga sekaligus senang memiliki Appa seperti nya.

“Sang He, Eomma juga  yakin kau akan lulus, hwaiting !”
Lanjut Eomma. Senangnya, ini adalah keindahan keluarga yang tidak bisa dibeli, aku sangat bersyukur.

Beberapa menit setelah itu, sampailah aku disekolah, sekolah yang sudah kudatangi mungkin lebih dari 500 kali ini, tetap menjadi sekolah kesayanganku, sekolah dimana siswa siswinya selalu tersenyum ramah, guru-guru yang tak kenal letih mengajar, demi murid-muridnya, gedung yang terawat sampai saat ini, dan.. yang terpenting adalah.. sahabatku.

“Hai Sang He !”
Teriak suara kejauhan memanggilku. Kulihat sekeliling, dan bertanya, siapa yang memanggilku tadi?

“Ternyata kau Jinyoung.. aku sangat kaget, apakau tidak sabar ingin melihat nilai kelulusan tahun ini?” Tanyaku.

Hmph! tentu! kita pasti  bisa lulus! Hwaiting !!”
Kata Jinyoung sambil menyemangatiku. senyumannya menandakan semangatnya yang tak henti, matanya yang memancarkan keyakinan itu, membuatku makin optimis menghadapi hasil ini.

Terdengar suara berisik di ruang tengah lantai dasar bagian sekolahku, ada apa itu? Apa..  Pengumuman kelulusan? Aku terus bertanya Tanya dalam hati, menandakan ada sesuatu yang sangat mengejutkan.

Huh, Sang He !! Ayo cepat kita kebawah! disana sudah diumumkan nilai kelulusan!” Teriak Jinyoung yang diiringi sesak nafas. Tak ku sangka, dia berlari dan menuju tempat dudukku.

Wah ! Ayo Jinyoung ! Tapi.. pasti disana akan ramai sekali. Mungkin, setelah pulang sekolah saja ya. Aku kurang suka tempat pengap seperti itu.” Sautku dengan muka lemas.

“Sang He, saat saat seperti ini adalah saat dimana meledaknya amarah kita! setelah ,ujian berakhir yang terus membayangi ingatanku! Ayolah.. ini hanya sebentar saja.”
Kata Jinyoung merayuku, senyumannya matanya terlihat ingin memohon tapi, aku sangat tidak suka tempat pengap itu.

Hahh.. kamu ini…”

GREP !

Jinyoung langsung memotong pembicaraan dengan memegang tanganku, dan langsung menariknya  ini terasa sedikit memaksa tapi, tidak terasa sakit. Justru sebaliknya, terasa lembut.

“Sudahlah, aku sudah tidak sabar untuk melihat nilai kelulusan !”
Kata Jinyoung, yang sepertinya agak kesal.

Huh, baiklah.”
Kataku mengalah. Kami berjalan menyusuri lorong kelas.  Jinyoung terus berjalan sambil memegang tanganku, terasa sekali, tangannya sangat besar, memegang penuh seluruh tanganku.
Akhirnya, sampai juga di mading sekolah. seperti dugaanku, ini akan menjadi tempat yang ramai, dipenuhi dengan nafas dan keringat orang orang.

“Sang He! Ayo lihat! Dimana namamu yaa.. apa kita akan lulus bersamaa??” Saut Jinyoung dengan nada panjang.

Hmm.. yaa, aku akan lihat..” sejenak aku terdiam, kucari dengan teliti, dimana namaku berada. Aku sangat penasaran, semoga, aku akan lulus dengan nilai yang memuaskan.

Aahh !! Ini dia namakuu! Aku lulus !!! Apa kau juga Jinyoung? ”  Dengan spontan, aku berteriak saking gembiranya. Aku sangat bersyukur.

“Tentuu !!! akhirnya kita lulus bersama!”

Ucap Jinyoung dengan senang, dengan reflex ia memelukku erat. Pelukan itu, seperti pelukan persahabatan, pelukan yang kubalas dengan lembut.  Ini adalah kelulusan yang sangat menyenangkan, perasaanku tidak bisa digambarkan. Sedih, senang, terharu, bangga, semuanya tercampur menjadi satu. Aku tidak bisa mengekspresikannya dengan maksimal. Karena.. ini adalah takdir yang tidak mungkin ku tolak, semua ini karena kerja keras.

Setelah itu, aku dan Jinyoung segera bergegas dan pulang kerumah. Seperti biasa, aku pulang bersama dengan Jinyoung. Walau teman-temanku menyebut kami “best couple” padahal, Jinyoung hanyalah sebagai temanku. Saat kita sedang berjalan menuju pulang, Jinyoung mengajakku ke suatu tempat.

Hmm, Sang He!” Tiba tiba Jinyoung membuka pembicaraan.

Ne, ada apa?” Jawabku. Ku lihat wajahnya yang malu, terlihat sangat lucu.

“Aku mempunyai usul, karena kita sudah lulus, dan mendapatkan nilai yang memuaskan, bagaimana kalau kita mengadakan pesta perayaan untuk kita berdua ? Tidak terlalu mewah, hanya sekedar makan makan? Bagaimana?” Ajak Jinyoung. Ia sangat bersemangat, aku seperti tidak bisa menolaknya.

Hmm… sepertinya itu bagus juga, aku setuju ! ayo, kau ingin merayakannya dimana?” Jawabku membalas.

Jinyoung memang pintar, setelah ujian yang menegangkan ini, lebih baik menghilangkan penat dengan acara makan-makan. Tidak usah terlalu mewah, yang paling penting adalah, kebersamaan dan cinta yang terjalin sesama sahabat.

“Menurutku, bagaimana di Restoran Kimchi. Kudengar disana makanannya enak, harganya pun juga tidak terlalu mahal.” Usul Jinyoung.

“Wah, sepertinya menarik, dimana itu?”
Spontan aku senang dengan usulnya, aku memang ingin melakukan acara ini dengan Jinyoung.

“Di jalan yoon no. 2, tapi.. sepertinya disana akan sangat ramai, dan penuh sesak. Apa kita ganti restoran saja? Tapi, aku tidak tahu restoran murah dimana lagi, uangku sudah menipis, tapi tidak masalah kalau kamu ingin makan makanan mahal.” Jelas Jinyoung panjang lebar. Aku tidak ingin membebaninya.

“Ah.. tidak apa. Aku setuju jika kau mau, aku akan datang disana. Bagaimana kalau Jam 8 malam ?” Tanyaku bersemangat.

Hmm.. baiklah, aku tunggu di Restoran Kimchi, jangan sampai telat ya, aku sangat menantikan kedatanganmu.” Ucap Jinyoung dengan raut muka yang tampak sangat memohon.

“Baiklah, aku tidak akan telat.” Kataku dengan senyuman manis. Yang mungkin akan membuat dia percaya dan akan memegang janjiku ini.

Setelah percakapan singkat itu, aku dan jinyoung berpisah di pertigaan. Karena rumahku berbeda jalur dengan rumahnya, ini memang sudah seperti kebiasaan rutin. Aku senang dan sangat bangga memiliki temakn seperti dia, dia seperti kakak bagiku, walaupun.. terkadang seperti pacar. Tapi, dia adalah teman. Sekali teman, tetaplah teman. Ya, Jinyoung.. teman baikku.

Beberapa menit kemudian, sampailah aku dirumah, dengan muka yang senang.  Aku langsung berlari menghampiri Eomma dan Appa, yang kebetulan sedang tidak bekerja.

Eomma !! Appaa !!! Aku lulus !!!” Teriakku dari jauh menghampirii mereka yang sedang berada di ruang tamu.

“Benarkah Sang He ?? Wahh.. chukkhae!!” teriak eomma dengan nada senang. Aku bangga mendengarnya.

Chukkae Sang He !! Appa dan Eomma sangat bangga padamu !!” kata appa melihatku bangga.

Aku sangat senang melihat orang tuaku bangga dan senang karenaku. Tanpa sadar, Eomma dan Appa memelukku dengan erat. Terlihat Eomma menangis bahagia, ini adalah tetesan air mata kebanggaan. Aku bisa merasakan, betapa senangnya mereka.. tekat dan semangatku semakin kuat. Bahwa, belajar dan berprestasi adalah kunci membalas budi untuk orang tua. Aku senang jika sudah bisa membanggakan mereka, walaupun ini masih sangat kecil, untuk bisa membalas budi mereka.

Saat suasana kembali normal, kami seperti biasa berbincang-bincang ringan.

“Sang He, kau sudah ada universitas yang ingin kau tuju? Masih ada waktu 3 bulan untuk memikirkannya, sampai waktu ujian masuk.” Tanya Eomma padaku.

Hmm… mungkin aku memilih universitas Seoul, sama dengan Jinyoung, berkas-berkas nya juga sedang diatur oleh sekolah.” Jawabku, aku memang sangat ingin satu universitas lagi dengannya.

Beginilah keseharianku, orang tua ku memang selalu telat jika membicarakan tentangku. Karena mereka sangat sibuk bekerja. Alhasil, aku menjadi kurang mendapatkan perhatian darinya, walaupun kita satu atap. Tapi, rasanya seperti tinggal di daerah yang jauh dari kasih sayang orang tua.  Walaupun begitu aku masih bisa merasakan kasih sayang mereka, seperti pada waktu ini.

Wah, bagus jika begitu, Jinyoung juga masuk ke universitas yang sama denganmu? Berarti Jinyoung harus bisa menjagamu nanti ya, haha.” Saut appa dengan nada bercanda.

“Haha, Appa ! kau bisa saja, kita memang selalu bersama. Tapi, Jinyoung hanyalah temanku, tidak lebih.” jawabku dengan muka yang mulai memerah, aku tidak tahu mengapa mukaku bisa memerah secara tiba-tiba.

“Tapi.. kalau bisa dilanjutkan kenapa tidak??” Rayu eomma. Mataku membulat ketika mendengar perkataan Eomma.

“Ahaha, bisa saja. Oiya, ngomong-ngomong, nanti malam aku akan pergi merayakan kelulusan, di restoran kimchi. sekitar jam 7 aku harus berangkat.” Ucapku mengganti topic pembicaraan. Aku tidak mau memperlihatkan wajah merah ini.

Wah, kalau begitu kau harus bersiap, ini sudah mau jam 5. Tapi, sama siapa kau akan merayakan kelulusan itu?” Tanya Appa penasaran.

Hmm…. Samaa… siapa yaa..” Kataku dengan nada bercanda. Kelakuanku menjadi kacau ketika mendengar ini.

“Sang He.. jawabb.” Tambah Eomma penasaran.

“Dengaann…  Jinyoung ahaha..”  Akupun langsung pergi meninggalkan ruang tamu, dan berteriak.

Segera aku naik tangga menuju kamar dengan raut muka yang masih menahan tawa. Memangnya, kenapa jika aku dengan Jinyoung? Kita hanya teman, tidak lebih. Kenapa semuanya ingin aku jadian dengan Jinyoung?

Sang He POV end

Author POV

Setelah Sang He pergi meninggalkan ruang tamu. Terjadi perbincangan kecil diantara Appa dan Eomma Sang He.

Appa, kau tahu apa?”  Tanya eomma, tatapan matanya seperti menyimpan banyak rahasia.

Wae?” Tak kalah, Appa yang penasaran.

“Akankah anak kita akan tumbuh benih-benih cinta?” Tanya eomma dengan senyuman.

“Haha, mungkin saja anak itu akan menjalin cinta dengan orang yang benar benar-dipilihnya.” jawab appa bangga.

“Ya, eomma juga yakin. Anak itu.. pasti akan segera menemukan separuh cintanya.”

Mereka hanya tertawa kecil membincangkan hal itu. Dan, hanya bisa menunggu kepastian yang sebenarnya.

Author POV end

Sang He POV

Sekitar 1 jam aku bersiap untuk pergi keacara pesta kecil-kecilan ini. Aku harap dinner ini bisa jadi acara yang berkesan. Dan,  tak akan aku lupakan seumur hidup.

“Sang He! ayo, Eomma dan Appa akan mengantarmu. Apa kau sudah selesai?” Teriak Eomma dari bawah.

Ne, tunggu sebentar !!” Sautku cepat.

Beberapa menit kemudian, aku segera turun. eomma dan appa sudah menunggu didalam mobil.

Mianhae Eomma, Appa, aku agak lama sebentar.” Kataku sambil menyisir rambutku yang sedikit kusut.

Gwaenchana, sudah cantik kok… Jinyoung pasti langsung meleleh melihatmu.” Kata appa merayu.

Ah, Ani.” Segera ku masukkan sisir itu dalam tas, karena wajahku menjadi memerah seketika.

Di perjalanan, aku hanya bisa duduk manis. Dan, pastinya tidak sabar untuk datang dan bertemu Jinyoung di restoran itu. Tapi, sepertinya takdir berkata lain, ditengah perjalanan terjadi kemacetan yang sangat padat. Sampai sampai mobil tidak bisa bergerak.

“Yaampun… Eottokhee??” Teriakku kebingungan.

“Sang He, sepertinya kau tidak bisa tepat waktu menghadiri acara itu.” Ucap eomma khawatir.

“Yaampun, bagaimana ini??” ucapku kebingungan, ini sudah sangat darurat. Jam 8 tinggal 15 menit lagi, bagaimana ini? Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Sejenak, aku teringat ucapan Jinyoung, bahwa disekitar jalan menuju restoran Kimchi akan sangat ramai. Dan, kata-kata yang paling ku ingat.. aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan telat melebihi jam 8! Tuhaan! bantulah aku!

Sejenak aku berfikir, dan…  aku ada ide yang bagus! Mungkin ini sedikit gila.

Eomma, Appa, aku turun disini, dan aku akan jalan menuju restoran itu! restoran itu tidak jauh, hanya melalui perempatan yang macet ini !” Kataku dengan tergesa gesa. Aku harus meyakinkan mereka.

“Apa kau sanggup? Ini sangat macet, mobil tidak bisa bergerak !” Ucap Eomma melarangku.

Gwaenchana Eomma, aku akan hati-hati, percayalah !” Ucapku meyakinkan Eomma.

“Kalau kau bisa, tidak apa, segeralah! Kasihan Jinyoung. Pasti dia sedang menunggu sendirian di restoran itu !” Saut Appa menandakan adanya izin untukku.

“Yasudah, hati hati  Sang He !!” Teriak eomma, mukanya menandakan kekhawatiran yang mendalam. Tapi, bagaimana lagi, aku sudah janji dengan Jinyoung. Dan, janji ini tidak bisa aku batalkan, aku sudah banyak merepotkannya. Aku tidak mau menambah beban untuknya.

Segera aku keluar dari mobil. Sejenak aku melihat sekeliling. Ini memang sudah sangat kacau. Kenapa kota yang sudah kutempati sejak ku lahir ini bisa semacet ini. Tidak fikir panjang, aku segera berlari, menapaki trotoar tua ini. Seringkali, hatiku tidak tenang mengingat ucapan Jinyoung dan janji ku saat itu.

Sepertinya aku memang orang yang tidak peka dengan sekeliling. Jalanan ini sudah penuh sesak dengan gerumunan orang dan lalu lalang mobil yang seakan akan ingin menabrak sekelilingnya. Aku sudah seperti berada di neraka dunia, berjalan di tengah jalan yang sedang macet parah bukan jalan keluar yang benar. Rasanya aku ingin bisa terbang kesana kemari seperti malaikat. Ya, mungkin aku bisa saat aku sudah meninggal. Semua yang tidak ku ketahui, akan ku ketahui dengan mudah.

Ini sangat tidak karuan, aku yakin, Jinyoung sedang menunggu di restoran itu. Aku harus segera cepat. Tapi, banyak debu dimana-mana. Astaga, mataku! Tidak sengaja debu memasuki mataku!! Penglihatanku semakin kacau. Ditambah bau kendaraan bermotor disekeliling, bunyi klakson kendaraan yang berisik, dan silaunya lampu kendaraan yang sangat membuat seluruh indra ku berantakan. Aku berjalan dengan sangat kacau, seperti seorang yang habis mabuk. Aku sudah tidak bisa mengendalikan tubuh ini. Seperti, boneka yang sedang dikendalikan.

TIINNN !!!! TIINNN !!!!!!!

Suara apa itu? Silau sekali! Tanyaku lirih dalam hati. Kucoba untuk membuka mata ini dengan perlahan. Apa itu??

TIINN !!! TIINN !!!

ASTAGA ! Ada mobil yang menuju tepat kearah ku ! Apa ini sudah saatnya aku bisa terbang melayang dilangit? Meninggalkan janjiku dengan Jinyoung yang akan datang tepat waktu?  dan janjiku dengan Eomma dan Appa yang akan pulang dengan selamat? Ya Tuhaan.. mungkin ini sudah takdirku, maaf.. untuk semua yang telah menungguku..

BRUUUUGHH!!!!!

Dan sekarang, aku hanya bisa bilang..

MAAF….

Jinyoung POV

Kududuk di salah satu tempat di Restoran Kimchi ini. Aku menunggu sendirian, dimalam yang dingin dan licin ini, terjadi kemacetan yang luar biasa sangat parah. Aku hanya bisa menunggu Sang He sambil menyantap makanan pembuka dari restoran ini. Sudah kutunggu hampir 2 jam lamanya, mataku tidak bisa berhenti melirik kesana kemari. Melihat, apakah Sang He sudah berada di sekitar sini.

Kuharap, tidak terjadi apa apa dengan Sang He, sekejap perasaanku menjadi tidak tanang. Pikiranku tidak henti-hentinya memikirkan Sang He. Padahal, hari ini sudah sangat kunantikan untuk menyatakan perasaanku padanya.  Andaikan Ia tau, aku sudah cukup lama menanti untuk hal ini. Sekarang, aku hanya bisa berharap saja. Tiba tiba jantungku makin tidak tenang, tanganku bergemetar.

Sudahlah Jinyoung.. tidak ada apa apa dengan Sang He, tenanglah.. karena, mala mini akan menjadi malam terindah untuk selamanya. Hari dimana, aku mengetahui jawabannya.

“Permisi Tuan, ini Ocha pesanan Tuan,”
Tiba-tiba pelayan menghampiriku dan memberikan secangkir Ocha.

Ah, ne Gamsahamnida.” Jawabku pelan, tanganku segera mengambil teh yang sedang dipegangnya..

DEGGG…

Jantungku tiba-tiba berdegup kencang, ada apa yang terjadi? Tanganku menjadi kaku, mataku mulai berkunang, pikiranku menjadi kacau memikirkan Sang He, apa yang terjadi?

KROMPYAANGGGG !!!!

“Astaga, mianhae tuan.”
Saut pelayan itu dengan raut wajah yang cemas. Terlihat orang orang disejitar serentak melihatku heran, tapi aku tidak peduli. Abaikan saja mereka. Sekarang yang terpenting hanya Sang He.

Ah, gwaenchana, ini, aku bayar ganti rugi, dan makanan pembuka ini ya!” Jawabku dengan tergesa gesa.

Ne, terimakasih tuan..” jawab pelayan itu.

Tidak mengulur waktu penjang, segera aku berlari keluar dari restoran itu. sekejap orang orang melihatku heran. Tapi, aku tidak peduli. Karena.. sepertinya ada yang terjadi dengan Sang He saat ini. Aku yakin Sang He bukan tipe wanita yang ingkar janji.

Kuberlari dengan sekuat tenaga di pinggiran jalan ini. Sangat macet, berisik, ramai, kotor. Semuanya tercampur menjadi satu. Pikiranku menjadi runyam.  Kulihat sekeliling, dimana-mana terdapat mobil, motor yang berlalu-lalang. Tapi, aku melihat ada keanehan..

Terdapat sekerumunan orang, ada apa disana? Hatiku terus bertanya. Perasaan ku menjadi tidak tenang. Rasanya, darah ini sudah berhenti mengalir ke urat nadiku. Segera ku hampiri kerumunan itu. kakiku menjadi kaku, seakan akan. ini adalah bertanda buruk. Tanganku menjadi dingin, keringat mulai bercucuran.

Segera aku memasuki kerumunan penuh sesak itu dan bertanya..

“Permisi, ada apa in…”

SANG HE???????

Jinyoung POV end

Hidup..
Tak terbilang
Tak ter-tafsirkan
Tak terasa
Tak tergantikan

Rasakan..
Betapa cepatnya
Waktu berjalan
Andai waktu terulang
Kuingin dewa waktu,
mengabulkan permintaanku

Tapi, sepertinya..
Hanya Kiasan belaka
Sudah terasa,
Desu oksigen yang berbeda
membelai lembut
Tubuh tanpa Jiwa ini..

(via)

Sang He POV

Sepertinya, aku sedang berada di Surga sekarang. Aku sudah seperti melayang-layang dengan mudah di langit ini. Seperti tidak merasakan sakit sama sekali.  Terasa hangat atmosfer disini. Terdengar suara doa, tangisan, dan permohonan. Terasa indera ku sudah tidak bisa merasakan apa-apa. Tangan ini, hangat, seperti, ada yang memegangnya erat.

Mungkin.. memang aku sudah benar-benar mati sekarang.

“SANG HE! SANG HE!!” Terdegar suara teriakkan, dengan samar-samar, suara ini seperti ku kenal.

“Sang Hee, kumohon, bukalah matamu!” Suara ini semakin terdengar lebih dekat,  pendengaranku makin buruk. Terasa, tangannya memegang pipiku, memegang lembut mataku yang tidak mau terbuka ini.

“Sang He, maafkan aku! Aku sangat menyesal! Sekarang buka lah matamu!” Suara ini terus menerus memintaku untuk membuka mata. Walaupun aku tidak bisa berbicara sekarang. Tapi, di dalam hati ini, di bawah alam sadarku..  aku bilang,

Aku memaafkanmu, aku sepertinya sudah tenang di sini.. dan kau tidak perlu menangisiku lagi. Kuharap, kau bisa jalani aktivitas mu, tanpa kehadiranku kedepan. Jika Tuhan berkehendak lain, aku akan membuka mata ini, membuka mulut ini, menatap mu dan memberi tahumu. Pendengaranku, penglihatanku, dan suaraku. Tidak bisa dipergunakan dengan baik sekarang. Mungkin kita sudah berbeda dimensi.

Hanya satu hal yang ku ingin tahu dari suara ini, sebenarnya.. siapa ? Dan kenapa kau sangat menyesali kepergianku?

“Sang He! Ku mohon, bukalah matamu! Aku Jinyoung, kau ingat? JINYOUNG! JINYOUNG !” Terdengar samar suara ini, tapi.. apa katanya? JINYOUNG? dengan segera ku mengingat kejadian sebelumnya yang sangat sulit ku ingat.

Dan aku ingat sekarang, kau !? JINYOUNG! sahabatku..

Ku mencoba untuk bangkit. Terimakasih Tuhan, telah memberikan ku tetap hidup. Segera aku membuka mata dengan perlahan.

“Sang He! Sang He! Apa kau melihatku?” Terdengar suara Jinyoung panik.

Aku bisa merasakan betapa dekat suara nya. Tapi, sepertinya, aku sudah membuka mataku. tak ada apa-apa.

GELAP GULITA!

Aku terus memaksa mataku untuk melihat. Tak ada apa-apa! Tetap saja, semuanya GELAP GULITA!

“Sang He ! ini Appa Sang He! Apa kau lihat Appa? Kau ingat?” Suara appa. Terdegar samar. Tapi, tetap saja, aku tidak bisa melihat Appa, suaranya saja tidak terdengar jelas.

“Sang He! Ini Eommaa! Kau lihat? Eomma. Sang He!” Suara IEomma, seperti ingin menangis.

Terimakasih Tuhan, aku masih bisa mendengar suara mereka. Walaupun terdengar samar. Bahkan, nyaris tidak terdengar sama sekali.

Aku tidak bisa melihat mereka semua. Suaranya, tidak terdengar, suaranya semakin terdengar jauh, semakin jauh. “Dokterr! Dokteerr!” Teriak Jinyoung. Aku tidak bisa melihat ekspresinya, hitam.

“Jinyoung, Appa dan Eomma.” Tiba-tiba aku berbicara dengan nada pelan. “Sang He..” Terdengar suara Eomma mendekat.

Mianhae..” Jawabku. Tak ku sadari, tiba-tiba saja air mata ini menetes dari mata butaku. Membasahi pipi kering ini. Pelukan Eomma terasa sangat hangat, seperti biasanya.

Gwaenchana, putriku.. yang penting, kau sudah bisa hidup sampai sekarang.” Jawab Eomma dengan nada yang menahan tangis.

“Ya.. kami tidak marah padamu Sang He. Asalkan kau hidup, itu sudah cukup bagi Appa dan Eomma. Karena, kau adalah anak satu-satunya yang kami milikki, anak yang paling bisa mengendalikan rumah tangga ini. Eomma dan Appa sangat bangga padamu.” Jelas appa dengan nada samar. Appa, jangan membuatku menangis, aku tidak bisa menahannya lagi.

“Iya, kau sangat patut dibanggakan. Jangan sedih nak. Walaupun indramu akan hilang, kau tetap menjadi nomer satu di hati Eomma dan Appa. never give up.” Bisik Eomma samar ditelingaku ini.

Yaampun, aku tidak menyangka, aku memiliki keluarga yang sangat harmonis seperti ini. Terimakasih Tuhan, atas pemberianmu. Aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikan orang tua ku ini.

Berpelukan seperti keluarga yang akan berpisah untuk beberapa tahun, tapi.. itulah keluarga ku. Hangat dan menyenangkan, seperti matahari musim panas di kota Seoul. Tak dingin, dan juga tak menyengat. Air mata ini, terus menetes, seakan-akan ingin keluar dari kantung mataku. Walaupun aku sudah Buta, dan mungkin, aku akan TULI. Aku tidak akan menyerah. Karena, tidak semua orang sukses itu, sukses di penampilannya. Jangan tertipu pada cover luarnya. Tapi dalamnya, hatinya, perasaannya, karakternya, dan sifatnya.

Seperti kepiting, ia sangat jelek diluar, cangkangnya sangat keras, capitnya yang besar dan tajam. Tapi, dibalik cangkang yang keras itu, tersimpan daging yang lembut, empuk, dan juga enak, bahkan sangat mahal bila kita menemukannya di restoran.

itu berarti.. sangat sulit mendapatkan karakter, dasar diri yang Kuat  dan Lembut seperti KEPITING.

“Tenang Sang He. Dokter akan segera memeriksamu.” Kata Jinyoung berbicara disamping telingaku.

Ne.. “ Jawabku pelan dan tanpa ekspresi

Dokter akhirnya datang, dan segera  memeriksa keadaanku. Aku hanya terdiam, aku masih tidak percaya pada kaenyataan ini. Walaupun aku sudah berusaha untuk tidak menyerah dalam hidup ini. Tapi, aku masih bertanya kebingungan ini pada Tuhan.

Mengapa Engkau masih memberiku hidup? Aku sudah tidak memiliki sebagian inderaku, samangat hidupku, dan cita-citaku. Apa Engkau berbaik hati memberiku hidup? Jika aku sudah begini, kenapa Engkau masih memberiku hidup. Biarkanlah saja aku mati, aku akan ikhlas dan rela nyawa ini diambil, berilah ketabahan bagi mereka yang pedih karena kepergianku.

CEKLEKK..

Itu pasti pintu dokter yang keluar, terdengar samar, tapi aku yakin. Ia ingin menyampaikan keadaanku. Aku harus sabar dan tegar, menghadapi cobaan ini. Karena, aku yakin, kebahagiaan menantiku di ufuk barat sana.

Sang He POV End

Jinyoung POV

Sampai detik ini, aku tidak menyadarinya kalau akan menjadi seperti ini. Aku hanya bisa melihat pedih Sang He. Hatiku sangat terpukul, kesedihan Sang He adalah kesedihan ku juga, kesenangan Sang He adalah kesenanganku juga. Terasa  cintaku makin kuat untuknya, aku hanya bisa duduk terdiam di luar kamar rawat Sang He. Bersama kedua orang tuanya yang terus  menangis memikirkan Sang He.

Ahjussi, Ahjumma. Maafkan saya, saya yang salah selama ini.” Kataku sambil bersujud di kedua kaki mereka.

Eh, sudah.. tidak apa nak. Ini memang sudah jalan yang diberikan Tuhan untuk Sang He.” Jawab Ahjussi mengelus punggungku pelan.

“Iya, bangun ‘lah nak, tidak perlu terlalu merasa bersalah.. sekarang, kita hanya bisa mendoakannya supaya selamat, dan memberi semangat padanya.” Tambah Ahjumma sambil membantuku berdiri.

“Tapi, Sang He seperti ini salahkuuu!” Kataku keras, air mataku menetes perlahan. Seperti seorang kekasih, yang kehilangan cintanya. Ahjumma memelukku layaknya anak sendiri.  Ahjussi mengelus kepalaku lembut.

“Sudahlah Nak. Kita ikhlaskan.” Jawab Ahjumma pelan.

“Iya, sekarang kita hanya bisa melihat kenyataan, walaupun hati ini rasanya pedih. Seperti tergores pisau, tapi.. apapun yang terjadi, kita harus jalani dengan sepenuh hati tanpa penyesalan.” Jelas Ahjussi menasihatiku.

“Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang, kita pikirkan untuk masa depan yang lebih baik. Samudra hidup memang sangat keras menghempas kita, kita harus kuat.” Ahjumma menasihatiku lembut. Aku tahu mengapa Sang He mempunyai kehidupan Indah dan lembut seperti ini. Ternyata, Ia memang dibesarkan di lingkungan yang baik, ramah, dan harmonis.

Layaknya keluarga, aku malah menangis di pelukan mereka. Dan tak henti hentinya mengucapkan ‘maafkan aku.’ Aku makin salut, bahwa mereka membalasnya dengan  ‘Sudahlah nak, ini mungkin untuk kebaikan Sang He yang Tuhan kasih untuknya. Ini memang keluarga yang nyata. Sangat jarang aku mendapatkan kehangatan keluarga seperti ini.

CEKLEKK

Dokter keluar dari ruangan Sang He. Dan, aku sudah tidak sabar ingin mendengar laporannya.

“Dokter! bagaimana keadaan anak saya?” Ahjussi membuka pembicaraan dengan panik. Muka Dokter itu sudah memancarkan sesuatu. Seperti.. ada yang tidak beres pada Sang He.

“Maaf, saya hanya bisa mengatakan dari pemeriksaan tadi. Bahwa anak anda, Buta dan gendang telinganya rusak sehingga bisa menyebabkan ketuli-an. Kemungkinan besar, ia akan tuli. Jika ia Buta dan Tuli maka indera perabanya akan semakin berkembang,” Kata Dokter dengan cemas.

“Dan bagaimana selanjutnya?” Tanya Ahjumma memotong pembicaraan dokter.

“Tahap selanjutnya, kita masih bisa memasangkan alat pendengar. Karena kerusakan hanya di telinga bagian tengah. Sedangkan matanya, jika dari pihak keluarga tidak ada yang bersedia memberi kornea matanya, terpaksa kita ambil dari kornea mata orang yang sudah meninggal.”

“Lalu, tidak ada penyakit dan kesalahan apa lagi Dok pada anak saya?” Tanya Ahjussi panik pada Dokter itu.

Hmm, Untuk sementara tidak ada. Tapi, BISA SAJA, nanti Sang He terkena penyakit lain. Sang He harus dirawat dengan baik, jangan sampai telat makan atau terlalu capek.” Jawab dokter itu.

“DOK! Bagaimana kalau saya saja yang mendonorkan kornea untuk Sang He? Saya rela walau harus kehilangan jendela dunia ini.” Kataku pada Dokter. Aku rela jika ini untuk kebahagiaan Sang He.. ya, aku akan meng-relakan nya.

“Yaampun, jangan! Jangan kau lakukan itu, kau tidak salah. Ahjumma tidak ingin membuamu menderita, dan kau sudah terlalu banyak membantu, Jinyoung.” Teriak Ahjumma pada ku.

“Tapi, ini demi kebaikkan Sang He. Ini juga karenaku. Aku harus tanggung jawab.” Kataku tegas. “Gwaenchana,  tidak apa. Kita tunggu saja kornea orang lain, Kornea Mayat yang pantas berada di mata Sang He, nanti.” Bujuk Ahjussi padaku.

“T..tapi..” Kataku terbata-bata. “Sudah-sudah..” Kata Ahjumma sambil membantuku duduk.

Dingin dan Sunyi.. itulah suasanya yang didapatkan dari kejadian itu, tegang, sedih, marah, semua tercampur menjadi satu.

Tiba tiba Ahjumma jatuh Pingsan. Ahjussi segera membawanya menuju ruang rawat. Itu menandakan Ahjumma sangat terpukul. Aku tahu itu, aku hanya terdiam dan menatap pintu ruang inap Sang He dengan tatapan penuh harap. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Jika boleh, sebaiknya aku saja yang celaka pada saat itu.

“Iya, semoga diberi ketabahan. Dan maaf, jika ingin masuk, silahkan masuk melihat keadaan Sang He.” Ucap dokter padaku secara tiba-tiba. Segera aku masuk ke dalam ruangan Sang He, disampingnya terdapat tabung oksigen, infuse, dan pengukur detak jantung. Kau tahu apa? Itu berarti, Sang He.. sudahlah, aku sedih mengingatnya. Fikirkanlah kedepan.

“Sang He, kau dengar aku.” Aku menatap Sang He yang terdiam, matanya tak tertutup. Matanya hanya melihat ke satu arah saja, mata yang dulu kulihat indah saat menatapku. Kini.. Ia. “Sang He. Ini aku Jinyoung.” Segera ku pegang tangan dinginnya.

Ah, apa ini Jinyoung? Apa mungkin Appa? Tangannya besar.” Jawabnya sambil tertawa kecil. Aku sangat salut, ia masih bisa tertawa walaupun keadaannya seperti ini.

“Aku, Jinyoung.. kau yakin baik baik saja?” Tanyaku pelan. Tapi, ia tidak menjawab. Ah, yaampun. Aku lupa.

Akupun segera  menarik lembut tangannya dan menulis huruf-huruf di telapak tangannya. Aku menulis. “Iya, ini aku Jinyoung, apa kau baik baik saja?”

“Iya, aku baik baik saja. Bahkan sangat baik hehe. Kau pintar, menulis huruf di telapak tanganku, kau kira, telapak tanganku ini kertas? Haha.” Jawabnya dengan tertawa. Aku tidak bisa percaya tawaannya itu. Pasti, Ia sangat.. sakit.

Kutulis lagi dengan “Iya, tanganmu ini kertas. Kau ingin makan? Sudah disiapkan bubur, lalu minum obat ya.”

“Hmm.. baik, aku sudah lapar.” Katanya dengan senyum yang menurutku terpaksa.

Aku suapi Sang He. Walaupun aku disampingnya, tatapan matanya hanya kedepan saja. Tapi, ekspresinya sangat baik. Tidak berubah, kau.. tetaplah Sang He. Perempuan yang kucintai sampai sekarang. Walaupun Tuhan mengambil kedua indera berhargamu itu.

“Jinyoung, aku sudah kenyang. Aku ingin tidur.” Katanya memohon manja.

Segera kutulis ditangannya. “Baik, aku keluar dulu.”

Segera aku meninggalkan tempat tidurnya yang penuh dengan peralatan aneh itu.

Sang He mengunci gerakanku. Ia memegang erat tanganku yang ingin pergi darinya. “Jangan pergi Jinyoung, tetaplah disini. Aku tidak bisa tidur jika tidak ada kamu.” Ia memohon dengan raut wajah memohon. Jantungku berdegup begitu keras, mendengar ucapan terakhirnya.

“Iya, aku akan menemanimu.” Tulisku lembut ditangannya.

Segera aku tertidur disampingnya.  Rasanya pedih, tapi.. aku akan bertahan, karena Sang He tampaknya kuat menjalani cobaan hidup ini. Aku tidak bisa tertidur. Tiba-tiba saja. terdengar suara. Apa? Sang He berbicara sendiri, tapi matanya sedang tertutup. Apa mungkin Ia  bermimpi dan mengigau? Lebih baik kudengarkan.

“Tuhan, kenapa kau masih memberikanku hidup.. sekarang beberapa indraku sudah tidak berfungsi. Jika sudah begini, lebih baik Kau membiarkan ku mati. Ini lebih baik, daripada aku harus merasakan penderitaan orang-orang disekelilingku yang manangis karenaku, seperi Eomma, Appa, dan Jinyoung. Aku tidak mau merepotkan mereka Tuhan.”

Ya ampun, Sang He. Ia mengigau seperti itu, rasanya sangat sakit. Air mata ini ingin jatuh. Saat itu juga, aku tak kuat, dan menangis. Sang He, kau .. mengapa bisa berbicara seperti itu? Tak kuat menahan air mata ini, aku segera keluar dari kamar itu. Berlari ke balkon rumah sakit, dengan wajah memerah dilumuri air mata pedih ini.

“Kenapa harus Sang He yang mendapatkan cobaan ini Tuhan?! Kenapa TIDAK AKU SAJA?! Jika perlu, kau ambil saja NYAWAKU ini! Aku RELA!” Teriakku keras, aku sudah tidak kuat! Amarahku ingin kukeluarkan semuanya.

“AAA!! Tuhan TIDAK ADIL!” Teriakku membuang semua amarah dan penyesalan ini.

Redamkan amarahku, dan segera turun kebawah dan kembali ke kamar Sang He. Terlihat Sang He sudah terbangun. “Jinyoung, kau kah itu?” Tanya Sang He.

“Iya, ini aku.” Tulisku ditangannya.

”Aku mencarimu, walaupun hanya meraba-raba tempat tidur ini. Saatku terbangun, kau sudah tidak ada di sampingku. Kenapa denganmu?” Tanya Sang He lembut,  tangannya langsung memegang wajahku yang basah.

“Jinyoung, wajahmu basah, kau habis menangis?” Tanya Sang He dengan raut wajah yang sedih. Aku tidak ingin Ia beredih lagi.

“Tidak.” Kutulis di telapak tangannya. Tanganku berketar tak kuasa. Tapi, aku sudah tidak bisa menahan lagi. Air mataku terus keluar. Sampai-sampai, jatuh di atas tangan Sang He.

“Jinyoung, kau .. kenapa menangis? Jangan menangis. Aku baik-baik saja. Lihat, aku sangat baik.” kata Sang He menghiburku. Tapi, tetap saja, aku tidak bisa menahan tangis ini. Sang He mengelus pipiku, dan berkata “jangan menangis.” Hatiku tarasa sakit. Didalam fikiranku terus terniang, bahwa akulah penyebab kecelakaan Sang He. Karena aku sudah mengajaknya pergi waktu itu.

Mianhae..

SANG HE..

Jinyoung POV end

Sang He POV

Aku harus mengikhlaskan dua  inderaku ini. Walaupun indera pendengarku tidak  tuli total dan terasa indera peraba ku semakin peka terhadap sesuatu, tulisan Jinyoung ditanganku terus terasa. Walaupun kondisiku seperti ini, aku tidak mau orang lain tahu aku sesakit ini. Khususnya, Jinyoung.

Akhirnya sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Jinyoung selalu menemaniku. Telingaku sudah dipasang alat bantu pendengar. Indera pendengarku cukup membaik dan sangat terbantu oleh alat ini. Dan, kuliah? Sepertinya aku menunda kuliah dulu. Karena keadaanku yang seperti ini. Atau mungkin, aku memang tidak akan melanjutkan kuliah.  Aku seperti layaknya orang mati. Tapi, Eomma dan Appa selalu menyemangatiku. Syukurlah, aku tidak menjadi benar benar gila, ini karena dukungan orang orang terdekat. Gomawo..

“Sang He,appa menyewa seorang dokpsikolog. Ia bisa membantumu untuk terapi pendengaranmu, dan memeriksa rutin kesehatanmu.” Kata Appa kepadaku.

“Wah, benarkah? Gomawo Appa.” Ucapku senang.

“Iya, dia akan datang sebentar lagi. Eomma dan Appa harap, kalian bisa lebih akrab. Umurnya tidak jauh denganmu kok. Sengaja Eomma memilihnya, supaya kau bisa nyaman dengannya.” Jelas Eomma.

Gomawo Appa, Eomma.. saranghae.” Kataku senang. Akhirnya, aku bisa menjalani terapi ini.  Aku hanya bisa berbicara, dan meraba.. aku tidak bisa melihata dan mendengar dengan jelas, tapi aku senang dan bangga.

TING TONG.

Bel rumah berbunyi, pasti itu orang yang akan menerapiku untuk beberapa bulan kedean. Aku sudah penasaran dengan wajahnya. Apakah dia tampan? Cantik? Lembut? Sombong? Sudahlah, percuma saja, aku tidak bisa melihatnya.

“Silahkan duduk.” Salam ramah suara Appa.

Ne, Gamsahamnida.” Jawab dokpsikolog itu. Suaranya, suara namja. ya, mungkin dia Dokter yang tampan.

“Ini, perkenalkan, Sang He, anak kami. Sang He, ayo beri salam pada Oppa-mu ini.” Ajak Appa memanggilku. Apa? Oppa? Mungkin..

Annyeong, salam kenal aku Sang He.Maaf jika aku tidak bisa mendengar dengan baik dan melihat mu. Tapi, sepertinya kau orang yang ramah. Senang berkenalan denganmu.” Salamku menyodorkan tangan, dengan raut wajah ceria, tetapi tatapan mataku hanya lurus kedepan.

“Annyeong. Salam kenal juga, aku Gong Chan Shik. Panggil saja Gongchan. Terimakasih atas pujianmu. Mungkin kita bisa lebih mengenal sesama pasien dan dokter nanti. Gomawo Sang He.” Jawabnya membalas salam tanganku. Sepertinya dia memang berbeda dari namja lainnya. Aku sudah bisa merasakan hal yang berbeda. Hatiku makin berdegup kencang saat ia memegang tanganku, aku bisa merasakan rabaan tangannya.

Sepertinya Gongchan akan menjadi namja atau lebih tepatnya dokter yang bisa menjagaku, tidak sebagai seorang  ‘Dokter’ saja. Dan, Jinyoung.. dia tetap menjadi sahabat tercintaku. Walaupun mata ini buta. Tapi, hatiku tidak sebuta yang orang perkirakan. Aku juga ingin mencintai seseorang sebagai sepasang kekasih.

Sang He POV end

Gongchan POV

Sebagai dokter dan psikolog  muda. Aku harus bisa memberikan yang terbaik untuk pasien ku. Tidak peduli masalah, umur dan, status. Kali ini, aku mendapatkan pasien yang cukup berat. Ia Buta, dan Tuli diumurnya yang masih belia ini, tak jauh denganku, hanya berbeda beberapa bulan. Tapi, ia sudah harus diberi cobaan seperti ini. Untungnya, ia tidak depresi dan gila. Di awal pertemuanku, sepertinya ia orang yang sangat tegar. Sebagai psikolog, aku juga sudah bisa membaca keadaannya. Ia memancarkan aura kesenangan, seakan akan tidak terjadi apa-apa. Tapi, kenyataan sangat bertolak belakang dengan karakternya yang periang. Gadis yang menarik..

Aku sangat tidak sanggup melihat kedua orang tuanya yang pedih melihat Sang He selalu ‘begini’ dalam artian, ia selalu ceria dan sangat tegar, membuat orang orang disekitarnya seperti terangsang dan terus berusaha seperti nya. Seumur-umur, baru pertama kali kulihat adanya gadis setegar ini.

Setelah berbincang-bincang, aku segera menghampiri Sang He. Aku ingin lebih tahu keadaan fisik dan psikis nya.

Kupegang pundaknya, sepertinya ia sedang melamun.

“Sang He.” Sapaku lirih.

“Ini.. siapa? Gongchan Oppa? Appa? Jinyoung?” Tanyanya dengan senyuman manis. Tangannya meraba tanganku yang sedang berada dipundaknya.

“Ini aku, Gongchan.. apakau dengar?” Bisikku pelan mendekati telinganya.

Ne, Gongchan Oppa silahkan duduk.” Tawar Sang He sambil menepuk bangku kosong disebelahnya.

Gomawo. Sedang apakau? Disini dingin. Habis hujan begini, lebih baik minum coklat panas. Bukankah enak?” Tawarku. Kutatapi mata coklatnya. Kuperhatikan lekuk bibir mungilnya. Tapi, entah mengapa, ketika melihat Sang He semangat hidupku makin bertambah, dan memang benar-benar seperti tidak ada masalah.

“Haha, kau bisa saja Oppa. Tapi, aku belum terlalu kenal denganmu. Aku penasaran dengan wajah mu Oppa.” Sahut Sang He, tangannya memegang pipiku ini. Matanya memancarkan tatapan penasaran yang kosong.

“Kau bisa lihat aku, kau bisa melihatku dengan hatimu Sang He.” Jawabku sambil menunjuk tepat ke hati nya.

“Benarkah? Mungkin bisa begitu Appa.” Sang He terus memegangi pipiku, ia tampak penasaran.

“Aku yakin kau pasti bisa. Dan, kau tidak usah memanggilku Gongchan Oppa. Panggil saja Gongchan. Aku tidak setua itu.” Sautku dengan melepas lembut tangan Sang He dari pipiku.

“Ok. Gongchan Oppa. Eh, maksud ku Gongchan.”  Jawabnya lirih.

Aku selalu mengatakan bahwa,  beginilah pekerjaan sebagai Psikolog. Kita tidak bisa memilih-milih. Aku menyukai ini. Tidak ada kata ‘lebih’ ini hanya pekerjaan antara Dokter dan Pasiennya. Seperti bunga dan lebah, yang selalu bekerja sama dalam keseimbangan rantai makanan. Sama seperti manusia. Tidak jauh.

Jika dilihat baik baik. Sang He memang cantik, hanya dia kekurangan di indranya saja. Aku yakin, semua wanita itu cantik. Yang membedakan hanyalah HATI nya saja. Jangan merasa dirimu itu jelek, karena, sejelek-jeleknya dirimu, tersimpan KECANTIKAN yang orang lain tidak memilikinya. Aku salut dengan Sang He, dia sangat ‘Cantik’ aku menyukainya.

Gongchan POV end

Sang He POV

Hembusan angin membawa suara Gongchan memasuki telinga tuli ini. Aku bisa mendengar suaranya meskipun samar. Dia memang dokter yang baik dan ramah, perasaan ini memang tidak bisa ditahan. Tapi, pasti Ia hanya berfikir bahwa ini hanyalah bisnis. Dan perlakuan timbal balik sesama pasien dan dokter. Mungkin perasaan ini tidak akan pernah tersampaikan.

Eomma dan Appa meninggalkan ku dirumah bersama pembantu. Sebenarnya aku ingin dirawat oleh Eomma dan Appa. Sangat ingin, tapi.. demi membiayai dan mengobati diriku, mereka rela membanting tulang. Setiap minggunya hanya pulang satu kali dalam beberapa minggu. Aku selalu merindukan saat-saat bersama, tapi.. saat itu hancur karena kecelakaan ini.

GREP !

“Hei ! Siapa yang memelukku begini?!” reflex aku berteriak. Siapa yang melakukan back hug? Mana mungkin Gongchan.

“Sang He,  aku kangen..” Ucap suara pemuda itu. Suara nya tidak asing.

Huh, ternyata kau Jinyoung!! Aku sangat kaget!” Teriakku memegangi tangannya yang melingkar di pinggangku.

“Jinyoung, aku ingin memberitahu mu sesuatu.” Kataku bahagia. “Apa itu? Tell me!” Ucap Jinyoung tidak sabar. Ia pun membalikkan tubuhku.

Hmm.. Appa mengundang seorang dokter. Ia akan menerapiku untuk beberapa bulan kedepan.” Ucapku senang.

“Wahh, bagus itu! Chukkaee Sang He! Hwaiting!” Jinyoung memberiku selamat. Dan memelukku erat.“Gomawo.” hanya kata itu yang bisa kuucapkan. Jinyoung, kau masih belum bisa mengerti ucapanku?

TING TONG!

Belu rumah berbunyi. Itu pasti Gongchan datang. “Annyeong Sang He. Kau ada dimana? Hari ini kita akan terapi.” Suara Gongchan terdengar semakin dekat menuju tempatku dan Jinyoung.

“Sang.. He..” Suara Gongchan terdengar pelan dan kaget. Memangnya, ada apa? Mungkin, Gongchan belum tahu sosok Jinyoung.

“Gongchan, silahkan masuk.” Jawabku dengan seyuman terpaksa. Langsung ku lepaskan pelukan Jinyoung yang erat ini. Maaf, Jinyoung. Tapi, aku tidak mau Gongchan melihatku seperti itu. “Wah, apa namja ini pacarmu?” Tanya Gongchan. Apa, Ia sudah melihatnya? Yaampun.

Ani.. dia hanya sahabat kecilku. Kami sudah seperti saudara.” Jawabku menjelaskan keadaan. Jangan sampai ada kesalah pahaman. “Ohh begitu..” jawab Gongchan singkat.

“Yasudah, ayo. Jinyoung, kau tunggu disini sejenak. Aku ingin terapi sebentar.” Kataku dengan ramah. Segera ku tinggal jinyoung sendirian. Kuharap, Ia mengerti. Bukan maksudku begitu.

Ne..” Jawab Jinyoung, yang terdengar.. berbeda.

Mengingat perkataan Gongchan. Aku sangat malu sekali. Hampir saja. Mana mungkin kita pacaran. Jinyoung adalah Sahabat kecilku. Dia tidak seharusnya sebagai pacar. aku lebih menyukainya sebagai sahabat. “Gongchan, jangan terlalu difikirkan yang tadi itu,” Kataku malu.

Gwaenchana.. aku hanya bertanya saja.” Potong Gongchan sambil memeriksa telingaku.

Tangannya, sangat cekatan memeriksa mata dan telingaku. Hangat dan besar. Ya, dia memang dokter yang baik. Walaupun kami seumuran, kurasa Ia lebih dewasa. Aku sangat senang. Aku adalah perempuan dengan kekurangan,yang sangat beruntung.

Aku jadi tidak enak dengan Jinyoung bagaimana perasaannya sekarang? Mianhae Jinyoung. Aku ini memang benar-benar sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi ketika itu. kuharap kau bisa menjadi sahabat yang baik. Kau tahu perasaanku sekarang, aku tidak mau kau salah sangka.

Sang He POV end

Jinyoung POV

Sudah lama aku tidak bertemu dengan Sang He karena jadwal kuliah yang padat ini. Sesekalinya aku sempat bertemu aku diperlakukan seperti itu? apa maksud nya? Seketika dokter itu datang. Sifat Sang He menjadi berubah 180 derajat. Aku tidak tahu kenapa. Tapi, apa mungkin, Sang He menyukai Gongchan? TIDAK! itu TIDAK boleh terjadi! ini sama saja, harapan ku telah pupus! 10 Tahun aku mencintainya, tapi.. hanya jadi begini. Setiap ku ingin menyatakan cinta, mengapa selalu ada halangan yang terjadi? Tuhan! kau sangat tidak adil!

Apa maksud dari ucapannya? HANYA TEMAN? SAHABAT KECIL? Itu hanya membuatku makin sakit Sang He, tolong dengarkan jeritan hati ini. Aku sudah menunggu mu, disampingmu, menemanimu, membantumu. Tapi kau hanya membalasnya dengan.. ‘Terimakasih SAHABAT’

Cukup sudah penderitaanku, tidak sengaja. Aku melihat Sang He sedang menjalani terapi bersama dokter itu. Kelihatannya memang benar, Sang He menyukai dokter itu. Dokter itu juga menanggapi dengan ramah.

Pintu ruangan itu terbuka, ku intip mereka keluar dari kamar itu. “Sang He, terus minum obat herbal ini secara rutin ya.” Dokter itu memberi sebungkus obat pada Sang He.

“Ne, Gomawo” Jawab Sang He ramah. Tanpa ragu, Ia menerimanya. Senyumannya, berbeda dari biasanya. Dan..

GREPP..

Terlihat, Sang He memeluk Gongchan. Hatiku hancur berkeping-keping. Baru kali ini kulihat Sang He berpelukan dengan namja selain aku dan Appa-nya. Ya Tuhan, hatiku tergores pisau tajam. Pedih sekali.

“Sang He, sudah.. sekarang aku pergi dulu ya.” Jawab Dokter itu melepas pelukan Sang He.

“Dan, aku ingin memberitahumu, walaupun aku terasa berat mengatakan ini kepadamu. Dua bulan lagi aku akan meneruskan study ku ke luar negri. Jadi, aku harus meninggalkanmu cepat atau lambat. Mungkin jika Tuhan mentakdirkan kita bertemu yang kedua kalinya aku tetap menyambutmu dengan ramah. Jeongmal mianhae.” Kata Gongchan menambah perkataannya tadi. Gongchan, nama Dokter itu. Setahuku..

“A..apaa.. yang kau katakana Gongchan? Kau pasti bercanda ‘kan?” Tanya Sang He terbata-bata. Aku yakin, Ia sangat terpukul.

Ne, aku serius Sang He, mianhae. Aku akan selalu mengingatmu, walaupun aku berada jauh denganmu.” Lirih Gongchan menatap dalam Sang He, sebenarnya, aku tidak mengetahui arti tatapan itu, dokpsikolog ini memang sangat berwibawa dan cerdas. Walaupun Ia masih muda, aku sangat salut dengan nya.

Ne, gwaenchana dan.. aku ucapkan gomawo Gongchaannn! Walaupun aku tidak bisa melihat tampang mu, tapi hatiku bisa melihatnya.” Teriak Sang He menahan raut wajah sedihnya itu. Dokter itu pergi meninggalkan Sang He. Tak tega melihat Sang He yan terdiam dan menangis. Aku tidak sanggup melihatnya, ia sudah sangat sakit.

Aku tidak bisa membantunya untuk saat ini, kuharap Ia bisa menyelesaikan masalah cintanya sendiri. Akupun langsung pergi menjauhi Sang He. Tiba-tiba terdengar suara tongkat Sang He. Tapi, sepertinya Ia kesusahan. Mungkin krena rumah ini terlalu besar.

“Jin.. ahh..” Sang He?  Suara Sang he terpotong.

GREPP !!!

Dengan cepat, aku menggendongnya. Semoga, tidak terjadi apa-apa dengannya.

“SANG HE !!” Teriakku panik sambil menggendong Sang He kedalam kamarnya. Sial, dimana orang-orang? Dirumah sebesar ini. Yaampun, pembantu tadi sedang keluar rumah! Orang tua Sang He sibuk berkerja. Terpaksa, aku harus merawatnya sendiri. kubaringkan Sang He di tempat tidur nya, memberinya selimut, dan.. duduk disebelahnya.

Ku pegang pipinya, dan keningnya, hangat. Mungkin dia memang kurang sehat. Semenjak kecelakaan itu, ia menjadi sangat kurus.

“Sang He, mengapa kau sangat sulit untuk menjadi real my girlfriend. Apakau menyukai Gongchan? Dokter itu?” Kataku berbicara sendirian. Seperti orang gila saja. Ku belai lembut rambutnya. Rasanya ingin menangis, tapi. Laki-laki macam apa aku?  Cengeng sekali.

Saat ku memberi kompres di keningnya, tak tahu apa yang sedang merasukiku. Sejenak ku terdiam. Sang He sangat manis jika Ia sedang tidur, atau bisa dibilang, Pingsan. Dan, kau tahu, itu membuatku ingin menciumnya.

Sekarang fikiranku terus dipenuhi untung melakukan ‘HIDE KISS’ ya, ini memang sangat lucu. Tapi, aku tidak bisa menahannya. Ya Tuhan, setan apa yang sedang datang ke dalam otakku sekarang? Sudahlah, aku tidak peduli lagi sekarang. Segera kudekatkan bibirku dengan bibirnya, tapi..

“Gongchan, Gongchan.. apakau bisa mendengar ku? Aku menyukaimu.. mengapa saat aku jatuh cinta padamu, kau harus pergi meninggalkanku? mengapa?” Tiba-tiba saja Sang He berkata seperti itu. Aku tidak tahu apa yang sedang ia impikan sekarang. Yang jelas, aku sangat SHOCK!

Bagaimana bisa Sang He mengucapkan itu? Disaat seperti ini. Selagi aku ingin melakukan ‘Hide Kiss’? Ya Tuhan, memang benar, apakah aku sudah ditakdirkan untuk tidak bisa bersama Sang He? Terpaksa, aku harus mengurungkan niatku yang gila itu. Aku harus menghapus semua nya. Tapi, semakin dihapus, bayangan Sang He semakin teringat. Dimanapun dan kapanpun Ia selalu menghantui pikiranku.

Baiklah, bukalah lembar baru Jinyoung. Daripada kaget dengan alasan gila ini, lebih baik aku menelfon dokter.. dokter? Dokter Gongchan itukah? Ah, yasudah, aku sekarang tidak bisa memilih. Dari pada Sang He terus kesakitan seperti ini. Dengan cepat kucari buku telefon rumah Sang He. Baiklah, dengan berat hati kutelefon Dokter itu.

Yeoboseyo.”  salamku. “Yeoboseyo, iya. Dengan siapa ini?” Tanyanya cepat.

“Saya teman Sang He, Ia Jatuh pingsan. Kumohon dokter segera datang kesini. Karena orang tua Sang He sedang tidak ada dirumah.” Jelasku.

“Baiklah kalau begitu. Tunggu disitu! Jangan kemana-mana. Saya segera datang.” Ucapnya bergegas.

“Ne, saya tunggu segera !” Kataku sambil menutup telefon. Dan, sekarang, aku harus menjaga Sang He yang sedang Pingsan. Tapi, dia sempat ngelindur. Mungkin Ia memang sangat capek. Kududuk disamping Sang He, sambil memegang tangannya yang dingin. kapan Dokter itu sampai ‘sih?

TING TONG..

Itu pasti Gongchan. aku segera membukakan pintu. “Oh, kau, dimana Sang He?” Tanya dokter itu dengan terges-gesa.

“D..dia.. di kamarnya.” Jawabku terbata bata. Aku sangat kaget mendengarnya.

Sepertinya dokter ini memang sangat mengkhawatirkan Sang He. Kali ini pun, aku harus mengalah yang kesekian kalinya. Tuhan, berilah kesabaran padaku. Kutunggu Gongchan memeriksa Sang He. Dan, akhirnya ia keluar.

“Dok, bagaimana?” Tanyaku khawatir. “Sang He..” Jawab Dokter dengan khawatir.

“APA? Beri tahu padaku !” Teriakku.

“Dia terkena gagal ginjal. Karena akhir akhir ini sering pusing dan pingsan, ginjalnya sudah tidak  berkerja dengan benar. Darahnya juga sudah kotor, ia harus sering cuci darah. Dan, jalan terakhir adalah. Cangkok ginjal.” Jelas Dokter itu. Aku, tidak bisa menerima kenyataan ini.

“Ap..pa-a..”

Seperti manusia lemah, aku jatuh. Seperti tidak bisa menerima kenyataan ini.. kumohon berilah aku kekuatan ya Tuhan. Aku harus bagaimana? Buyar semua pikiranku, aku harus menghubungi orang tua Sang He, dan merawatnya. Aku bersedia jika aku harus mendonorkan kornea dan ginjal ini, demi Sang He. Karena kau harus tahu, hanya AKU lah yang PALING peduli dengan mu, hanya AKU lah yang paling TAHU dirimu Sang He, tapi kau hanya menganggap ini semua hanya masalah KECIL.

Segera kuberitahu orang tua Sang He yang sedang keluar negri demi pekerjaan, untunglah, mereka akan segera pulang. Semoga dikuatkan hati mereka. Aku harus mengurus Sang He, walaupun, menurutku kian hari makin parah penyakitnya, setiap hari kuantar Sang He cuci darah, terapi, dan pemberian obat. Seperti biasa setiap Dokter Gongchan itu datang, pandangan Sang He kepadaku terus berubah, hari demi hari. Aku terus bersabar sampai saat itu tiba. Cepat atau lambat, kau. Akan tahu betapa besar cintaku ini..

NEVER GIVE UP MY Sang He..

Jinyoung POV End.

Tuhan..
Jika aku boleh memohon kepadaMu
Akankah Kau sudi untuk mengabulkannya?

Alasan kuucapkan ini tidak rumit
Hanya karena..
Aku sangat mencintainya..

Tuhan..
Aku hanya ingin
Tolong beri tahu dia..

Aku sangat mencintainya
Genggamlah tanganku
Sampai waktu dimana aku tiada..

sampai Jumpa..
Cepat atau lambat
Kita akan bertemu lagi
Di kehidupan berikutnya

(via)

Sang He POV

Setelah kejadian pingsan itu, kian hari penyakitku semakin parah, aku sering pingsan, dan pusing. Memang, aku ini sudah ditakdirkan untuk Mati saja. Aku tidak tahu apa penyakitku ini, kata Jinyoung ini hanya penyakit ringan biasa. Tapi, ucapan Appa dan Eomma selalu kuingat, walaupun mereka jauh, tapi aku tetap merasakan kehadirannya. Jinyoung selalu mengurusiku, Gongchan.. pasangan masa depanku, tapi aku tidak tahu akan bisa mendapatkannya atau tidak. Hati ini sangat sakit ketika mengingan ucapan Gongchan tentang itu.

Sebentar lagi Appa dan Eomma akan datang. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu mereka. Sudah dua bulan aku ditinggal keluar negri dan tidak mengajakku. Awas saja! Perasaanku berubah drastis, aku harus bisa memperlihatkan wajah senang pada mereka.

TING TONG!

Bel rumah berbunyi, itu pasti orang tuaku sudah datang, segera aku berusaha mencari sumber suara itu, walau aku sangat kurang mendengar dan tidak bisa melihat. Aku akan tetap berusaha!

“Hmm.. Dimanaa pintunya? Sebentaar Eomma Appaa! Aku segera datang!” Teriakku keras sambil meraba raba sekeliling. Mungkin, setidaknya aku akan segera sampai kedepan pintu.

Sayangnya, kaki ku tersandung! Aku akan jatuh, tidak ada yang menolongku sekarang.

GREPP..

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Jinyoung sambil menyanggahku, lagi-lagi, iya menolongku. Sebenarnya aku segan kepadanya. seperti anak kecil. Tapi, Aku sangat menyayanginya sebagai sahabat.  Ia menggendongku ala Bridal Wedding, dan menurunkanku tepat di depan pintu masuk.

“Annyeongg Sang He!” Teriak Eomma, Appa. Aku hanya tertegun dan tersenyum. Aku tidak bisa melihat raut wajah mereka. Aku hanya ingat raut wajah mereka sebelum kecelakaan itu saja. Aku cukup senang.

“Hai, Eomma, Appa. Bagaimana pekerjaanmu?” Tanyaku dengan tersenyum manis.

“Baik-baik saja. Dan.. ada Jinyoung? Wahh, jeongmal gomawoyo, kau sudah bersedia untuk merawat anak kami.” Kata Eomma senang.

“Ne. Gwaenchana, aku sudah berusaha sebaik mungkin.” Jinyoung hanya menjawab dengan malu.

“Kalau begitu, yuk masuk Eomma dan Appa.” Ajakku senang. Akhirnya, aku bisa bertemu dan berkumpul dengan Orang Tua-ku, aku sangat merindukan saat-saat seperti ini. Dan, ditemani Jinyoung. Aku sangat berterimakasih sudah dirawat nya, aku merasa sangat merepotkannya.

Di ruang tamu, aku segera berbincang-bincang dengan Eomma dan Appa. Jinyoung-pun ikut mengobrol.

“Sang He, apakau sudah baikan?” Tanya appa membuka pembicaraan.

“Hmm.. baik, sangat baik hehe.” Jawabku. Walaupun ini adalah kebohongan besar. Tapi, aku tidak mau Eomma dan Appa merasa sedih karena ku. Terpaksa, aku melakukan ‘kebohongan manis’ ini.

“Syukurlaah, tampaknya juga kau sudah terlihat dan gembira.” Saut Appa sambil mengelus kepalaku. Syukurlah, Appa tidak memusingkanku. Jika aku boleh jujur, aku sangat sakit. Setiap hari aku pusing dan jatuh pingsan, seringkali aku mimisan. Semoga Tuhan memaafkan ‘kebohongan’ ini..

“Oh ya, aku sangat berterimakasih padamu Jinyoung. Kau sudah mau meluangkan sebagian waktumu untuk merawat Sang He. Eomma dan Appa sangat berterimakasih padamu.” Ucap Eomma.

Ne, cheonma. Yang penting sekarang Sang He sudah baik baik saja.”  Jawab Jinyoung, tangan panjangnya merangkul pundakku, dan aku hanya bisa tersenyum malu.

DEGG..

Tiba tiba saja aku pusing dan rasanya ingin pingsan. Aku pegangi kepalaku ini, mataku sudah berkunang, rasanya ingin mati aja. Tapi aku harus kuat, aku takut Eomma dan Appa melihatku kesakitan.

Tak kusadari, darah menetes dari hidungku. Sekarang aku sudah tidak bisa menutupi kesakitanku. Aku mimisan, kenapa harus disaat seperti ini? Penyakitku sudah tidak bisa di tahan lagi.

“Sang He! Kau, kau kenapaa?” Teriak Jinyoung memegang kedua pipiku. “Tidak, ini hanya darah saja.” kataku menutupi sakitku ini.

“SANG HE?” teriak eomma dan appa. Aku tidak ingin mereka se-khawatir ini. Aku, sudah tidak kuat lagi..

Gwaencha..”

Sang He POV end.

Jinyoung POV

Tatapan wajah Sang He sudah menandakan bahwa dirinya itu sedang sakit. Matanya sudah menyipit, bibirnya berwarna kebiruan, wajahnya pucat. Tak disangka, Ia pingsan. Aku sangat kaget, segeralah ku gendong Ia ke kamarnya, dan menelfon Gongchan. Semoga tidak ada yang terjadi apa apa dengan Sang He.

Beberapa lama kemudian. Gongchan akhirnya datang juga, segeralah dia memasuki kamar Sang He. Selagi Gongchan memeriksa, aku dan Orang Tua Sang He menunggu diluar. Hanya bisa berdoa demi kebaikannya.

“Jinyoung, kami tahu Sang He terkena Gagal ginjal. Kami juga sudah mengirimkan uang untuk biaya pengobatan dan cuci darah Sang He. Tapi, sepertinya semakin parah. Kami sangat takut..” Lirih Ahjumma padaku, raut wajahnya mengatakan tidak bisa mempercayai kenyataan ini.

“Sa..ma, saya juga, kata Dokter jika tidak ada jalan lain kita harus transfunsi ginjal, dengan golongan darah yang sama” Ujarku sedih.

“Golongan darah yang sama?” Lirih Ahjumma.

Waeyo Ahjumma?” Tanyaku kebingungan, wajah Ahjumma tampak ingin menangis. Aku tidak sanggup melihatnya, Oppa pun sama, mukanya memancarkan wajah yang sedih.

Eomma, Appa, dan Sang He berbeda jenis Golongan darah.” Lirih Ahjumma sambil menangis.

“APA? Kenapa bisa begitu?” Kataku kaget.

“Iya, Appa bergolongan darah A, eomma B dan Sang He bergolongan darah AB, jika harus melakukan cangkok ginjal, kami saja sudah berbeda golongan darah. Sebenarnya, kami ingin member satu ginjal kami padanya.” Jelas Ahjussi padaku. Dengan tatapan penuh arti, Ia sedih karena anaknya sedang kesulitan mencari donor ginjal.

“Sang He AB? AB adalah golongan darah ku. Aku bisa mentransfer ginjal ku! Ginjal ku sehat, dan semoga saja cocok dengan ginjal Sang He. Jika begini, Sang He akan sehat, darahnya tidak kotor lagi.” Ujarku. Aku melakukan  ini semua demi Sang He. Karena Sang He begini karenaku. Aku memang manusia bodoh, keluarga Sang He terlalu baik padaku. Sehingga aku tidak bisa membalas nya.

“APA? Kau serius? Jangan memaksakan Nak, semuanya pasti ada jalannya.” Tegur Ahjumma padaku.

“Iya, saya sudah memikirkannya Ahjumma, Ahjussi, dan jalan keluarnya adalah, saya harus mencangkokan satu ginjal saya kepada Sang He.” Jawab ku tegas. Mereka Sang He hanya tertegun takbicara. Apa mereka kaget dengan usul gilaku ini? Menurutku, ini tidak gila.

Gongchan keluar, dan itu berarti, Ia akan memberi tahu keadaan Sang He, aku harus siap menerima apapun perkataan Gongchan terhadap Sang He.

“Sepertinya kita harus melakukan operasi cangkok ginjal sekarang, sebelum saya PERGI.” Ucap Gongchan berekspresi serius. “MWO? Apakah harus s..sekarang.?” Tanya Ahjumma menangis. Aku tidak sanggup melihatnya.

Ne, karena darah nya sudah sangat kotor, dan itu akan menjalar menjadi komplikasi. Jalan satu-satunya hanya cangkok ginjal.” jawab Gongchan serius. Aku hanya bisa terdiam. “T..tapi, Dok.” kata Ahjussi terbata-bata. Raut wajahnya sangat khawatir.

“SUDAH! Aku saja yang mencangkokkan ginjalku pada Sang He!” Teriakku tegas. Mau bagaimana lagi, aku sudah tidak kuat melihat Sang He yang terus-menerus mendapat tekanan, sekarang, saatnya aku yang harus membantu keluarga ini.

“APA? Kau bercanda? Ini masalah serius Jinyoung! Kau harus memikirkannya dengan matang !” teriak Ahjussi menegurku.

“Saya sudah memikirkannya dengan matang, bahwa inilah takdir saya. Saya harus menolong Sang He. Lagipula hanya satu ginjal yang diambil, saya masih memilikinya satu lagi.” Ucapku dengan wajah seperti mengikhlaskan segalanya. Kuharap, memang ini yang terbaik.

“Apa kau yakin Jinyoung? Ini adalah operasi besar, kemungkinan kegagalan 50% kau harus benar benar sehat untuk diperiksa fisik mu, dan kecocokan ginjal mu.” Jelas Gongchan kepadaku.

“Ya, aku siap, segeralah cepat siapkan ambulance, dan segera cangkokkan ginjalku.”  Kataku serius. Aku sudah tidak bisa berkata lagi, aku hanya bisa melakukan ini demi kebaikan Sang He. Aku hanya bisa membayarnya dengan Ginjalku ini.

“Jinyoung.. k-kau… tidak usah s..sampai beginii..” Potong Ahjumma sedih.

Gwaenchana, aku sudah banyak merepotkan dikeluarga ini. Sekarang saatnya aku membayar semuanya.” Ucapku.  Tangan Ahjumma memegang lenganku, ia terasa bergemetar.

Jeongmal Gomawo..” Kata Ahjumma pelan, matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis. Aku tidak tahu air mata apa itu. Air mata kebahagiaan, atau ke-khawatiran yang didapatnya.

Ne, gwaenchana.” Hanya bisa kubalas dengan senyum.

Setibanya ambulance dirumah Sang He. Aku hanya terdiam, dan berfikir, apa yang aku rasakan nanti? Apakah aku akan tetap baik-baik saja? Sakit? Atau, Mati? Tapi, hanya ini yang bisa ku lakukan. DEMI SANG HE.

Akupun segera masuk ke Ambulance, didahului dengan Sang He yang sedang pingsan, ia tampak lesu dan seperti orang mati. Semoga Tuhan memberikan tambahan umur, tambahan kesabaran, dan Cinta nya padaku. Fikiranku sudah kacau dan bingung, sekarang aku hanya bisa memikirkan Sang He. Semoga aku bisa mencangkokkan satu ginjalku padaku padanya.

Aku masuk keruangan pemeriksaan, aku hanya tegang, dan menahan haru. Darahku diperiksa, Ginjalku, jantungku, paru paru ku. semuanya diperiksa dengan cekatan.  Gongchan yang memeriksaku, aku sangat kagum dengannya, ia muda, mapan, cerdas, dan tampan. Wanita mana yang tidak tertarik padanya.

Setelah ku tunggu, akhirnya Gongchan keluar. Perasaanku sudah tidak bisa menahannya. Bagaimana jawaban hasil diagnose tadi.

“Hm, Jinyoung..” Ucapnya serius membuka pembicaraan.

Ne? Bagaimana?” kataku penasaran. Orang Tua Sang He hanya terdiam, Ahjussi memeluk Ahjumma yang menangis. Sungguh, mereka sangat kuat dan tabah.

“Kau.. kau bisa mencangkokkan ginjalmu pada Sang He, disini tertera kau cocok.” kata Gongchan dengan senyum. Aku sangat tidak percaya. Syukurlah, akhirnya aku bisa menolong Sang He, wanita yang ku cintai ini. Memang harus ku tolong, supaya semua orang dan dunia ini tahu, bahwa akulah namja yang paling mencintainya.

“Syukurlaahhh…” ucapku lega. Aku sudah tidak sabar. “Tapi, ada satu syarat yang kau harus ingat. Operasi ini diperkirakan akan berhasil 50% jika tidak, mohon maaf saja, nyawamu melayang.” Ucap Gongchan menasihatiku.

Ne, walaupun itu mati sekalipun! Aku rela.” Kataku tegas. Ucapan itu, apa bisa sebagai pertanda?

“Jinyoung…” Kata Ahjussi padaku. Ia tampak sangat berterimakasih.

Ne, Ahjussi, Ahjumma. Tenanglah, anakmu akan baik-baik saja.” Kataku lembut. Supaya mereka tidak merasa terbebani.

“Yasudah, langsung saja kita mulai operasinya. Jinyoung, segeralah kau ganti baju dan sterilkan tubuhmu. Kita tidak punya banyak waktu. Karena saya harus pergi.” ucap Gongchan terburu-buru.

Mwo? Kau mau pergi? Yang benar saja, Sang He suka padamu, Gongchan. Apakau tidak merasakannya? Bukankah kau juga psikolog?” Bentakku heran, aku sangat kasihan pada Sang He. Walaupun muka Sang He sangat menolak jika di kasihani.

“Hmm.. soal itu, aku memang psikolog, dan aku sudah mengetahui itu sebelum kau tahu. Karena aku sudah bisa membaca nya. Aku dan Sang He hanyalah hubungan antara pasien dan Dokter saja. Jika ia mempunyai perasaan yang kuat dalam hati, atau yang kita sebut CINTA, memang tidak bisa ditahan. Jika Sang He menyukaiku, itu adalah hak Sang He, aku tidak bisa melarangnya. Tapi, perasaan itu tidak bisa dipaksakan, apa lagi di bayar.” jelas Gongchan dengan lancar. Dia memang seperti Dokpsikolog muda yang sangat brilliant.

“T..tapi b..bagaimana dengan Sang..” Ucapku dengan lirih.

“Sang He akan baik baik saja, perasaan nya mudah berubah. Bukannya kau mencintai Sang He? Bagaimana kau lanjutkan saja cerita cintanya dengan mu? Aku yakin kau pasti bisa mendapatkan nya.” Tiba-tiba Gongchan memotong ucapanku dan berkata seperti itu. Ia memang sangat berbakat, dan pandai membaca pikiran seseorang.

“Apa? K..kau tau itu dari mana?” Kataku kebingungan.

“Bukannya Dokpsikolog harus pandai membaca perasaan dan karakter seseorang?” Tanya Gongchan dengan tawaan kecil.“Ne.” Kataku malu.

“Sudahlah, biarkan hidup ini berjalan dengan natural saja.” Jawab Gongchan sambil meninggalkanku sendiri di lorong rumah sakit ini. Ia memang sangat berwibawa, menurutku.

Akhirnya, aku persiapkan diriku. Datang juga waktu dimana aku harus mencangkokkan ginjalku pada Sang He. Waktu dimana moment yang tak akan pernah kulupakan ini. Kata-kata Gongchan terus membayangiku.

Lampu operasi dinyalakan, semua peralatan sudah disiapkan.

“Jinyoung, kau siap?” Kata Gongchan menatapku tajam. “Ne, aku selalu siap.” Kataku sambil tersenyum penuh arti.

“Gongchan, jika aku meninggal nanti, tolong kornea mataku diberikan pada Sang He. Pesanku sekarang hanya ini, kumohon kau tidak ingkar janji. Aku tahu kau orang yang hebat. Tolong jaga baik baik pesanku, sebelum Tuhan memanggilku.” Ucapku lirih. Tidak ada kata-kata apapun untuk menilai ini.

Keluargaku juga sudah tidak mempedulikanku disini, aku bisa bebas melakukan apa saja sesuai kehendakku seperti ini. Aku hanya bisa melakukan ini. Aku harus tabah dan sabar. Semoga Tuhan berbaik hati padaku, dan memberikan akhir yang baik.

“Jinyoung, kau bersungguh-sungguh?” Gongchan bertanya heran. “Tentu aku bersungguh sungguh.” Jawabku pelan. Aku, harus yakin dan percaya.

“Baiklah,  kita mulai operasinya.” Jawab Gongchan keseluruh Dokter yang lain.

Setelah aku mati nanti, kuingin melihat Sang He bahagia. Aku tak ingin melihat tetesan air matanya. Akan ku relakan segalanya. Demi-mu Sang He, ini hanya untukmu.

I WILL DO ANYTHING TO BE WITH YOU.

Terlihat Sang He berbaring lemah disampingku, aku hanya bisa melihatnya. Dan, memegang tangannya yang dingin. Aku yakin, ia masih bisa merasakan kehadiranku. Ku ukir namamu dalam-dalam, supaya, saat aku sudah berada di surga nanti, aku  masih bisa mencintai mu.

‘TILL THE WORLD ENDS’ 

Satu pesan untukmu Sang He, ini adalah pesan dariku, dari hati yang terdalam..

SARANGHAE.. MY SHADOW GIRLFRIEND.. SANG HE…

Jinyoung POV end..

Gongchan POV

Walaupun aku sudah sering melakukan operasi besar seperti ini. Namun, operasi kali ini sangat membuat hatiku tersentuh. Aku tidak menyangka, di dunia yang kejam ini, masih  ada manusia seperti Jinyoung. Ia rela mengorbankan semuanya demi seseorang yang sangat Ia cintai.

Cinta itu misteri. Sangat sulit ditebak. Ia sangat sulit menampakkan diri. Tapi, tanpa kita sadari, cinta itu sudah ada di depan mata kita. Cepat atau lambat, ia menghampiri kita dengan lembut.

Sekarang, aku harus berkonsenterasi dengan operasi ini. Memang, ini sangat berat, baru kali ini kulakukan operasi yang seberat ini. Sebelumnya. Hanyalah operasi biasa. Aku mencoba mengingat bahwa aku sudah berpengalaman.

Bunyi pengukur jantung itu terus berbunyi, seperti batas akhir waktu hidup mereka. Keringatku semakin bercucuran deras. Nafasku juga semakin tidak beraturan, ini memang pantangan besar. Disaat serius begini tiba-tiba saja..

“Dok, sepertinya keadaan Tuan Jinyoung sudah tidak bisa dikatakan kuat lagi, tekanan darahnya turun drastis, jantungnya juga lemah. Tapi, tidak ada jalan lain, karena inilah operasi besar.” Kata salah satu dokter lain padaku.

“Kita harus segera memindahkan ginjalnya. Ayo, lakukan yang terbaik, dan jangan sampai membuat keluarganya menyesal. Karena keluarga mereka adalah keluarga kita juga.” kataku dengan nafas tersenggal.

“Baik.” Kata Dokter yang lain semangat.

PIP PIP PIIP PIIP

Suara alat itu membuatku semakin gemetar.  Aku berharap, operasi ini berjalan lancar. Beberapa menit berlalu, suara alat itu makin lambat, apakah mungkin… TIDAK! jangan berfikiran begitu, aku yakin Jinyoung pasti bisa melewati masa maa kritis ini.

PIP..

Detak jantungnya masih stabil..

PIIIP..

Lambat sedikit, ayolah, aku yakin kau kuat Jinyoung.

PIIIIP…

Yaampun, aku harus mempercepat gerakan operasi ini. Semoga asisten ku yang lain bisa mengerti.

PIP.. PIP..

Syukurlah, stabil kembali detak jantungnya..

“Dok, kita harus segera memotong saluran ini.” Kata salah satu Dokter lain.

“Baiklah, tolong ambilkan gun..”

PIIIIIIIIP……….

DEGGG….

Gerakan dan mulutku spontan terdiam. Bunyi itu.. aku tidak percaya ini, bagaimana ini? Apakah alat itu benar?  Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Dok, bagaimana ini? Ia sudah meninggal, apa kita langsung beritahu keluarga nya saja?” saut salah satu Dokter.

“Tidak, kita lanjutkan saja.” kataku serius.

“T..tapi.. Dok, kita melanjutkan operasi apa?” Kata Dokter itu dengan muka bingung. Sejujurnya aku juga shock. Tapi, sebagai Dokter pemimpin operasi besar ini, aku harus tegas, dan bijaksana. Aku akan melakukan perintah dari Jinyoung.

“Sudah, turuti saja apa kata perintahku.” Kataku tegas. “Baik.” Jawab Dokter lain serentak.

Maaf Sang He, Jinyoung. Aku tidak bisa mengelak takdir ini. Aku sudah berusaha sebaik mungkin demi kalian. Sepertinya, ini adalah takdir Tuhan. Mungkin ada baiknya juga bagi kalian. Setelah operasi ini juga, aku harus segera pergi meneruskan study ku. Sekarang, aku hanya bisa meneruskan ‘pesan’ Jinyoung. Semoga kau bisa merasakan dan mengetahui ini Jinyoung.

Selamat tinggal Jinyoung..

KLEKK.

Pintu ruangan operasi terbuka, dan yang kulihat hanya kedua orang tua Sang He. Aku berjalan keluar ruangan itu sambil mengiringi kasur roda yang berbaringkan seorang mayat. Kata-kata tidak bisa menggambarkan perasaanku sekarang, walaupun mereka ‘hanya’ lah pasien ku. Tapi, Aku sangat salut pada mereka semua.

“Dok, bagaimana? Siapa yang meninggal? Sang He? Jinyoung?” Teriak Ahjumma dengan mata, hidung dan kulit wajah yang memerah. Ia pasti sangat terpukul. Ia sudah terlalu sabar. Aku tidak berkata sepatah katapun, tapi mungkin raut wajahku sudah bisa terbaca.

“Siapa Dok? Boleh kita lihat?” Tanya Ahjussi padaku. Ia terlihat sangat khawatir. “Baik.” Dengan singkat. Ku buka perlahan kain putih itu.

DEGG..

Mata Ahjumma, dan Ahjussi tampak membesar. Menandakan mereka sangat kaget dengan ini. Aku hanya bisa menghela nafas dan memejamkan mata. Aku tidak bisa menyelamatkan Jinyoung. Ini sudah takdir nya, aku sudah melakukan yang terbaik. Hasil ditentukan dari kerja keras dan takdir dari Tuham. Kita tidak bisa menolaknya, kita harus menerima takdir itu walau sepahit apapun takdir itu menimpa kita. Jalan keluarnya hanya satu, tetaplah sabar dan terus berusaha.

Eomma Sang He pingsan begitu saja. Sepertinya ia memang shock, Ia pasti belum bisa melihat kenyataan ini. Ahjussi membantu Ahjumma untuk segera dibawa ke ruang perawatan. Aku hanya bisa memangdang dengan tatapan tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Sekarang, waktunya aku harus melihat Sang He. Dan, segera berangkat meneruskan study ku.

Setelah beberapa jam kemudian, aku pergi keruang perawatan. Aku ingin menengok Ahjumma.

TOK TOK..

“Permisi, apa saya boleh masuk?” Tanyaku berdiri didepan pintu. “Ne, silahkan masuk Dok.” jawab Ahjussi yang terlihat duduk disamping tempat tidur. Langsung saja aku masuk dan segera menanyakan beberapa hal penting ini.

“Bagaimana dengan keadaan ibu?” Tanyaku pada Ahjumma dengan rawut wajah memandang lurus kedepan. Memancarkan tanda kekagetan yang luar biasa, aku sudah bisa membacanya. Bagaimana tidak ia sampai depresi begini. Sepertinya, Jinyoung memang sudah seperti anak kandungnya.

“Baik Dok, ada apa?” jawab Ahjussi. Kali ini bukan Ahjumma yang menjawab, aku yakin Ahjussi juga sedang memikirkan hal yang sama.

Ani, aku hanya ingin memberi tahu saja. Pertama, saya ingin memberitahu kalau, sebelum Jinyoung meninggal ia mengatakan sesuatu.” Ucapku membuka pembicaraan. “Apa itu?” Ahjussi bertanya penasaran.

“Jika Ia meninggal, tolong donorkan kornea matanya pada Sang He. Dan, sekarang Sang He akan segera bisa melihat. Tapi, karena masih sangat baru, hanya butuh beberapa minggu saja, sampai perban itu dilepas, dan Sang He bisa melihat dengan normal.” Jujur, aku tidak sanggup mengatakannya. Tapi, harus bagaimana lagi? Ini sudah takdir.

“Mengapa Jinyoung bisa sampai meninggal Dok? Kenapa?!” Tanya Ahjussi sedikit membentak.

“Karenaa.. detak jantungnya sudah tidak kuat untuk melakukan operasi. Padahal, kita sudah melakukannya dengan cepat dan hati-hati. Kita sudah membantu Jinyoung dengan Dokter-dokter ahli, alat alat canggih, dan obat-obat lainnya. Tapi, kita tetap saja tidak bisa menolongnya. Kami minta maaf yang sebesar-besarnya.”

Aku sangat sedih bila mengingat ini. Aku hanya bisa berdiri dengan paras kebingungan. Sesekali kulihat wajah Ahjumma yang tampak kebingungan. Wajah Ahjussi juga mengkerut.

“S..sang He,. J..Jinyoung..” Tiba-tiba Ahjumma berkata seperti itu, tapi matanya terus lurus kedepan. Tangan dan kakinya kaku. Ia, pasti sangat terpukul.

Eomma..?” Ucap Ahjussi bertanya. “Bagaimana ini?” Tambah Ahjumma.

“Tenang, Sang He baik-baik saja. Sebentar lagi Ia akan menjadi Sang He yang dulu, ceria, dan selalu bisa melihat kita.”Jawab Ahjussi. Tanganya memegang erat tangan Ahjumma. Sungguh, aku sangat terharu.

“Jinyoung?” Tanya Ahjumma.

Sunyi. Aku tidak bisa berkata apa apa. Begitupun Ahjussi. Tatapannya, menyimpan banyak arti.

“Dia sudah tenang.” Ahjussi menangis sambil memegangi tangan Ahjumma. Sepertinya, aku tidak bisa memasuki  bagian ini. Segera saja aku keluar. Air mataku tidak bisa dibendung lagi, terus saja menetes dari kelopak mata ini. Baru kali ini aku melakukan operasi sesedih ini. Esoknya, aku harus segera pergi. Sebelum itu, aku ingin ‘mendatangi’ Jinyoung. mungkin, besok Ia sudah dimakamkan. Setelah itu, menjenguk Sang He. Walaupun ia belum pulih 100% tapi, aku yakin dia bisa merasakannya. Sekarang aku hanya bisa yakin bahwa..

Aku masih bisa merasakan Jinyoung didalam Sang He..

Esoknya…

Tiba juga hari pemakaman Jinyoung, suasananya sangat sederhana. Tidak ada yang istimewa, hanya aku, keluarga Sang He, dan beberapa asisten dokter lainnya. Walaupun begitu, terasa hikmat. Jinyoung, lihat.. keluargamu sudah membabi buta melihatmu. dan Kau tidak boleh putus asa. Buktinya, masih banyak orang yang mencintai dan menyayangimu. Kau harus tahu ini, dan jangan lupa selalu bersyukur.

Setelah pemakaman sepi. Hanya tinggal aku sendiri. Karena, aku ingin ‘berbicara’ dengannya. Segera aku berdiri dan memegangi batu nisannya. Tak lupa kubawakan rangkaian bunga harum. Semoga bisa ‘mengharumi’ mu disana.

“Jinyoung..kau bisa merasakanku? Kau bisa melihatku? Aku hanya ingin bilang. Aku sudah melakukan perintah mu waktu itu. Kuharap kau bisa senang dan tenang disana. Karena, aku yakin Sang He akan tetap baik baik saja. Kau tidak usah khawatir. Dan.. setelah ini aku ingin melanjutkan study ku. Aku sekali lagi minta maaf, tidak bisa menggantikanmu menjaga Sang He, karena aku yakin. Walaupun kau tidak ada. Tapi kau masih bisa membantu Sang He melanjutkan hidupnya. Aku yakin, Sang He masih bisa melihatmu, karena mata nya adalah mata mu. Selamat tinggal Jinyoung, sampai jumpa dikehidupan lain.”

WUUUSSHHHH……..

Angin pemakaman memang sangat menyeramkan. Tapi.. tersimpan makna yang luar biasa. Daun-daun berjatuhan menutupi tanah makam ini, rumput-rumput terus tumbuh liar menutupi makam. Bunga yang terus memancarkan bau harum menyengat nya itu, menambahkan kesan dingin. Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu..

TERIMAKASIHH..

Terdengar samar suara itu. segera ku berdiri dan memandangi langit berwana biru muda itu. Terasa, Jinyoung berkata terimakasih padaku. Aku yakin, dia merasakannya..

“SAMA SAMAA JINYOUNG !!!” teriakku keras menghadap langit. Inilah pengalaman berharga yang belum pernah kudapat sebelumnya. Sangat mengesankan. Aku hanya bisa mengucapkan..

Kita belum berpisah Jinyoung..

Segera aku pergi menemui Sang He. Mungkin, ini adalah pertemuan terakhirku, walaupun ia masih belum bisa sadar sepenuhnya. Ya, aku tetap ingin mengucapkan ‘sampai jumpa’ padanya.

TING TONG..

Kupencet bel rumah Sang He, dan terbukalah pintu “silahkan masuk” kata Ahjumma padaku. Mukanya merah, mungkin ia habis menangis. Tuhan, berilah ketabahan padanya.

Gomawo.. boleh aku bertemu Sang He? Aku ingin berpamitan padanya.” Kataku tersenyum.

Mwo? Kau ingin kemana?” Tanya Ahjumma  kaget.

“Aku ingin pergi keluar negri melanjutkan study ku, maaf jika aku merepotkan, dan membuat kalian merasa tidak nyaman. Jeongmal mianhae untuk semuanya. Aku juga titip salam kepada Ahjussi.” Kataku sambil menundukan kepala. Menahan dan menutupi raut wajah ini.

Gwaenchana.. kau sudah sangat membantu. Sebaliknya, seharusnya saya yang harus berterimakasih. Dan, Sang He sedang ada di taman belakang. Silahkan masuk.” Jawab Ahjumma ramah. “Ne, gomawo.”

Langsung saja aku berjalan menuju taman belakang. Sepertinya ini adalah tempat favorit Sang He. Terlihat dari jauh seorang gadis terduduk rapuh di atas kursi roda, dengan balutan perban membulat dibagian sekitar mata dan pelipisnya. Serta sepasang alat pembantu pendengaran terpasang erat di kedua telinganya. Sungguh anak yang sangat tegar. Segera aku berdiri duduk didepannya.

“Sang He, walaupun kau tidak menyadari keberadaanku. Aku ingin mengucapkan sampai jumpa. Aku harus meneruskan study ku keluar negri. Kau sudah tahu itu, dan yang terpenting. Jeongmal mianhae, aku tidak bisa menemanimu lebih. Dan, aku bangga kepadamu. Kau adalah guru pengalaman terbaikku. Aku sangat berterimakasih padamu. Jika kita ditakdirkan untuk bertemu kembali. Aku ingin kau sudah menemukan pasanganmu. Sekali lagi selamat tinggal.”

Kataku menahan air mata ini, aku hanya bisa memegang tangan Sang he yang dingin. Mukanya tidak memancarkan ekspresi apapun. Ia masih belum sadar sepenuhnya.

Aku tidak bisa melupakan kejadian berharga di taman ini, aku dan Sang He berkenalan dan pertama kali bertemu di Taman belakang ini. Tapi, aku juga tidak mengangka bahwa taman belakang ini juga tempat terakhir bagi kita berpisah.

Sampai jumpa, aku akan selalu mengingat kalian semua..
Sekarang saatnya kita mencari kebahagiaan itu. Karena, kebahagiaan sedang menunggu di depan sana!

Sampai Jumpa..

Gongchan’s POV END

Sang He’s POV

Setelah operasi itu aku mengalami perubahan yang sangat banyak, waktu begitu cepat. Tetapi, kejadian itu terasa lama dan sangat banyak. Sudah dua bulan aku terus begini, setiap hari harus cek ke rumah sakit. Ingatanku juga sudah mulai stabil. Hari ini adalah waktunya aku melepas perban operasi mata dan alat pendengaran ini. Aku juga sagat bersyukur, Jinyoung mau mengorbankan ginjalnya padaku, aku ingin mengucapkan terimakasih banyak padanya. Dan ada yang mau mendonorkan matanya padaku. Ia pasti orang yang sangat baik, andai aku bisa mengucapkan terimakasih langsung padanya.

Anehnya, mengapa Eomma dan Appa belum memberitahu sedikitpun tentang operasi. Dan semenjak itu. Aku tidak merasakan kehadiran Jinyoung, apa Ia sibuk? Sampai-sampai aku tidak terurus. Dan, Mungkin Gongchan sudah pergi meninggalkanku.

“Sang He, ayo sini Eomma bantu kau masuk ke mobil. Appa sudah menunggu. karena sekarang kita akan melepas perbanmu. Dan kau sudah bisa kembali seperti biasa.” Kata Eomma sambil menggandengku.

“Ne, Eomma. Aku sangat senang!” Kataku dengan senyum lebar. Aku masuk dengan perlahan. Dan, aku sudah tidak sabar untuk bisa melihat dunia. Sudah satu tahun lamanya aku tidak melihat jendela dunia ini.

Sesampainya di Rumah Sakit, aku langsung mendapatkan perawatan. Perbanku sedikir demi sedikit dilepas. Aku semakin tidak sabar.

“Iya, sekarang coba buka perlahan-lahan matamu.” Perintah Dokter itu. Aku mencoba maembuka mataku dengan perlahan. Sangat buram. Buram, lumayan. Dan, terlihat jelas Eomma dan Appa duduk tepat di hadapanku. Aku sangat merindukan wajah mereka dan ekspresi mereka!

EOMMA ! APPA ! aku bisa melihat lagi!” Kataku tersenyum bahagia, sampai-sampai aku meneteskan air mata.

“Wahh! Terimakasih Ya Tuhan!” Ucap Appa.

Seketika itu saja Eomma,dan Appa memelukku. Akupun membalas pelukannya. Aku sangat merindukan pelukan seperti ini.

“Tapi, sebelumnya aku ingin tahu.” Kataku menghentikan drama menggembirakan ini. “Apa itu?” Tanya Eomma padaku.

“Sebenarnya, siapa yang mendonorkan mata ini? Aku ingin mengucapkan terimakasih padanya.” Kataku dengan raut wajah memohon.

Hmm…” Eomma sepertinya terlihat tidak ingin member tahuku.

“Siapa Eommaa??” Tanyaku sedikit menekan.

“Itu.. JINYOUNG..” Kata Appa pelan.

“JINYOUNG?? TIDAK MUNGKIN! Sekarang ia bagaimana keadaannya? Sedang apa? Tinggal dimana?” Tanyaku sangat panik. Aku tidak percaya, ternyata selama ini aku menggunakan mata Jinyoung, mana mungkin ia melakukan hal konyol ini? Apa dia ingin hidup buta? Ya Tuhan!

“Sang He, tenang dulu.. Jinyoung.. Jinyoung..” Emma berkata dengan nada yang gugup.

“Beritahu, Eomma!” Bentakku, aku tidak bisa menahan air mata ini, terus saja keluar dari mata ‘Jinyoung’ ini!

“Dia sudah tenang disana…” Kata eomma lemah. Aku sangat terpukul. mata, wajah, dan hidungku langsung memerah. Air mataku terus saja membasahi wajahku. Aku sangat menyesal, aku sudah terlalu banyak membebaninya. Padahal Ia sudah pernah bilang waktu itu, kalau tidak akan menyumbangkan matanya. Karena, Ginjal ini sudah cukup bagiku.

“AAA!! Kenapa harus begini?! Hiks.” Isakku yang tak kuat lagi menerima kenyataan ini.

“Sudah nak. Saat menjalani operasi, jantungnya tidak kuat. Dan.. Ia meninggal dunia, kau harus bersyukur. Jinyoung mengatakan ingin mendonorkan matanya padamu, sebelum ia di operasi. Ia merelakan semuanya demimu nak..” Kata Eomma memelukku.

“T..tapi Eomma.. aku sangat menyesal.. hikss.” Kataku terbata-bata. “Sudahlah, sekarang kita hanya bisa mendoakan Jinyoung tenang di sana.” Ucap Appa menasihatiku.

Appa, antarkan aku pada Jinyoung.” Pintaku lemas.

Ne, kita akan mengantarkanmu.”

Segera aku menuju mobil. Dibantu dengan Eomma dan Appa. Aku masih belum seimbang. Mengapa Tuhan memberikan cobaan sangat berat. Aku sangat menyesal, ternyata selama ini Jinyoung tidak menjengukku karena ini. Aku adalah orang yang sangat memalukan. Jinyoung.. aku sangat menyesal sekarang.. ternyata kau lebih BAIK dari yang ku pikirkan.

Sesampainya di pemakaman, Eomma dan Appa menunjukkan makam Jinyoung padaku. Aku hanya berdiri kaku, air mataku terus jatuh. Membasahi tanah pemakaman Jinyoung yang sudah ditumbuhi rumput-rumput liar. Aku ingin ‘berbicara’ dengan Jinyoung berdua saja..

Eomma, Appa, bisakah kalian tinggalkan sejenak aku dengan Jinyoung? Aku sangat merindukannya.” Ucapku dengan tangisan.

Ne, jika itu maumu putriku.” Kata Appa padaku. Mereka berjalan menjauh dan meninggalkan ku sendirian. Sekarang, aku lebih leluasa berbicara dengan Jinyoung.

Tubuhku begitu saja jatuh. Kaki dan tanganku lemas. Aku hanya memandangi batu nisan Jinyoung dengan wajah yang penuh dengan air mata. Aku tidak bisa mengartikan apa maksud air mata ini. Antara kesedihan, karena Jinyoung sudah pergi meninggalkanku duluan. Penyesalan, karena aku sangat menyesal, aku hanya bisa menjadi beban bagi Jinyoung, Marah, karena Jinyoung seharusnya tidak mendonorkan matanya padaku. Sedih, aku harus kuat ditinggal 2 orang namja yang sangat berjasa, yaitu.. Gongchan, dan Jinyoung. Lalu, aku bahagia, bisa memiliki teman seperti dirimu Jinyoung

Kupegang batu nisan ini, dan aku meraba tanah kering ini, aku hanya bisa bilang..

“Jinyoung, aku tidak bisa berkata apa-apa. Kau sangat jahat padaku. Kau sudah berjanji untuk tidak mendonorkan matamu padaku. Tapi, kenapa kau lakukan ini? Kau sudah mau mendonorkan ginjal mu padaku, aku rasa itu sudah cukup. Aku sangat ingin memukul mu seperti waktu itu, aku ingin kau mengajakku jalan jalan, ingin kau bermain ke rumahku, ingin kau menyapaku, ingin kau makan bersamaku, dan yang terpenting.. INGIN KAU TERUS BERADA DI SAMPING KU! JINYOUNG!! AAA!! Aku sangat bodoh! Maaf tidak bisa membalas perasaanmu. Aku sudah sangat telat Jinyoung. Aku akan menjadi perempuan yang rapuh! Kau pergi meninggalkanku, Gongchan pun begitu!”

Air mataku terus terjatuh, sampai sampai batu nisan itupun ikut terkena dan menjadi basah. Tanah Jinyoung juga terkena air mataku ini. Sungguh, aku tidak bisa menahan air mata ini. Aku hanya bisa mengelus dan memegang batu nisan mu sekarang. Aku harus tegar, dan tabah. Seperti yang Appa dan Eomma bilang padaku.

Pengalaman itu seperti ‘KERANG MUTIARA’ ya, karena.. jika kita ingin sebuah mutiara yang cantik. Kita bisa mendapatkannya dari kerang. Mutiara berawal dari perjuangan Kerang, yang mulutnya tanpa sengaja dimasuki pasir. Ketika pasir itu masuk, Kerang terasa sakit dan perih.  Saking perihnya, ia pun menangis. Tangisan itu sangat berharga. Tangisan itu yang kita sebut MUTIARA. Ya, mutiara yang INDAH itu, berawal dari kejadian yang PERIH terlebih dahulu. Kerang mutiara berbeda dengan kerang kerang lainnya. Mutiara terjual mahal di pasaran. Karena, sangat berat untuk membuat Sebuah MUTIARA yang CANTIK.

Tanamkan sebuah pendirian di hati kecil ini, dan kembangkanlah. Bahwa, aku ini bisa lebih tegardan lebih sabar. Aku yakin, semua pasti ada OBATNYA. Kecuali, KEMATIAN..

“Jinyoung… Jinyoung.. sepertinya, aku masih bisa melihat sosok mu. Kau tahu? Ya, sosokmu. Kau seperti berada di bagian diriku. Mataku ini, adalah MataMU, dan penglihatan ku ini, adalah penglihatan MU. Aku masih bisa merasakanmu, dengan menggunakan penglihatanMU aku masih bisa merasakan kehadiranmu. Jinyoung terimakasih, aku akan mencoba sabar, tegar, dan lebih peduli terhadap sesama. Kau tahu apa? Kau adalah SAHABAT TERBAIKKU SEUMUR HIDUP. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Karena aku adalah KAU”

Aku berkata seperti ini, seolah olah dapat bangkit kembali dari keterpurukan ini.

Sekarang, waktunya memanfaatkan hidup ini. Karena, hidup hanya sebentar. Hidup jangan dirasakan, tapi.. di manfaatkan dengan baik. Dan itu akan terasa menyenangkan. Jangan terlalu difikirkan masalah-masalah yang menimpa. Jalani saja, sebaik yang kamu bisa. Semuanya PASTI ada jalannya, asalkan kita mau berusaha.

WUSSHHH…

Suara desiran angin pemakaman. Yang, terasa sangat nyaman bagiku. Aku, merasakan sesuatu..

‘TERIMAKASIH..’

Tiba tiba terdengar suara itu, sepertinya suara itu aku kenal. Suaranya terus bergema ditelingaku.

SRAAKK..

Suara apa lagi itu? suara sayap? Mana mungkin. Tapi, aku penasaran. Akupun mencoba membalikan badan, dan itu adalah…

JINYOUNG ??!!

“Jinyoung? Kau sangat menakjubkan.” Kataku pelan sambil meneteskan beberapa air mata ini. Tidak menyangka aku bisa melihat sosokmu lagi Jinyoung. Aku sangat rindu padamu, sudah lama kita tidak bermain, bercanda, dan berbincang seperti dulu. Terlihat, Jinyoung berjalan mendekatiku.

“Jinyoung..” kataku lemah. Tangan Jinyoung memegang lembut dagu ku dan mengusap air mataku. Aku sangat bahagia, aku masih bisa diberi kesempatan melihat Jinyoung dengan penampilan yang berbeda, Ia menemuiku dengan sayap indah dan lebarnya.

Terimakasih Sang He, aku akan selalu mencintaimu…

Ucap Jinyoung. sayapnya menutupi dan memelukku hangat. Tangannya mengusap air mataku. Jinyoung, aku sangat mencintaimu. Air mataku sudah tidak bisa dibendung lagi, aku sungguh menyesal. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku akan terus berusaha dalam sisa hidupku. Aku yakin mataku terus bisa melihat mu, darah ini terus mengalir dengan darahmu Jinyoung.

Wajah Jinyoung mendekatiku secara perlahan. Aku hanya bisa duduk kaku dihadapannya. Memandangi wajahnya dalam-dalam. Bibirnya mendekati bibirku dan..

CUP..

Ciuman lembut bibir Jinyoung kepadaku. Air mataku terus mengiringi ciuman singkat itu. Dan itu adalah, ciuman pertama sekaligus terakhir bagiku dengan Jinyoung. Aku sangat bersyukur. Aku masih bisa melihat mu, mengucapkan selamat tinggal dan yang paling berkesan adalah, menerima ciuman lembutmu Jinyoung..

SRAAKKK…

Jinyoung menjauhi wajahnya dari tatapanku. Sayapnya kembali melebar. Dengan indahnya ia menghilang diiringi hembusan angin dan sinar matahari sore ini. Ia menghilang di waktu senja ini, meninggalkan warna langit yang jingga kemerahan. Bunga kemboja yang berjatuhan seolah mengiringi kepergiannya dari hadapanku. Ini adalah kali terakhir aku melihatnya, Bahwa aku akan selalu mengingatmu. Kau, selalu terlihat di mataku. Aliran darahmu selalu mengalir didiriku,

JINYOUNG…

TAMAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s